Program Air Bersih PMI Pusat, Solusi Alternatif Kekeringan Kulon Progo

PAMITAN - Teguh Wintolo (38 tahun), warga Desa Margosari Kecamatan Pengasih berpamitan kepada Bupati Kulon Progo, Hasto Wardoyo, di Rumah Dinas, Kamis (28/5/2015). Teguh dipilih PMI untuk Tugas Bantuan Kemanusiaan ke Nepal. (Foto: Pemkab Kulon Progo)
PAMITAN – Teguh Wintolo (38 tahun), warga Desa Margosari Kecamatan Pengasih berpamitan kepada Bupati Kulon Progo, Hasto Wardoyo, di Rumah Dinas, Kamis (28/5/2015).
Teguh dipilih PMI untuk Tugas Bantuan Kemanusiaan ke Nepal. (Foto: Pemkab Kulon Progo)

Wates, JOGJADAILY ** Krisis air bersih setiap kali datang musim kemarau di Kulon Progo dapat sedikit teratasi dengan mengakses program air bersih Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat. Solusi tersebut menjadi alternatif, di samping beberapa solusi lain seperti dropping air bersih atau bantuan dari masyarakat.

“PMI Pusat saat ini ada program air bersih yang bisa untuk membantu masyarakat, meskipun selama ini masih fokus Kalimantan dan Sulawesi. Dengan membuat surat permohonan ke PMI Pusat, kemungkinan besar akan dapat mengakses program tersebut,” ujar Teguh Wintolo (38 tahun), warga Desa Margosari Kecamatan Pengasih saat berpamitan kepada Bupati Kulon Progo, Hasto Wardoyo, di Rumah Dinas, Kamis (28/5/2015).

Dirilis Pemkab Kulon Progo, Teguh dipilih PMI untuk Tugas Bantuan Kemanusiaan ke Nepal. Ia berangkat ke Nepal pada Kamis (28/5/2015). Selama 30 hari di Nepal ia fokus membantu masyarakat korban bencana di bidang air dan sanitasi.

Ia menceritakan latar belakang sebelum tugas ke Nepal. Sejak 2005, bertugas sebagai tenaga relawan PMI Kulon Progo. Tahun 2006, ia ikut Pelatihan Dasar untuk Air dan Sanitasi. Tahun 2010, mengikuti Pelatihan Lanjutan, dan pada 2014, mengikuti Pelatihan Regional Asia Pasifik yang diikuti 14 negara.

Saat Teguh menyinggung permasalahan air bersih di Kulon Progo, seperti terjadi di Girimulyo, serta menginformasikan adanya akses ke PMI, Bupati Hasto sangat bergembira dan menyebutnya sebagai rezeki yang tidak disangka-sangka. Karena, sebelumnya, bersama Camat Girimulyo, Bupati membahas pembangunan air bersih di Jonggrangan Girimulyo.

“Seperti yang di Pringapus, tahun lalu kepada jamaah haji disampaikan untuk ikut serta membantu masyarakat yang kesulitan air. Disampaikan bahwa yang jadi amal jariyah tidak hanya membangun masjid. Dengan membantu pembangunan saluran air ini, amalnya juga akan mengalir terus. Karena yang biasanya kesulitan wudhu jadi wudhu,” jelas Hasto.

Menurutnya, masyarakat yang biasanya kekeringan berbulan-bulan, akan dapat tercukupi. Bupati juga mengapresiasi semangat warga bernama Suryanto yang memiliki kepedulian luar biasa, ikut membangun saluran air bersih tanpa tenaga listrik.

Upaya yang Telah Dilakukan

Camat Girimulyo, Purwono, bersama Kelompok Pengelola Air Jonggrangan mengatakan, jika pada musim kemarau, Jonggrangan kesulitan air. Bantuan 100 juta telah dikerjakan, namun sambungan ke rumah-rumah belum selesai. Masyarakat pengguna sebanyak 87 KK.

Berdasarkan data lapangan, kadar kapur sumber air di Jonggrangan sangat tinggi, sehingga merusak alat. Warga kemudian memperoleh sumber air bersih dari Purwosari dengan lokasi lebih tinggi 55 meter, sehingga perlu hydran. Biaya yang diperlukan, Rp93 juta. Swadaya warga baru mendapatkan Rp62 juta, dari 131 KK termasuk Puskesmas dan MTS Jonggrangan. Dari 131 KK tersebut, 26 KK di antaranya miskin.