Hari Jadi ke-184, Simpul Oktavianto: Semoga Gunungkidul Segera Bebas Krisis Air Bersih

AIR BERSIH - Pemerhati masalah sosial, Simpul Oktavianto, berharap, Hari Jadi Gunungkidul ke-184 menjadi momentum penting Gunungkidul bebas krisis air. (Foto: Arif Giyanto)
AIR BERSIH – Pemerhati masalah sosial, Simpul Oktavianto, berharap, Hari Jadi Gunungkidul ke-184 menjadi momentum penting Gunungkidul bebas krisis air. (Foto: Arif Giyanto)

Wonosari, JOGJADAILY ** Hari ini, Rabu (27/5/2015), Kabupaten Gunungkidul berusia 184 tahun. Sebuah perjalanan waktu yang tidak sebentar untuk sebuah daerah bersejarah di selatan Kota Yogyakarta tersebut, terus beriring doa dan harapan publik. Gunungkidul diharapkan segera entas dari segala persoalan daerah yang selama ini dihadapi.

“Sudah sejak lama Gunungkidul dikenal sebagai wilayah yang selalu kekeringan air bersih, wa bil khusus saat memasuki musim kemarau, sehingga harus dilakukan dropping air bersih kepada masyarakat, khususnya di wilayah pesisir pantai Selatan Gunungkidul. Padahal, di sisi lain, kandungan air bawah tanah yang ada di perut Bumi Handayani ternyata sangat banyak, bahkan melimpah,” ujar pemerhati sosial, Simpul Oktavianto, kepada Jogja Daily, Selasa (26/5/2015).

Ia menjelaskan, baru sedikit potensi air bersih yang dimanfaatkan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), baik sumber bendungan air sungai bawah tanah, sumur bor, maupun mata air telaga.

“Perlu ada terobosan dari Pemerintah Kabupaten Gunungkidul untuk mewujudkan wilayah mandiri air bersih, karena sesungguhnya untuk bebas dari kekeringan dan kekurangan air bersih bukanlah ‘mimpi di siang bolong’,” terangnya.

Simpul mengungkapkan, potensi air bersih terkandung yang ada di Gunungkidul diperkirakan sebesar 3.047 liter per detik atau 263 juta liter per hari. Sementara untuk mencukupi kebutuhan air seluruh rakyat Gunungkidul hanya membutuhkan air bersih sebanyak 61 juta liter per hari dengan standar UNESCO 80 liter per orang per hari.

“Tentunya pada Pilkada Gunungkidul tahun 2015, salah satu kriteria pemimpin ke depan adalah yang sanggup dan mampu membawa Gunungkidul terbebas dari krisis air bersih,” tegasnya.

Biasanya, sambung Simpul, warga Gunungkidul yang mengalami krisis air bersih mengandalkan dropping air bersih dari Pemerintah Daerah, instansi, atau orang-orang yang peduli. Banyak juga warga yang membeli air bersih.

“Ada pula kontribusi kampus, tapi belum maksimal. Pernah ada kampus yang melakukan pendampingan teknologi dalam rangka eksplorasi air bersih seperti di Gua Bribin dengan teknologi mikro hidro bekerja sama dengan ahli dari Jerman. Kampus terkadang juga memberikan bantuan dropping air bersih melalui kegiatan sosial,” paparnya.

Potensi Maritim Gunungkidul

Simpul juga berharap, momentum Hari Jadi tahun ini dapat menjadikan wilayah laut Gunungkidul sebagai pintu gerbang kemakmuran di masa depan. Meningkatkan kemampuan nelayan Gunungkidul mewujudkan Visi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Among Tani Dagang Layar.

“Selama ini, kemampuan nelayan Gunungkidul masih terbatas dan belum mampu mengoperasikan kapal laut di atas 30 GT, sehingga hasil tangkapannya masih terbatas. Padahal, pangsa pasar hasil laut di DIY cukup besar dan selama ini justru dicukupi dari hasil laut nelayan Pantura. Satu peluang yang sebenarnya sangat sayang untuk dilewatkan,” katanya.

Ia menambahkan, wisata di sepanjang garis pantai dan wisata minat khusus yang saat ini berkembang di Gunungkidul harus didorong, untuk meminimalisasi angka kemiskinan.

“Jangan lagi ada nelayan yang justru terlibat tindak pidana bahkan terlibat imigran gelap. Jangan lagi ada cerita masyarakat yang harus mengalah dengan ternaknya demi air bersih. Jangan lagi ada kasus gizi buruk. Jangan lagi ada krisis air bersih,” pungkas Simpul.