Wujudkan Gemarikan, Kulon Progo Gelar Lomba Cipta Menu dari Ikan

GEMARIKAN - Sekitar 22 peserta dari berbagai kecamatan di Kulon Progo mengikuti gelar Lomba Cipta Menu dari ikan di halaman Kantor Dinas Kepenak, Selasa (4/4/2015). (Foto: Pemkab Kulon Progo)
GEMARIKAN – Sekitar 22 peserta dari berbagai kecamatan di Kulon Progo mengikuti gelar Lomba Cipta Menu dari ikan di halaman Kantor Dinas Kepenak, Selasa (4/4/2015). (Foto: Pemkab Kulon Progo)

Wates, JOGJADAILY ** Mewujudkan program gemar makan ikan (Gemarikan) yang diluncurkan Pemerintah Pusat, Dinas Kelautan, Perikanan, dan Peternakan (Kepenak) Kulon Progo menggelar program Lomba Cipta Menu dari Ikan.

Dirilis Pemkab Kulon Progo, sekitar 22 peserta dari berbagai kecamatan di Kulon Progo mengikuti gelar Lomba Cipta Menu dari ikan di halaman Kantor Dinas Kepenak, Selasa (4/4/2015).

Selain lomba cipta menu, ada Gerakan Gemar Makan Ikan (Gemarikan) melibatkan siswa SD Negeri Serang, Pengasih. Gemarikan dan lomba cipta menu sengaja dilaksanakan setiap tahun dengan harapan, Sang Juara bisa mewakili Kabupaten Kulon Progo ke Lomba Cipta Menu Tingkat DIY.

Dalam Lomba Cipta Menu kali ini banyak kreasi yang dibuat peserta, misalnya kudapan dan olahan sop ikan lele.

“Jenis ikan yang dilombakan adalah lele dan udang, karena produksi keduanya cukup tinggi. Selain itu, lele adalah ikan yang harganya cukup terjangkau masyarakat, sehingga perlu dimasyarakatkan. Dengan upaya ini, diharapkan masyarakat terbiasa mengkonsumsi ikan, sehingga anak-anak juga terbiasa makan ikan. Karena, ikan mengandung protein tinggi yang bagus untuk kecerdasan anak,” ujar Kadinas Kepenak, RR. Endang Purwaningrum Titi Lestari.

Tingkatkan Konsumsi Ikan

Sementara itu, Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Kepenak, Eko Purwanto, menambahkan, kegiatan ditujukan pada peningkatan konsumsi makan ikan.

“Supaya masyarakat bisa memilih menu makanan yang disukai dengan bahan dasar ikan. Acara ini juga didukung dengan gemar makan ikan oleh anak-anak sekolah dasar dan kegiatan alih teknologi pengolahan produk perikanan menjadi berbagai macam bentuk makanan olahan,” terang Eko.

Menurutnya, produksi perikanan budidaya Kulon Progo termasuk tahun 2014 mencapai 13.900 ton ikan air tawar, dengan produksi ikan laut sekitar 2.000 ton. Pertumbuhan besar didukung oleh banyaknya hasil dari tambak udang yang menghasilkan 1.400 ton udang.

“Untuk konsumsi lokal totalnya kira-kira 11 ribu ton, sisanya banyak dijual ke luar, misalnya ikan gurami yang jumlahnya 3 ribu ton kebanyakan untuk pasar luar. Yang banyak dikonsumsi lokal adalah ikan lele dan ikan laut. Karena, klasifikasi harganya relatif rendah. Sehingga setiap tahun 3-4 ribu ton dipasarkan ke luar Kulon Progo,” kata Eko.

Selama ini, produksi ikan budidaya terbesar ada di dua kecamatan, yaitu Wates dan Nanggulan, sehingga keduanya dijuluki wilayah Minapolitan, karena 40 persen produksi ikan budidaya berasal dari dua kecamatan tersebut. Wates merupakan setra lele dan Nanggulan sentra gurami.

Budidaya lele menjadi tantangan tersendiri bagi Kulon Progo, karena kebutuhan DIY cukup besar. Namun, beberapa waktu lalu, pasaran ikan lele sempat jatuh karena faktor harga yang rendah, sehingga tidak masuk dari aspek biaya produksi. Hal ini menjadikan animo masyarakat untuk budidaya lele menurun.

Beberapa waktu belakangan harga lele relatif stabil, namun produksinya banyak dipasok dari luar daerah dengan harga lebih rendah. Dengan pasokan dari luar, produksi lokal berkurang. Meskipun harga tetap, namun tidak bisa menjual, karena harga lele dari luar daerah lebih rendah dari harga pokok lele budidaya lokal.

Pasokan lele dari luar daerah ini dengan cara dumping, yaitu menjual dengan harga murah meskipun di daerahnya sendiri harganya tetap tinggi.

“Dengan demikian, cara ini bisa membunuh petani lele dari Kulon Progo. Namun, hingga saat ini budidaya tetap berjalan, meski perkembangannya relatif kecil,” pungkas Eko.