Genteng Pantog, Kerajinan Kulon Progo Berbasis Pemberdayaan Warga Desa

PRODUK LOKAL - Bupati Kulon Progo, Hasto Wardoyo, mempromosikan genteng lokal dalam program bedah rumah. (Foto: Pemkab Kulon Progo)
PRODUK LOKAL – Bupati Kulon Progo, Hasto Wardoyo, mempromosikan genteng lokal dalam program bedah rumah. (Foto: Pemkab Kulon Progo)

Kalibawang, JOGJADAILY ** Sejak lama, sebagian warga Kampung Pantog, Desa Banjaroya, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo adalah pengrajin genteng tradisional. Umumnya hanya berbentuk usaha pribadi yang menghasilkan produk berkualitas seadanya.

Pantog memang memiliki tanah yang cocok untuk membuat genteng. Sebagian tanah di sana banyak yang dibawa ke luar daerah sebagai bahan pembuatan genteng.

“Potensi tanah di sekitar Banjaroya yang baik untuk membuat genteng dimanfaatkan salah satu warga Pantog Wetan untuk membuka usaha genteng press,” ujar Kepala Desa Banjaroya, Anton Supriyono.

Pemerintah Desa, jelas Anton, mengajukan permohonan bantuan mesin press dan mesin giling serta pelatihan kepada Pemerintah Kabupaten Kulon Progo. Karena, usaha ini dinilai menjadi tambahan penghasilan, karena masyarakat yang terlibat dalam satu usaha genteng, sekitar 8 orang.

“Dampak yang terlihat adalah warga yang dulu hanya jual tanah dan dibawa ke luar Kulon Progo, sekarang bisa ikut memproduksi atau titip bahan untuk digarapkan. Pemdes juga memberikan bantuan modal untuk kelompok usaha genteng ini melalui anggaran desa,” kata Anton.

Ia mengatakan, pemerintah desa siap menerima dan memfasilitasi investor.

Penanggung jawab kelompok pengrajin genteng, Dalhuri, menambahkan, tempat pembuatan genteng saat ini berjumlah 4 tempat dengan total mesin giling 3 unit dan mesin press 5 unit. Namun, tobong pembakaran hanya ada 1 dengan kapasitas 5000-6000 buah, dengan kapasitas produksi antara 5000-10 ribu buah per bulan.

“Saat ini kendala yang dihadapi adalah tidak adanya pencetak wuwung atau krepus, kurangnya modal usaha dan transportasi, serta rumah produksi dan pengering yang kurang layak. Untuk itu, kami berharap pelatihan dan pencetak batu bata merah dari pemerintah untuk menambah kelompok baru,” jelas Dalhuri.

Camat Kalibawang, Setiawan Tri Widada, mengatakan, apabila melibatkan warga yang ada, pihaknya akan mendukung investor, karena kendala yang dihadapi kelompok kini adalah permodalan, seperti penjemuran yang menggunakan terpal.

“Kelompok berharap untuk tempat penjemuran yang permanen, sehingga ini perlu modal yang besar. Jika ada investor harapannya bisa melibatkan warga masyarakat. Saat ini masih ada kendala belum punya alat pencetak kerpus, sehingga perlu adanya bantuan. Kalau memang sudah berkembang, saya kira akan bisa membentuk koperasi. Kita akan mendukung itu,” tegas Setiawan.

Dukungan Pemkab

Rabu (20/5/2015), Wakil Bupati Kulon Progo, Sutedjo, mengunjungi salah satu tempat produksi genteng press Super Menoreh di Pantog Kulon. Pemkab Kulon Progo memberikan bantuan berupa 3 alat press genteng dan 2 mesin penggiling. Tedjo bahkan sempat membuat genteng sendiri dengan bimbingan Dalhuri.

Usai membuat genteng, Tedjo menandatangani genteng buatannya sebagai kenang-kenangan. Menurutnya, usaha pembuatan genteng di Pantog Kulon bagus dan alat-alatnya cukup lengkap.

“Dengan alat yang ada, para pengrajin sudah menghasilkan genteng dengan kualitas baik. Bahkan para pengrajin itu sudah tahu cara membuat genteng yang baik kualitasnya, seperti cara merapatkan pori-pori tanah,” kesan Tedjo, seperti dirilis Pemkab Kulon Progo.

Pemkab, sambungnya, memiliki kewajiban moral untuk membantu pemasaran.

“Kami akan selalu mempromosikan genteng-genteng dari Kulon Progo ini. Apalagi ada sentra genteng di Selo. Meskipun di Pantog ini bukan sentra, tetapi kualitasnya sudah baik dan sudah membentuk kelompok,” terang Tedjo.

Artinya, beberapa kelompok pengrajin genteng telah berorganisasi.

“Kewajiban moral bagi Pemda untuk memasarkan, dan kami punya komitmen untuk memakai produk lokal dalam proyek-proyek daerah,” komitmen Tedjo.

Tedjo berharap, apabila ada investor yang tertarik, harus bisa memantik pergerakan ekonomi, bukan melemahkan atau membunuh usaha ekonomi yang telah berjalan di Kulon Progo.

“Yang penting, investor bisa memberi manfaat kepada rakyat. Kita akan menyambut baik jika bisa memberi peluang kerja atau usaha pada rakyat lebih banyak. Bisa saja dibuat koperasi, hanya saja pembentukan itu sebisa mungkin dari masyarakat sendiri yang harus berinisiatif,” pungkasnya.