Harkitnas 2015, Danang Munandar: Keistimewaan Jogja Modal Dasar Inisiasi Kebangkitan Nasional

HARKITNAS - Direktur Pandiva Strategic, Danang Munandar, menggarisbawahi keistimewaan Jogja yang dapat menginisiasi kebangkitan Bangsa Indonesia. (Foto: Arif Giyanto)
HARKITNAS – Direktur Pandiva Strategic, Danang Munandar, menggarisbawahi keistimewaan Jogja yang dapat menginisiasi kebangkitan Bangsa Indonesia. (Foto: Arif Giyanto)

Godean, JOGJADAILY ** Pada hari ini, Rabu (20/5/2015) diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) oleh seluruh warga negara Indonesia. Momentum Harkitnas 2015 dapat dimaknakan sebagai titik tumpu menjadikan Jogja yang lebih baik di masa depan.

“Kebangkitan nasional pada konteks Jogja memiliki peran dan kerterkaitan yang erat. Sebagai daerah istimewa yang mempunyai kultur budaya khas, momentum Hari Kebangkitan Nasional bisa membangkitkan kembali nilai-nilai perjuangan bagi kemajuan bangsa secara umum,” ujar Direktur Pandiva Strategic, Danang Munandar, kepada Jogja Daily, di kantornya.

Ia mengingatkan, organisasi yang dianggap sebagai pelopor perjuangan kemerdekaan, yakni Budi Utomo lahir pada 20 Oktober 1908 yang kemudian dipakai sebagai hari kebangkitan nasional.

“Meskipun organisasi ini lahir di Jakarta, namun Kongres Budi Utomo pertama pada 3-5 Oktober 1908 berlangsung di Yogyakarta dan mengangkat Raden Adipati Tirtokoesoemo atau mantan Bupati Karanganyar sebagai Presiden Budi Utomo yang pertama,” tutur pengamat kebijakan publik tersebut.

Budi Utomo, menurut Danang, mengalami fase perkembangan penting saat kepemimpinan Pangeran Ario Noto Dirodjo dari Keraton Pakualaman.

“Saat itu, seorang Indo-Belanda bernama Douwes Dekker yang memihak perjuangan bangsa Indonesia mengejahwantakan kata ‘politik’ ke dalam tindakan yang nyata. Dan kemudian pengertian mengenai ‘Tanah Air Indonesia’ masuk ke dalam pemahaman orang Jawa,” terang Danang.

Keistimewaan Jogja

Danang menegaskan, keistimewaan Jogja sebenarnya merupakan modal dasar untuk menginisiasi momentum kebangkitan nasional dalam tindakan nyata.

“Sehingga pengertian ‘hari kebangkitan nasional’ masuk ke dalam pemahaman masyarakat Jogja. Terlebih, Jogja saat ini lebih heterogen. Julukan Kota Pelajar dengan banyaknya kampus juga merupakan titik tekan bagi bangkitnya suatu bangsa serta peradaban, mengingat lahirnya Budi Utomo juga dimulai di kampus Stovia,” pungkasnya.