Menemukan Solusi Masalah Kekinian dengan Literasi Matematika

LITERASI MATEMATIKA - Penulis sedang praktik mengajar matematika di SMP Muhammadiyah 1 Berbah. (Foto: Marlina Giyanto)
LITERASI MATEMATIKA – Penulis sedang praktik mengajar matematika di SMP Muhammadiyah 1 Berbah. (Foto: Marlina Giyanto)

MENURUT Organisation for Economic Co-operation and Development OECD (2013), seorang pemecah masalah matematika yang aktif adalah seseorang yang mampu menggunakan matematika untuk memecahkan masalah kontekstual. Caranya, dengan menggunakan literasi matematika.

Literasi matematika berangkat dari suatu masalah dunia nyata. Untuk memecahkan masalah kontekstual, seseorang harus menerapkan tindakan dan gagasan matematis. Menurut Programme for International Student Assessment (PISA), tindakan tersebut melibatkan kemampuan penggunaan pengetahuan dan keterampilan matematika, bergantung pada Kemampuan Dasar Matematis atau Fundamental Mathematical Capabilities.

Proses literasi matematis berangkat dari identifikasi masalah kontekstual, lalu merumuskan masalah tersebut secara matematis berdasarkan konsep dan hubungan yang melekat pada masalah.

Setelah mengubah masalah kontekstual tersebut ke dalam bentuk matematika, langkah selanjutnya adalah menerapkan prosedur matematika untuk memperoleh hasil matematika. Tahapan ini biasanya melibatkan aktivitas manipulasi, bernalar, dan menghitung.

Hasil matematika yang diperoleh kemudian ditafsirkan kembali dalam bentuk hasil yang berhubungan dengan masalah awal.

Dalam proses merumuskan, menerapkan, dan menafsirkan, Kemampuan Dasar Matematis (KDM) akan diaktifkan secara berturut-turut dan bersamaan bergantung pada konten matematika dari topik-topik yang sesuai untuk memperoleh solusi.

Pada beberapa kasus, bentuk-bentuk representasi matematis seperti grafik dan persamaan dapat ditafsirkan secara langsung untuk memperoleh solusi. Untuk alasan ini, banyak dari soal-soal PISA yang hanya melibatkan beberapa tahap dari siklus pemodelan PISA.

Selain itu, tidak menutup kemungkinan bahwa seorang pemecah masalah akan melakukan tindakan berulang-ulang pada setiap proses yang dilakukan, seperti kembali mempertimbangkan keputusan atau asumsi awal yang diambil sebelum kembali lagi melanjutkan proses selanjutnya.

Kompetensi Pembelajaran Matematika

Menurut NCTM atau National Council of Teachers Mathematics yang dikutip Maryanti (2012) terdapat lima kompetensi dalam pembelajaran matematika, yaitu pemecahan masalah matematis (mathematical problem solving), komunikasi matematis (mathematical communication), penalaran matematis (mathematical reasoning), koneksi matematis (mathematical connection), dan representasi matematis (mathematical representation).

Kelima kompetensi ini sangat sesuai dengan tujuan pendidikan nasional dalam Permendiknas No. 22 tahun 2006 yaitu untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Kemampuan yang mencakup kelima kompetensi tesebut adalah kemampuan literasi matematis.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa literasi matematika adalah kemampuan individu untuk merumuskan, mempekerjakan, dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks. Literasi matematika mencakup penalaran matematis dan menggunakan konsep-konsep, prosedur, fakta, serta alat matematika untuk menggambarkan, menjelaskan, dan memprediksi fenomena.

Kemampuan ini membantu individu untuk mengakui bahwa matematika berperan di setiap aspek kehidupan dan untuk membuat keputusan yang beralasan dan juga dibutuhkan secara konstruktif, terlibat, dan reflektif.