Akses Jalan ke Pasar Beringharjo Terhambat, Tingkat Kunjungan Pembeli Melambat

AKSES JALAN – Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Bisnis Pasar Beringharjo, Gunawan Nugroho Utomo, menegaskan pentingnya penataan akses jalan menuju Pasar Beringharjo.(Foto: Arif Giyanto)
AKSES JALAN – Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Bisnis Pasar Beringharjo, Gunawan Nugroho Utomo, menegaskan pentingnya penataan akses jalan menuju Pasar Beringharjo.(Foto: Arif Giyanto)

Kota Yogyakarta, JOGJADAILY ** Akses jalan menuju Pasar Beringharjo yang mulai padat berpengaruh pada tingkat kunjungan pembeli. Pasalnya, kenyamanan pembeli salah satunya dapat dinilai dari mudahnya akses jalan ke pasar andalan Jogja tersebut.

“Sekarang mau masuk dari arah mana saja, akses jalan menuju Pasar Beringharjo rasanya semakin sulit. Orang mau belanja juga lama-lama malas, kalau untuk berkunjung ke Pasar Beringharjo harus selalu disuguhi kepadatan kendaraan bermotor, baik yang sedang dalam perjalanan maupun parkir,” ujar Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Bisnis Pasar Beringharjo, Gunawan Nugroho Utomo, kepada Jogja Daily, beberapa waktu lalu di kantornya.

Gunawan menyampaikan kekhawatirannya tersebut karena belakangan, tingkat kunjungan pembeli dinilai menurun.

“Sepintas, Pasar Beringharjo memang tampak ramai. Namun sebenarnya, pembeli mulai berkurang. Kenyataannya, pendapatan penjual di Pasar Beringharjo tidak menurun secara signifikan. Meski demikian, masalah kepadatan akses jalan menuju pasar harus segera direspons, sebelum masalah terus membesar dan tidak dapat dikendalikan,” terang alumnus UGM itu.

Ia mengemukakan, penataan pasar yang telah dilakukan pihaknya mulai membuahkan hasil. Dahulu, Pasar Beringharjo masih tampak semerawut dan kurang tertata dengan baik. Dengan sentuhan intensif, pasar menjadi nyaman dikunjungi.

“Menata Pasar Beringharjo menjadi seperti sekarang bukanlah pekerjaan mudah. Bukan hanya berusaha mengerti apa mau pedagang, tapi juga harus mampu menghilangkan kesan bahwa UPT hanyalah penarik retribusi,” tutur Gunawan.

Gunawan menegaskan, untuk mampu menjadi rekanan pedagang, pihaknya berusaha keras mengimbangi cara berpikir dan cara kerja pedagang. Selanjutnya, harus tetap mampu menjaga identitas keistimewaan Jogja.

“Pasar tradisional, terutama Pasar Beringharjo, bukan hanya tempat transaksi warga, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun juga ikon wisata yang mencerminkan keistimewaan Jogja. Oleh karena itu, merawat dan menjaga Pasar Beringharjo menjadi keharusan,” ucapnya.

Berangkat dari penilaian tersebut, sambungnya, kenyamanan pembeli di Pasar Beringharjo sudah selayaknya mendapat perhatian serius. Termasuk memfasilitasi kemudahan akses jalan masuk menuju Pasar Beringharjo.

Karakter Jogja

Gunawan mengatakan, Jogja dan pasar tradisional tidak dapat dipisahkan. Maju tidaknya pasar tradisional menjadi penentu maju tidaknya Jogja. Sebaliknya, eksistensi Jogja sangat dipengaruhi oleh keberhasilan pengelolaan pasar tradisional, serta kecintaan warga untuk tetap berbelanja.

“Setelah Jogja menjadi sangat metropolis, karakter Jogja yang memiliki keistimewaan tak boleh luntur. Karena, dengan karakter ini, Jogja akan langgeng, tidak tergerus zaman. Pasar tradisional akan terus menjadi tumpuan sebagian besar warga untuk berdagang dan memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari,” kata Gunawan.

