DIY Banjir Investasi, Affrio Sunarno: Regulasi Menjadi Pranata Pengendali Efektif

REGULASI - Pengamat sosial, Affrio Sunarno, saat bersama Jogja Daily, beberapa waktu lalu. Affrio menegaskan perlunya regulasi sebagai pengendali investasi di Jogja. (Foto: Arif Giyanto)
REGULASI – Pengamat sosial, Affrio Sunarno, saat bersama Jogja Daily, beberapa waktu lalu. Affrio menegaskan perlunya regulasi sebagai pengendali investasi di Jogja. (Foto: Arif Giyanto)

Kota Yogyakarta, JOGJADAILY ** Mulai membanjirnya investasi, baik dalam maupun luar negeri, ke Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mensyaratkan regulasi yang tegas. Tanpa itu, bukan tidak mungkin, DIY hanya akan menjadi ajang kompetisi dan kolaborasi investor, sementara warga Jogja sendiri tidak turut berpartisipasi.

“Boleh disebut, belakangan, Jogja kebanjiran investasi. Masuk akal, karena daya dukung dan potensi Jogja memang sangatlah besar. Merespons hal tersebut, dibutuhkan pranata pengendali efektif dalam bentuk regulasi,” ujar pengamat sosial, Affrio Sunarno, kepada Jogja Daily, Senin (25/5/2015), di kantornya.

Ia menjelaskan, betapa penting tetap menjaga pranata adiluhung yang selama ini menjadi akar dan fondasi sosial budaya Jogja, seperti keguyuban, unggah-ungguh, tepo seliro, atau yang lain. Selanjutnya, dibutuhkan regulasi bersama upaya pelestarian pranata adiluhung tersebut.

“Regulasi dapat berarti vis a vis. Artinya, ia dapat berubah menjadi pihak yang berseberangan dengan investasi karena alasan kemanfaatan umum. Pada sisi lain, regulasi dapat berperan sebagai pengendali efektif yang mengontrol kerja modal agar tidak berbuah kesenjangan atau tata moralitas yang luntur,” jelas Kasubid Litbang Eksosbud Bappeda Kota Yogyakarta tersebut.

Affrio khawatir, pada saat regulasi tidak disiapkan dan diimplementasikan sebagaimana mestinya, gerak investasi tidak dapat beresonansi dengan dinamika warga Jogja. Akibatnya, dominasi modal atas realitas sosial akan menjadi bom waktu serius di masa depan.

“Pada saat investasi hadir, secara alamiah, keguyuban bisa angkat kaki karena orientasi modal pada keuntungan semata. Sementara keguyuban memberi arti bagi kebersamaan warga untuk tetap saling mengerti, saling dukung, saling berbagi, dan berkembang bersama,” papar Affrio.

Mega Infrastruktur dan Pertumbuhan Industri

Sebelumnya, pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ahmad Ma’ruf, mengatakan, pembangunan megaproyek infrastruktur di Jogja jangan lantas melenakan.

“ Jogja kelihatan ramai investasi, tapi sebenarnya, apa yang didapat warga Jogja? Jangan sampai nanti, warga Jogja justru hanya menjadi penonton di kampung halamannya sendiri,” tegas Ma’ruf.

Ia menjelaskan perbedaan menonjol antara pembangunan infrastruktur di Jogja dan di tempat lain. Sebagian besar megaproyek infrastruktur dibangun untuk memfasilitasi sektor bisnis yang telah ada, Sementara Jogja tidaklah demikian.

“Misalnya, Bandara Internasional Soetta. Di sana, bandara memfasilitasi sentra industri yang luar biasa banyak. Bandara menjadi signifikan keberadaannya untuk semakin meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Sementara rencana pembangunan Bandara Internasional Kulon Progo justru mendahului sektor industri yang juga baru direncanakan,” terang dosen Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan itu.

Ahmad Ma’ruf menegaskan, keistimewaan Jogja menjadi fondasi penting untuk membersamai keadaan. Dengan tetap menjaga Jogja tetap istimewa, kehadiran banyak megaproyek di Jogja tidak akan menggerus eksistensi Jogja dan warganya.

“Hal yang paling penting untuk dipertahankan adalah institusionalisasi atau pranata. Pelembagaan ini tidak selalu dalam bentuk fisik, tapi bisa sosial budaya. Jogja sejak lama memiliki khazanah kemasyarakatan seperti tepo seliro, unggah-ungguh, musyawarah, dan guyub yang harus terus dipertahankan,” terang Ma’ruf.

Selanjutnya, ia mengatakan, human investment juga merupakan hal penting. Dengan berorientasi pada pembangunan manusianya, sambung Ma’ruf, Jogja dapat berdiri dengan kakinya sendiri di tengah datangnya gelombang investasi yang ada.