Co-Branding Jogjamark, Upaya Pemda DIY Kembangkan Industri Kreatif UMKM

CO-BRANDING - Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY, Didik Purwadi, dalam sebuah forum Pemda DIY. Jogjamark diwacanakan menjadi co-branding produk industri kreatif. (Foto: Humas DIY)
CO-BRANDING – Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY, Didik Purwadi, dalam sebuah forum Pemda DIY. Jogjamark diwacanakan menjadi co-branding produk industri kreatif. (Foto: Humas DIY)

Gondomanan, JOGJADAILY ** Mengembangkan industri kreatif, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta mewacanakan penggunaan co-branding Jogjamark. Produk industri kreatif DIY akan dilabeli Jogjamark untuk menjamin perlindungan dan daya saing, meningkatkan loyalitas dan kepercayaan konsumen, serta perlindungan hukum dan mencegah praktik persaingan tidak sehat.

Hal tersebut disampaikan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY, Didik Purwadi, dalam Koordinasi Forum Pengembangan Ekonomi Daerah (FPED) Pokja IV bertema ‘Pengembangan Ekonomi Kreatif’, Kamis (28/5/2015) di Kantor Perwakilan Bank Indonesia.

“Yogyakarta merupakan daerah pariwisata dengan persentase jumlah pengusaha kecil 92 persen. Namun, di sisi lain, persentase kemiskinan juga masih berada pada kisaran 15 persen,” ujar Didik.

Ia menjelaskan, dalam rangka mengembangkan industri kreatif melalui Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), Pemerintah DIY melalui SKPD Teknis seperti Dinas Pariwisata dan Dinas Perindagkoptan ikut mendorong dan memfasilitasi berkembangnya ekonomi kreatif.

Staf Khusus Menteri Perdagangan, Benny Soetrisno, menambahkan, ekonomi kreatif berperan dalam melestarikan budaya lokal, meningkatkan pemanfaatan bahan baku lokal dan ramah lingkungan, serta meningkatkan peran perempuan dalam pembangunan.

“Selain itu, ekonomi kreatif juga berperan dalam meningkatkan citra dan identitas bangsa Indonesia di tingkat internasional. Hal ini memang benar untuk diterapkan, mengingat saat ini produk ekonomi kreatif yang cukup familier di kalangan masyarakat umumnya berhubungan dengan budaya lokal,” terang Benny.

Benny memaparkan 14 ruang lingkup ekonomi kreatif di Indonesia berdasarkan Inpres Nomor 6 tahun 2009, yaitu advertising, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, fashion, video, film dan fotografi, permainan interaktif (game), musik, showbiz, penerbitan dan percetakan, software, broadcasting, serta riset dan pengembangan.

Testimoni Pelaku Usaha Industri Kreatif

Acara menghadirkan pelaku industri kreatif teknologi informasi (TI) dan permainan interaktif atau game, Prof. M. Suyanto, seorang entrepreneur TI sekaligus Ketua STIMIK AMIKOM.

“Saat ini memang belum banyak pelaku usaha yang berkecimpung di industri ini, terutama di wilayah Yogyakarta. Namun, apabila masyarakat menangkap maka hal ini akan menjadi suatu hal baru yang dapat menambah semarak industri kreatif di Yogyakarta, selain juga memajukan perekonomian mikro masyarakat,” ungkap Suyanto.

Produk tidak hanya berkisar pada produk yang berhubungan dengan budaya dan tradisi. Menurutnya, teknologi yang dikemas dan dikembangkan menarik pun dapat menjadi sumber pendapatan dalam ekonomi kreatif.

“Teknologi informasi dan broadcasting pun dapat menjadi sumber pendapatan apabila dikelola dengan baik,” katanya.

Pimpinan Gameloft Indonesia, Putra Paradiya, menambahkan, permainan interaktif atau game tidak selalu membawa dampak destruktif bagi masyarakat. Pengemasan yang baik dan penciptaan game berkualitas dapat menjadi daya tarik tersendiri.

Dukungan pada Industri Kreatif

Bukan hanya testimoni, dukungan pada industri kreatif datang dari berbagai pihak. Bank Indonesia misalnya, menekankan pentingnya penggunaan Rupiah di NKRI sebagai alat tukar perdagangan. Hal ini dimaksudkan dalam rangka memperkuat nilai uang di Indonesia. Hal ini disampaikan Pimpinan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI), Arif Budi Santoso.

Untuk memfasilitasi perkembangan ekonomi kreatif, Dinas Pekerjaan Umum DIY juga memberi dukungan sarana dan prasarana memadai melalui pembaruan dan perawatan fasilitas dan infrastruktur, termasuk jalan.

Selanjutnya, Pemerintah Kota Yogyakarta membentuk Gerai Investasi berdasarkan Peraturan Walikota Nomor 63 tahun 2011. Gerai Investasi memberikan pelayanan informasi di bidang penanaman modal, serta memberikan kejelasan dan kepastian mengenai informasi penanaman modal kepada calon investor.

Yogyakarta sebagai kota pariwisata dan kota pendidikan memiliki peran penting dalam pengembangan ekonomi kreatif. Pariwisata dan pendidikan menjadi lokomotif bagi tumbuhnya ekonomi kreatif. Pariwisata menjadi unsur penarik konsumen. Sementara pendidikan menjadi unsur penciptaan kreativitas.