Kesalingmengertian stakeholders untuk mendukung eksisnya pasar tradisional, lanjutnya, mutlak adanya, agar Jogja tetap istimewa.

 

5 thoughts on “Akses Jalan ke Pasar Beringharjo Terhambat, Tingkat Kunjungan Pembeli Melambat

  1. Pasar Beringharjo adalah Malioboro dgn sendirinya dan berarti kalau bicara akses jalan kita bicara tentang sistem transportasi terintegrasi. Setahu diriku, Pemkot tidak siap dan tidak punya rencana jelas

    1. gunawan nugroho

      - Edit

      Mas ichtiar khudi… lokasi malioboro dan pasar beringharjo yg sangat strategis yg membuatnya tidak bisa menepis magnet jogja yg berimbas kemacetan.. menyoal Transportasi Terintegrasi dan komitmen yang baik semoga akan menjadi solusi terhadap kemacetan yg mulai sedikit banyak mbuat warga jogja jengah.. Masukannya bagus mas ichtiar khudi… sipp…

  2. Kita sedih kalau Jogja macet. Jadi memang kita perlu banget memperbaiki manajemen transportasi kota. Untuk itu, harus diingat bahwa Jogja macet terutama pada saat liburan karena kedatangan wisatawan. Artinya, kalau mau menata transportasi harus sensitif terhadap persoalan sumber kemacetan itu. Jadi mesti ada sistem transportasi mayor dan sistem transportasi minor. Mayor, berkaitan dengan sistem transportasi umum pada waktu yang juga umum. Minor, berkaitan dengan sistem transportasi pada waktu kedatangan wisatawan bludag.
    Hal lain yang wajib dipertimbangkan adalah ketersediaan sarpras jalan. Ibarat mengiris kue, ada irisan melintang dan membujur.
    Pada irisan melintang, kota Jogja punya sarpras jalan yang cukup lebar (lebih dari 6 meter) sejak dari Ringroad Selatan, jalan yang menghubungkan dari protelon Tom Siver sampai Jl. Sugeng Jeroni, jalan yang menghubungkan dari prapatan Wirobrajan sampai Gembiroloka, jalan yang menghubungkan UIN sampai Jatikencana dan Ringroad Utara. Semua pada arah barat-timur.
    Pada irisan membujur, tidak terhitung jumlah jalan yang menghubungkan antara jalur irisan melintang dengan jalur irisan melintang yang lain pada arah utara-selatan.
    Mestinya, sistem manajemen transportasi Kota Jogja berpegang pada setidaknya dua asumsi itu. Pegangannya yang kenceng, ndak mrucut. Nek mrucut koyone dadi mencla-mencle.
    Cinta Jogja Istimewa nganggo madu ndoge loro.

    1. gunawan nugroho

      - Edit

      Analisan yang bagus dan komplit sekali dari sodara krensa cantik. . manajen transportasi dan kesiapan sarpras jalan harus segera mendapat kajian dan pelaksanaan perencanaan yg baik… semoga kota jogja mulai gumregah untuk mengurai kemacetan lalulintas tanpa harus mengkebiri potensi yang ada.. trimakasih atas masukan yang luar biasa..

  3. Sekarang memang kalau mau ke pasar beringharjo susah. Kalau memang mau menutup potongan jalan, kenapa bukan potongan jalan yg mnuju hotel melia saja yg ditutup? Knp justru menutup potongan jalan yg menuju pasar beringharjo, Sehingga kalau mau ke pasar harus muter dulu sampai depan taman pintar. Hayoooo gmn ini pak polisi? Apa anda takut menutup akses jalan yg menuju hotel tsb???
    Selain itu jalan didepan pasar sentir jg sangat semrawut. Ditambah banyaknya parkiran dan pedagang kaki lima dikanan kiri jalan. Menjadikan akses menuju pasar semakin susah. Bagaimana mau bersaing dengan pasar modern kalau akses masuknya saja sudah susah?? Kalau soal parkiran apakah dinas pasar tidak mampu mengatasi? Perasaan dulu disitu sempat ada laranfan parkir? Knp sekarang dibiarkan saja?

Comments are closed.