Mendorong Peran Investor Lokal DIY dengan Budaya Kewirausahaan

PLTB – Presiden Joko Widodo meluncurkan Program Pembangunan Pembangkit 35.000 MW. Investasi menjadi concern penting DIY kekinian. (Foto: Kementerian ESDM)
PLTB – Presiden Joko Widodo meluncurkan Program Pembangunan Pembangkit 35.000 MW. Investasi menjadi concern penting DIY kekinian. (Foto: Kementerian ESDM)

INVESTASI merupakan salah satu penggerak perekonomian sebuah negara atau daerah. Pada 2014, investasi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki kinerja mengesankan, yaitu mencapai peningkatan bersih 146 persen.

Peningkatan tersebut didukung dari peningkatan investasi dalam negeri atau Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar 149 persen dan peningkatan investasi asing atau Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar 115 persen.

Terlepas dari peningkatan nilai realisasi investasi tersebut, dari data laporan Bank Indonesia (BI), terdapat hal menggembirakan, yaitu adanya peningkatan komposisi investasi dalam negeri di DIY.

Proporsi PMDN terhadap total investasi sejak 2012 hingga 2014 terus meningkat, yaitu dari angka 80 persen pada 2012 menjadi 90 persen pada 2013, dan meningkat kembali menjadi 92 persen pada 2014.

Nilai investasi PMDN tahun 2014 mencapai angka Rp8,37 triliun dan diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi PDRB DIY lebih besar lagi melalui efek pengganda (multiplier effect). Tren peningkatan ini perlu dipertahankan agar keberlanjutan dan kemandirian daerah lebih terjaga.

Terkait dua sumber atau asal investasi, yaitu PMDN dan PMA, data histori menunjukkan bahwa PMDN berhubungan erat dengan nilai perekonomian atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), dan sebaliknya, PMA memiliki korelasi yang rendah.

Mengingat informasi ini, sepatutnya daerah memberi perhatian lebih dalam targeting investor lokal untuk berinvestasi di daerah. Menyasar investor lokal memiliki arti mendukung perekonomian daerah, melaksanakan pemberdayaan ‘orang sendiri’, serta mempertimbangkan aspek keberlanjutan investasi.

Keberlanjutan investasi berarti investasi akan terus bertahan dan berkelanjutan di daerah tempat ia ditanam.

Investor asing sering kali sensitif terhadap kinerja maupun kondisi ekonomi makro Indonesia atau pun daerah. Bila tidak sesuai dengan ekspektasi, mereka kemudian memindahkan investasi mereka keluar Indonesia atau daerah.

Dampak yang dapat terjadi kemudian adalah bertambahnya pengangguran akibat PHK, tidak tercapainya target pertumbuhan, menurunnya pendapatan daerah, dan lainnya.

Budaya Wirausaha

Investasi lokal memiliki keunggulan tersendiri dibanding dengan investasi asing. Mengarusutamakan investasi lokal perlu dilandasi semangat nasionalisme agar motif ekonomi dapat selaras dengan ‘tujuan’ yang lebih besar, yaitu pembangunan Bangsa Indonesia.

Investasi lokal di DIY memiliki potensi besar. Melihat data uang simpanan (domestik) di bank DIY pada kuartal IV tahun 2014, baik berupa tabungan, giro, atau pun deposito yang mencapai Rp44,7 triliun, sementara dana yang digunakan untuk keperluan usaha (modal dan investasi) hanya Rp18,1 triliun. Berarti, masih ada dana sekitar Rp26 triliun yang dapat dimanfaatkan.

Dana sebesar ini dapat diarahkan untuk keperluan investasi, baik dari sisi pemilik simpanan atau tabungan maupun dari sisi perbankan yang menawarkan kredit investasi bagi UMKM atau pun pengusaha.

Namun demikian, faktanya bahwa penyerapan kredit investasi perkembangan tahun demi tahun tidak begitu signifikan dan hal ini ditengarai dari rendahnya angka entrepreneur di Yogyakarta.

Hal yang dapat dilakukan adalah mengembangkan budaya kewirausahaan (entrepreneurship) di semua kalangan, terutama kalangan muda. Beberapa universitas telah mengaplikasikan pengembangan entrepreneurship ini dalam berbagai program, baik kurikuler maupun non-kurikuler.

Sejalan dengan penumbuhan entrepreneur di kampus, Pemerintah DIY telah menginisiasi berbagai program pemberdayaan masyarakat maupun Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang bertujuan menumbuhkan usaha maupun wirausaha baru.

Program Pemda kebanyakan memberikan umpan berupa bantuan modal kerja berupa alat usaha kepada peserta program pemberdayaan. Khusus untuk program Pemda, perlu adanya kegiatan monitoring dan evaluasi yang cukup, melihat di lapangan, banyak bantuan yang diberikan Pemda justru tidak dimanfaatkan untuk usaha. Temuan ini diduga akibat kurangnya pendampingan setelah pelaksanaan program.

Menumbuhkan entrepreneur sejatinya adalah membudayakan entrepreneurship. Pemda dapat mendukung tumbuhnya budaya entrepreneurship melalui berbagai kegiatan berikut.

Pertama, meningkatkan kemudahan berinvestasi atau berbisnis. Kedua, mendorong jejaring antar-pengusaha melalui forum bisnis daerah. Ketiga, menyelenggarakan eksibisi atau pameran sebagai media bagi entrepeneur mengenalkan, mempromosikan produk, dan servis mereka.

Keempat, menguatkan budaya inovasi di masyarakat atau khususnya di kalangan entrepreneur, karena inovasi adalah senjata utama dalam kompetisi yang semakin keras.

Terakhir, bekerja sama dengan perbankan untuk menyasar pengusaha yang belum memiliki akses perbankan, dan berbagai kegiatan lain yang memberikan kontribusi langsung atau tidak langsung terhadap penumbuhan budaya entrepreneurship, seperti pendidikan, keamanan dan ketertiban, penegakan hukum, dan sebagainya.