Sektor Pariwisata Meningkat, Angkatan Kerja DIY Meningkat

BECAK - Pasangan muda-mudi ceria di atas becak Jogja. Sektor wisata terus meningkat, menyebabkan naiknya angkatan kerja DIY. (Foto: UAJY)
BECAK – Pasangan muda-mudi ceria di atas becak Jogja. Sektor wisata terus meningkat, menyebabkan naiknya angkatan kerja DIY. (Foto: UAJY)

Kepatihan, JOGJADAILY ** Jumlah angkatan kerja Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus meningkat. Selain lulusan perguruan tinggi di DIY yang banyak menetap dan bekerja di Jogja, peningkatan sektor pariwisata menjadi sebab lain.

“Meningkatnya sektor pariwisata di DIY menyebabkan banyaknya angkatan kerja yang terserap pada sektor tersebut, sehingga jumlah orang yang bekerja semakin banyak,” ujar Pakar Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII), Nur Feriyanto, pada Diskusi Penyusunan Analisis Makro Ekonomi DIY, di Kantor Bappeda DIY, Kamis (21/5/2015), dirilis Humas UII.

Ia menjelaskan, pada 2013 dan 2014, realisasi angkatan kerja mengalami peningkatan. Meningkatnya angkatan kerja di wilayah DIY, menurut dosen Ilmu Ekonomi UII tersebut diakibatkan adanya peningkatan jumlah penduduk usia kerja yang masuk ke dalam angkatan kerja. Sementara untuk 2013, nilai realisasinya lebih tinggi dibandingkan nilai proyeksinya.

Realisasi orang yang bekerja di wilayah DIY pada 2012, sambungnya, lebih besar dibandingkan dengan proyeksinya, yaitu sebesar 28.056 orang. Sementara pada 2013, jumlah orang yang bekerja meningkat menjadi 1.956.043 orang.

“Peningkatan angkatan kerja ini akibat dari banyaknya lulusan perguruan tinggi yang memilih menetap di wilayah DIY, tidak kembali ke daerah asal, sehingga hal ini menambah jumlah angkatan kerja. Pada tahun 2014, realisasi angkatan kerja naik menjadi 2.023.461 orang,” terangnya.

Peningkatan jumlah orang yang bekerja juga diakibatkan oleh semakin banyaknya hotel-hotel yang dibangun di wilayah DIY, sehingga banyak membuka lapangan kerja.

Ia menilai perlunya kesiapan, terutama pihak berwenang, dalam menanggulangi kenaikan angkatan kerja. Hal ini sangatlah penting sebagai upaya menekan bertambahnya tingkat pengangguran.

Peran Kampus Entaskan Pengangguran

Sementara itu, pada waktu dan tempat berbeda, Deputi Ketenagakerjaan Pandiva Strategic Yogyakarta, Hanif Assabib Rosyid, mengatakan, sejumlah 106 PTS dan 5 PTN di Jogja adalah faktor penting program pengentasan pengangguran DIY.

Selain memiliki kualifikasi akademik mumpuni, sambungnya, kampus era sekarang berjejaring pada modal dan kekuasaan. Dua hal signifikan dalam penyelesaian persoalan pengangguran dan kesempatan kerja.

“Jogja Istimewa juga karena lebih dari 100 kampus ada di Jogja. Kampus sebanyak itu tentu punya formula untuk menyelesaikan problem pengangguran DIY. Apabila semua stakeholder bekerja sama dengan bertumpu pada kampus sebagai pionir, perlahan tapi pasti, kesempatan kerja yang ada akan menyerap semua tenaga kerja Jogja,” tuturnya kepada Jogja Daily, beberapa waktu lalu.

Ia menyampaikan, belakangan, kampus-kampus di Jogja tengah mengupayakan kembali pengaktifan Program Pemberdayaan Masyarakat. Salah satunya, program KKN yang mengangkat tema kebutuhan masyarakat. Hal tersebut menjadi pintu masuk pengentasan pengangguran.

“Secara umum, Program Pemberdayaan Masyarakat yang digarap kampus berusaha mengeksplorasi potensi daerah untuk menyejahterakan warga setempat. Pemberdayaan tentu saja bertumpu pada kemampuan kampus dalam mendesain keterserapan tenaga kerja yang ada,” tutur Hanif.

Menurut Hanif, KKN tidak harus dilaksanakan di tempat terpencil. Penyelenggaraan Program Pemberdayaan Masyarakat dapat dilakukan di kota, karena konsentrasi pengangguran juga besar jumlahnya di kota.

“Berurusan dengan pengangguran di kota dan desa jelas berbeda. Apabila di kota, kita dihadapkan pada pengangguran berpendidikan dengan akses informasi memadai. Mereka terkadang memilih tidak bekerja bukan karena tidak ada pekerjaan, tapi karena pekerjaan yang ditawarkan tidak sesuai standar mereka,” pungkasnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat, sekira 63 ribu pengangguran kini ada di DIY. Jumlah terbesar ada di Kabupaten Sleman 19.406 orang, kemudian Bantul 16.632 orang, Kota Yogyakarta 13.702 orang, Gunungkidul 7.385 orang, dan Kulonprogo 6.764 orang.