Hardiknas, Kompetensi Lulusan dan Pendidikan Karakter sebagai Prioritas

KUALITAS GURU - Akademisi UMBY, Nuryadi, mengkritisi kualitas guru yang berpengaruh besar pada kualitas pendidikan Indonesia. (Foto: Google Plus)
KUALITAS GURU – Akademisi UMBY, Nuryadi, mengkritisi kualitas guru yang berpengaruh besar pada kualitas pendidikan Indonesia. (Foto: Google Plus)

Kota Yogyakarta, JOGJADAILY ** Memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2015, beberapa isu mendesak dapat dikemukakan ke publik. Salah satunya datang dari akademisi Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Nuryadi.

“Paradigma masyarakat terhadap mutu pendidikan sekolah hanya melihat tingkat kelulusan sekolah tanpa memandang kompetensi lulusan dan pendidikan karakter,” ujar Nuryadi kepada Jogja Daily, kemarin, Sabtu (2/5/2015).

Menurutnya, Hari Pendidikan Nasional harus mengedepankan visi dan misi pendidikan Indonesia secara nasional dan merata, sesuai amanat UUD 45.

“Hari Pendidikan Nasional harus menjadikan kebangkitan pendidikan secara komprehensif dan berkesinambungan menjawab tantangan global,” terang staf pengajar FKIP Matematika UMBY tersebut.

Arti Hardiknas baginya bukan sekadar seremonial.

“Kalau saya, (Peringatan Hardiknas) tidak hanya refleksi akan pentingnya pendidikan atau dapat dikatakan lahirnya pendidikan zaman dahulu, sehingga hanya menjadi seremonial saja.

Ia mengetengahkan problem pendidikan Indonesia hari ini.

“Pendidik dipandang suara jelas partai politik dan mudah dikendalikan, yaitu dengan kenaikan gaji. pendidik juga diribetkan dengan perubahan kurikulum dan administrasi, dan sebagai survive guru agar tunjangan keluar (sertifikasi),” ungkapnya.

Dari dua hal tersebut, sambungnya, peran guru sebagai pendidik siswa dapat dikatakan mengalami reduksi, sehingga apabila kenakalan siswa terjadi di sekolah, pihak sekolah tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, karena menyangkut eksistensi sekolah.

“Sehingga perlu dikaji sistem evaluasi yang menyangkut kelulusan,” kata Nuryadi.

Kualitas Guru

Menyoal kualitas guru, kata Nur, perlu ditingkatkan dengan standar peningkatan mutu guru. Hal tersebut belum ada, hanya sebatas kenaikan golongan.

“Padahal, hanya administratif saja agar naik gajinya. Dan perlu dilihat, banyak guru melanjutkan studi S2 dan setelah lulus, apakah ada bedanya? Apa sumbangsih mereka? Silakan melakukan riset tentang pengaruh guru-guru yang S2 terhadap mutu pendidikan di sekolah; tentu hal yang menarik,” ucapnya.

Ia menambahkan, bukan rahasia lagi banyak kalangan melanjutkan studi sebatas mengejar kenaikan golongan agar dana pensiun tinggi.

“Bukan naik karena benar-benar prestasi seorang guru, dilihat dari kompetensi dan profesionalitas guru,” pungkasnya.