Prof Suratman: Jogja Potensial Lahirkan Museum Berstandar Internasional

MUSEUM INTERNASIONAL - Ketua Umum Barahmus DIY, Prof Suratman, mengatakan, pihaknya akan mengupayakan lahirnya museum berstandar internasional di Jogja. (Foto: Arif Giyanto)
MUSEUM INTERNASIONAL – Ketua Umum Barahmus DIY, Prof Suratman, mengatakan, pihaknya akan mengupayakan lahirnya museum berstandar internasional di Jogja. (Foto: Arif Giyanto)

Sleman, JOGJADAILY ** Ada 47 museum di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), atau sekira 15 persen dari total jumlah museum se-Indonesia. Jogja sangat potensial melahirkan museum berstandar internasional.

“Museum berstandar internasional akan kami dorong hadir di Jogja. Dinamika Jogja dapat mewakili Indonesia dalam kancah internasional, karena Jogja memiliki banyak sekali keunikan budaya,” ujar Ketua Umum Badan Musyawarah Musea (Barahmus) DIY, Prof Suratman, kepada Jogja Daily, beberapa waktu lalu, di Rektorat Universitas Gadjah Mada (UGM).

Prof Suratman menyampaikan hal tersebut menyambut momentum International Museum Day yang jatuh pada Senin (18/5/2015). Hari Museum Internasional diperingati, salah satunya, sebagai penghormatan akan pentingnya peran museum bagi perkembangan zaman.

“Pada zaman global seperti sekarang, meski konten lokal sangat dicari, awareness kita tetap menginternasional. Bisa jadi, dalam keseharian, aktivitas sebuah masyarakat sangat memegangi kultur daerah, tapi kepekaan solidaritas tetap internasional,” terang Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat tersebut.

Ia menjelaskan, upaya standarisasi museum di DIY dengan standar internasional sangat diperlukan untuk turut berkontribusi pada warisan dunia. Sinergi dan jejaring heritage ini pada akhirnya dapat memengaruhi peradaban dunia.

“Kita harus terus terlibat dalam setiap percaturan isu dunia karena kita mampu melakukannya. Misalnya, pada era sekarang, sektor kemaritiman mendapat porsi yang sangat besar dalam perhatian dunia, bahkan pemerintah. Untuk itu, mari berpartisipasi menuju ke sana,” ucap Suratman.

Museum Inspiratif

Pusat Studi Pariwisata UGM mencatat, jumlah museum se-Indonesia hingga 2011 sebanyak 227 museum dalam berbagai bentuk. Dari jumlah itu, sekira 15 persen ada di DIY, atau 47 museum, baik yang dikelola perorangan, swasta, maupun pemerintah. Jogja menjadi daerah di Indonesia yang memiliki jumlah museum terbanyak.

Selama ini, museum kurang menarik bagi generasi muda karena dirasa monoton. Padahal, museum bukan hanya tempat benda mati yang tidak berarti. Selain sangat menunjang bagi pendidikan, museum kini didesain inspiratif.

“Adalah salah memersepsikan bahwa museum dikunjungi karena benda-benda mati. Benda-benda ini memiliki makna kesejarahan yang mengandung nilai-nilai tertentu. Museum dapat menginspirasi pengunjung bila mampu menyajikan spirit yang terkandung berupa perjuangan, kerja keras, dan tingginya keilmuan di masa lalu,” ungkap Prof Suratman.

Kepala Museum Gumuk Pasir Fakultas Geografi UGM ini mengatakan, inspirasi yang muncul setelah berkunjung ke museum dapat melahirkan harapan hidup, bekal penting seseorang menjalani hidup.

“Semisal pengunjung datang ke Museum Perjuangan, semangat hidupnya akan berkobar-kobar. Kalau ia datang ke Museum Bahari, ia akan semakin mencintai Nusantara. Artinya, museum dapat membentuk karakter generasi penerus yang penuh dedikasi dan integritas,” tambahnya.

Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), pada 2014 terdapat enam Program Prioritas Nasional di bidang kebudayaan. Salah satunya, revitalisasi museum. Tahun 2013, terdapat 18 museum yang berhasil direvitalisasi. Sedangkan pada 2014, ada 30 museum yang direvitalisasi.

Revitalisasi museum merupakan bentuk sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, baik dari segi anggaran, operasional, maupun manajemen sumberdaya manusianya. Ditjen Kebudayaan memberikan dana bantuan dari APBN kepada pemerintah daerah dalam menyukseskan revitalisasi museum, yang disebut tugas pembantuan.