Daya Dukung Memadai, Sekum Barahmus DIY: Masa Depan Museum di Jogja Sangat Prospektif

PROSPEK - Sekum Barahmus DIY, Asnan Arifin, saat ditemui di Museum Pendidikan Indonesia. (Foto: Arif Giyanto)
PROSPEK – Sekum Barahmus DIY, Asnan Arifin, saat ditemui di Museum Pendidikan Indonesia. (Foto: Arif Giyanto)

Depok, JOGJADAILY ** Era globalisasi informasi yang menggeser preferensi manusia menempatkan museum menjadi sebuah kebutuhan. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dapat semakin eksis di pentas nasional dan internasional bila memaksimalkan pengelolaan museum sebagai karakter kedaerah.

“Kalau dulu, orang ke museum untuk belajar atau mencari data, kini kunjungan ke museum termasuk berwisata. Artinya, preferensi masyarakat pada 1970-an dan sekarang telah jauh berbeda,” ujar Sekretaris Umum Badan Musyawarah Musea (Barahmus), Asnan Arifin, kepada Jogja Daily, Senin (25/5/2015), di Museum Pendidikan Indonesia.

Menurut Asnan, realitas dunia yang semakin global justru potensial bagi pengembangan museum sebagai wahana pendidikan tapi juga destinasi yang layak dikunjungi. Stakeholder kemuseuman DIY memiliki concern yang baik terhadap museum.

“Sebenarnya, jumlah persis museum di Indonesia belum diketahui. Jadi, kalau katanya DIY memiliki jumlah museum 15 persen dari total museum di Indonesia, belum diverifikasi. Hingga sekarang, jumlah anggota Barahmus adalah 33 museum,” ungkap Asnan.

Ia memaparkan, jumlah museum di DIY bisa jadi sangat banyak. Sebagian terdaftar ke dalam asosiasi, sebagian lagi tidak. Ada juga museum yang belum terdaftar dalam asosiasi, tapi mulai banyak dikunjungi.

“Ada yang sebenarnya tidak dapat dikategorikan sebagai museum, meski namanya museum. Tapi kenyataannya, mereka juga dikunjungi. Bahkan mulai potensial berorientasi profit. Nah, hal-hal seperti ini menjadi tugas Barahmus. Upaya pendataan akan terus dilakukan untuk menjembatani permuseuman di DIY,” ucapnya.

Asnan mengetengahkan beberapa fakta menarik tentang pengelolaan museum di Indonesia. Meski sebagian besar masyarakat Indonesia belum begitu merasa berkepentingan pada museum, tapi ternyata secara profit, mulai ada yang diminati.

“Kejadiannya beragam. Museum bahkan bisa jadi sengketa pihak waris karena ternyata mulai prospek. Terkadang, warga membuat museum bahkan sebenarnya tidak termasuk museum tapi ramai dikunjungi. Misalnya, Museum Angkot di Jawa Timur,” papar Asnan.

Daya Dukung

Bagi Asnan, pembeda mendasar antara DIY dengan daerah lain adalah daya dukung yang luar biasa pada permuseuman. Bukan hanya pemerintah, pihak lain pun turut berkontribusi pada semakin baiknya museum di DIY.

“Dukungan Pemda bagus pada museum. Pakar yang berhubungan dengan museum juga banyak di Jogja. Komunitas kreatif dan mahasiswa juga banyak yang tertarik. Jadi, kalau ada barang museum yang hilang, bukan hanya media yang ribut, sampai ke pedagang pasar juga bertanya-tanya tentang itu,” tuturnya.

Memungkasi pembicaraan, Asnan mengutip kalimat mantan Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto, semasa menjabat.

“Kalau jumlah museum di Jogja 15 persen dari total jumlah museum di Indonesia tidaklah membanggakan. Hal yang membanggakan adalah bila 15 persen dari total warga Jogja berkunjung ke museum di Jogja,” kenangnya.