Pembangunan Megaproyek Infrastruktur DIY, Jangan Tinggalkan Pranata

Site plan New Yogyakarta International Airport (NYIA). HUMAS DIY

Secara masif, pemerintah dan warga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mulai disibukkan dengan bermacam megaproyek infrastruktur. Pelabuhan Tanjung Adikarto, Bandara Internasional Kulon Progo, dan Program Pembangunan Pembangkit di Pantai Samas Sanden Bantul adalah beberapa di antaranya.

Pembangunan megaproyek infrastruktur di Jogja jangan lantas melenakan kita. Jogja kelihatan ramai investasi, tapi sebenarnya, apa yang didapat warga Jogja? Jangan sampai nanti, warga Jogja justru hanya menjadi penonton di kampung halamannya sendiri.

Perbedaan menonjol antara pembangunan infrastruktur di Jogja dan di tempat lain, sebagian besar megaproyek infrastruktur dibangun untuk memfasilitasi sektor bisnis yang telah ada. Sementara Jogja tidaklah demikian.

Misalnya, Bandara Internasional Soetta. Di sana, bandara memfasilitasi sentra industri yang luar biasa banyak. Bandara menjadi signifikan keberadaannya untuk semakin meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Sementara rencana pembangunan Bandara Internasional Kulon Progo justru mendahului sektor industri yang juga baru direncanakan.

Membangun sektor industri untuk kemudian bersinergi dengan pembangunan megaproyek infrastruktur bukanlah pekerjaan mudah. Belum lagi resistensi yang nanti akan dihadapi di tingkat grass root. Kini yang tengah bermain adalah para spekulan tanah. Mereka mengambil untung dari situasi ini. Sementara megaproyek infrastruktur masih menemui banyak kendala di lapangan.

Pranata dan ‘Human Investment’

Meski demikian, keistimewaan Jogja menjadi fondasi penting untuk membersamai keadaan. Dengan tetap menjaga Jogja tetap istimewa, kehadiran banyak megaproyek di Jogja tidak akan menggerus eksistensi Jogja dan warganya.

Hal yang paling penting untuk dipertahankan adalah institusionalisasi atau pranata. Pelembagaan ini tidak selalu dalam bentuk fisik, tapi bisa sosial budaya. Jogja sejak lama memiliki khazanah kemasyarakatan seperti tepo seliro, unggah-ungguh, musyawarah, dan guyub yang harus terus dipertahankan.

Human investment juga merupakan hal penting. Dengan berorientasi pada pembangunan manusianya, Jogja dapat berdiri dengan kakinya sendiri di tengah datangnya gelombang investasi yang ada. Apalagi kampus yang dimiliki Jogja sebanyak ini. Tentu saja menjadi kekuatan tersendiri untuk menetralisasi potensi persoalan besar yang tengah menanti, menjelang dibangunnya megaproyek infrastruktur.

One thought on “Pembangunan Megaproyek Infrastruktur DIY, Jangan Tinggalkan Pranata

  1. Statement Bung Ma’ruf ini memang khas nJawani berisi harapan2 tapi akan jauh lebih bijak kalau dimaknakan sbg perimgatan. Bersumber dari keterbatasan pengetahuan saya, tidak ada sejarah yang menyebutkan bahwa berhadapan dengan kekuatan modal apalagi dalam skala yg massif seperti yg sangat optimis direncanakan akan terjadi di DIY, sebuah pranata kebudayaan tidak akan goyah. Ini terlepas dari apakah masyarakat lokal dapat bagian peran signifikan atau tidak. Modal akan bicara dengan bahasamya sendiri dan bahasa itu bukan bahasa jawa yang adiluhung, bahasa yang mulai terlupakan oleh anak2 kita. Modal akam bicara dengan bahasa keserakahan (sbg hal yang buruk) atau menghibur diri dengan karitatif (sbg hal yang baik) tetapi jiwa guyub telah lama pergi karena menguatnya individuasi. Salam.

Comments are closed.