BlumbangReksa, Detektor Air Peningkat Produktivitas Tambak Udang Vaname

DETEKTOR AIR - Mahasiswa UGM menemukan BlumbangReksa untuk meminimalisasi kematian udang vaname karena abnormalitas air. (Foto: Humas UGM)
DETEKTOR AIR – Mahasiswa UGM menemukan BlumbangReksa untuk meminimalisasi kematian udang vaname karena abnormalitas air. (Foto: Humas UGM)

Sleman, JOGJADAILY ** Usaha tambak udang vaname di lahan pasir Bantul berorientasi ekpor ke Tiongkok, Jepang, dan Amerika Serikat, sehingga bisa memberikan keuntungan bagi petani. Apabila udang mati saat dipanen, petani mengalami kerugian cukup besar.

Sejumlah mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mendesain alat pendeteksi kondisi abnormal air kolam bernama BlumbangReksa (Kolam Sejahtera). Dengan alat tersebut, kondisi air kolam bisa dibaca secara real time oleh petani. Bahkan petani bisa bertindak segera untuk memberikan perlakuan pada kolamnya saat kondisi abnormal agar udang peliharaannya tidak segera mati.

“Untuk tambak uang yang tradisional, umumnya tingkat kematian mencapai hingga 50 persen, sedangkan untuk pemeliharaan kolam secara intensif tingkat kematian hanya mencapai 20 persen. Dengan alat Blumbangreksa, diharapakan bisa meningkatkan produktivitas hasil tambak,” ujar salah satu penggagas BlumbangReksa, Imaduddin Madjid, Mahasiswa Fakultas Teknik UGM.

Menurutnya, alat yang sekilas mirip kotak nasi anak TK ini hanya menghabiskan dana sebesar Rp10 juta dalam proses pembuatannya.

Anggota tim lain, Ridwan Wicaksono, mengisahkan, meski tidak memiliki pengetahuan luas dalam bidang perikanan, ia bersama rekan lain berdiskusi untuk memecahkan masalah yang dihadapi petani, difasilitasi salah satu perusahaan di bidang agrikultur.

Diketahui kemudian, penyebab kematian udang adalah keterlambatan petani dalam mengetahui kondisi abnormal air kolam. Apabila kolam tambak udang kekurangan oksigen, serta kelebihan kadar garam, amonia, dan logam berat maka berisiko matinya banyak udang.

Padahal, sambung Ridwan, petani biasanya hanya mengecek secara manual. Misalnya untuk oksigen, mereka hanya mengetahui dari menyaksikan udang-udang yang muncul ke permukaan.

“Udang yang sudah naik ke permukaan kolam itu sebenarnya tanda sudah terlambat untuk bisa diatasi ,” kata mahasiswa kelahiran Sleman 24 tahun lalu, yang pernah meraih medali perunggu dalam Kontes Robot Tingkat Internasional di Korea 2012 itu.

Setelah mengetahui penyebab kematian udang, tim menggunakan pengalaman dan pengetahuan mereka untuk membuat alat mikrokontroler dan sensor, BlumbangReksa.

Alat yang berukuran 15×10 cm dengan berat kurang lebih 500-an gram tersebut, memiliki enam sensor yang mengukur tingkat temperatur, kelembaban, tingkat keasaman (pH), kadar oksigen, salinitas (kadar garam), dan kadar logam berat.

“Dari sensor itu itu dibaca oleh mikrokontroler, lalu datanya diolah dan diunggah ke internet agar bisa diunduh di smartphone milik petani masing-masing. Mereka tinggal login. Bagi petani yang tidak punya smartphone cukup dengan SMS berteknologi broadcast,” terang mahasiswa Program Sarjana Teknik Elektro angkatan 2012 tersebut.

Menangi Kompetisi Internasional

Ridwan dan Imaduddin juga berhasil memenangi Kompetisi Teknologi dan Inovasi Internasional, The ASME Innovation Showcase, di India, pada 19-21 April lalu. Tim mahasiswa UGM menjadi satu-satunya wakil dari Indonesia yang lolos masuk 12 besar dalam kompetisi yang diiikuti 55 tim dari berbagai perusahaan, komunitas, dan mahasiswa itu.

JUARA - BlumbangReksa memenangi Kompetisi Teknologi dan Inovasi Internasional, The ASME Innovation Showcase, di India, pada 19-21 April 2015. (Foto: Humas UGM)
JUARA – BlumbangReksa memenangi Kompetisi Teknologi dan Inovasi Internasional, The ASME Innovation Showcase, di India, pada 19-21 April 2015. (Foto: Humas UGM)

Mereka berhasil menjadi pemenang bersama dua pemenang lain dari perusahaan asal India. Selain mendapat penghargaan, pemenang mendapat hadiah US$15 ribu atau sekitar Rp200 juta.

“BlumbangReksa dibuat kurang lebih selama tiga bulan yang awalnya sengaja diperuntukkan membantu petani tambak udang di Pantai Parangkusumo Bantul. Petani tambak di Pantai Selatan Jawa tersebut mengeluh karena mengalami kerugian cukup besar akibat banyak udang vaname yang mati sebelum berhasil dipanen. Padahal, udang tersebut umumnya dijual untuk ekspor,” tutur Imaduddin di ruang Fortakgama, Kantor Pusat UGM, Rabu (6/5/2015), seperti dirilis Humas UGM.

Ridwan mengatakan, pihaknya akan terus mengembangkan desain alat tersebut. Tidak hanya itu, mereka akan mensosialisasikan dan mengenalkan BlumbangReksa kepada petani tambak di Bantul, Cirebon, Pangandaran, dan Ciamis. Harapannya, alat tersebut bisa diproduksi massal dengan harga lebih terjangkau untuk petani.

“Kita harapkan petani tambak makin sejahtera dan ekspor udang kita makin meningkat,” pungkas Ridwan.