Selandia Baru Dukung UGM sebagai Research Base University

MENYIMAK - Bersama Rektor UGM, Prof Dwikorita Karnawati, Dubes Trevor Matheson mendengarkan presentasi. (Foto: Humas UGM)
MENYIMAK – Bersama Rektor UGM, Prof Dwikorita Karnawati, Dubes Trevor Matheson mendengarkan presentasi. (Foto: Humas UGM)

Sleman, JOGJADAILY ** Pemerintah Selandia Baru mendukung Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai universitas berbasis penelitian.

“Kita akan dukung riset-riset sekaligus ingin memperkuat UGM sebagai research base university,” ujar Duta Besar Selandia Baru, Trevor Matheson, saat berkunjung ke kampus UGM, Selasa (12/5/2015), membahas Community Resilience and Economic Development (CaRED) antara UGM dan Selandia Baru.

Dirilis Humas UGM, bersama Rektor UGM, Prof Dwikorita Karnawati, Dubes Trevor Matheson mendengarkan presentasi beberapa pakar UGM yang melakukan penelitian di bidang Sustainable Economic and Livelihood Opportunities (SELO), Renewable Energy (RE), dan Human Crisis and Conflict Prevention (HCCP).

Universitas Gadjah Mada dan Pemerintah Selandia Baru pererat jalinan kerjasama bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Penguatan kerjasama tersebut ditandai dengan kehadiran Duta Besar Selandia Baru, Dr. Trevor Matheson ke kampus UGM,

Dubes Trevor merasa senang dan bangga mendapat kesempatan mendengarkan beberapa hasil penelitian dari beberapa pakar UGM. Ia mengaku, kedatangannya ke UGM adalah mencari riset dan pengetahuan inovatif untuk keberlanjutan pembangunan.

Pakar pertama, Siti Ari Budhiyanti, membahas ‘Women Empowerment Throught Sustainable Fisheries Product Development in Timor District of East Nusa Tenggara’. Selanjutnya, Prof Muh Aris Marfai memaparkan ‘Risk Management: Policy and Practise in North Maluku Indonesia’.

Turut berbicara Suprapto Siswosukarto membicarakan ‘Renewable Energy Based on Micro Hydro for Sustainable Livelihood on Local Community Development in Central Sulawesi Province Indonesia’.

Prof Nurhassan Ismail menyampaikan materi ‘Identification and Mapping of Alternative Land Conflict Resolution and Capacity Development for Local Government and Mosalakih in Manggarai Regency of East Nusa Tenggara Province’.

Terakhir, Muhadi Sugiono mempresentasikan ‘Women and Local Conflict Resolution in East Nusa Tenggara and South Sulawesi’.

Sementara itu, Rektor Dwikorita berharap, para peneliti senantiasa memperbaiki kualitas penelitian melalui beberapa program. Para periset diharapkan tidak hanya terpaku pada batasan waktu, namun jauh lebih penting, penelitian harus inovatif dan sungguh-sungguh dapat diaplikasikan untuk kesejahteraan masyarakat.

“Saya berharap jangan terpaku pada waktu, tapi bagaimana riset inovatif dan bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.

Indonesia Timur

Pada awal 2014, UGM bekerja sama dengan Selandia Baru melakukan riset pengembangan sumberdaya ekonomi lokal pulau-pulau terpencil di daerah Indonesia bagian timur. Proyek kerja sama lima tahun ini diprioritaskan pada pengembangan energi terbarukan, manajemen risiko bencana, pengembangan ekonomi kreatif, dan resolusi konflik.

Alasan dipilihnya daerah perbatasan dan pulau-pulau kecil di bagian Indonesia timur adalah dalam rangka menjalankan mandat UGM sebagai universitas nasional. Salah satunya, menditribusikan ilmu pengetahuan dalam mendukung pembangunan masyarakat yang berada di daerah posisi terluar, terdepan dan tertinggal (3T).

UGM memfokuskan pada pengembangan ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat setempat, sehingga bisa menurunkan angka kemiskinan.