Wujudkan Kedaulatan Energi, Pembangunan Pembangkit 35.000 MW Dimulai dari DIY

PLTB - Presiden Joko Widodo meluncurkan Program Pembangunan Pembangkit 35.000 MW PLTB Sanden. (Foto: Kementerian ESDM)
PLTB – Presiden Joko Widodo meluncurkan Program Pembangunan Pembangkit 35.000 MW. (Foto: Kementerian ESDM)

Sanden, JOGJADAILY ** Senin (4/5/2015), Presiden Joko Widodo secara resmi meluncurkan Program Pembangunan Pembangkit 35.000 MW, di Pantai Samas, Sanden, Bantul. Program ini ditujukan sebagai upaya mewujudkan kedaulatan energi nasional.

“70 tahun Indonesia merdeka, namun baru 50.000 MW yang dibangun pemerintah, sehingga banyak yang menyangsikan pembangunan 35.000 MW dalam waktu lima tahun,” ujar Presiden, dirilis Kementerian ESDM.

Target sebesar 35.000 MW, sambungnya, merupakan angka cukup besar namun dengan penuh perhitungan. Terlebih apabila dibandingkan dengan kapasitas terpasang di Indonesia saat ini yang hanya 50.000 MW.

Jokowi mengatakan, proyek ini bukanlah proyek ambisius, akan tetapi merupakan utang terhadap masyarakat yang mengalami defisit listrik.

“Saat ini rasio elektrifikasi di Indonesia baru mencapai 84 persen, di mana telah ditargetkan oleh pemerintah bahwa pada tahun 2024, angka ini sudah mencapai 99,4 persen. Kebutuhan listrik turut mengalami kenaikan sebesar 8,7 persen per tahun, dari tingkat 219,1 TWH pada tahun ini, diperkirakan akan mencapai 464,2 TWH pada tahun 2024,” terangnya.

Pemerintah akan memberi dukungan besar bagi pengembangan energi baru terbarukan dengan melakukan pengawasan langsung terhadap 240 lokasi, sehingga target yang telah ditetapkan dapat tercapai.

“Pengembangan sumber-sumber energi baru terbarukan adalah untuk membebaskan diri dari ketergantungan kepada energi fosil,” tegas Presiden.

Membuat Sejarah

Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral, Sudirman Said, dalam sambutannya, bertekad membuat sejarah pemanfaatan sumber-sumber energi alternatif, khususnya bayu di berbagai wilayah Indonesia, yang diperkirakan mencapai 950 MW. Energi terbarukan merupakan masa depan energi nasional. Oleh karena itu, menjadikan sumber energi terbarukan sebagai tumpuan masa depan bukanlah pilihan, melainkan keharusan.

“Kita mau bikin sejarah. Karena, 350 tahun lamanya Belanda menjajah Indonesia tanpa membangun satu kincir pun. Di sini kita akan bangun dari Jogja. Dari Jogja kita bikin sejarah, mudah-mudahan bisa berlanjut di tempat yang lain,” tutur Sudirman.

Ia menerangkan, listrik merupakan roda penggerak perekonomian dan kehidupan masyarakat. Seiring pertumbuhan jumlah penduduk dan perekonomian, kebutuhan listrik pun terus meningkat. berdasarkan proyeksi pertumbuhan ekonomi realistis 5-6 persen per tahun maka Indonesia membutuhkan tambahan kapasitas pembangkit rata-rata 7.000 MW per tahun dan tambahan jaringan transmisi rata-rata 9.300 kilometer sirkuit (kms) per tahun.

Indonesia dikarunia Tuhan Yang Maha Esa sumber-sumber energi, baik berbasisi fosil mapun non-fosil. Sumber-sumber energi berbasis fosil akan habis pada waktunya, sedangkan sumber-sumber energi terbarukan akan berlanjut.

“Sesungguhnya kita memiliki potensi dan cadangan energi terbarukan yang belum secara sungguh-sungguh kita bangun dan kembangkan. Potensi panas bumi kita mencapai 28.8 MW, tenaga matahari 112G Wp, hidro dan minihidro 75 GW, energi berbasis bayu memiliki potensi 950 MW, sedangkan biofuel dan biomassa kita memiliki potensi yang amat besar, sekurang kurangnya 60GW,” ungkap Sudirman.

Efek Multiplier

Penambahan kapasitas listrik sebesar 35.000 MW memiliki efek multiplier besar bagi pertumbuhan ekonomi. Salah satunya, penyerapan tenaga kerja yang diperkirakan mencapai 650 ribu tenaga kerja langsung dan 3 juta orang tenaga kerja tak langsung.

”Program 35.000 MW memiliki dampak penggandaan kegiatan ekonomi yang amat besar. Sebaran lokasi pembangunan mencapai 210 lokasi di seluruh Indonesia, yang terdiri dari 59 lokasi di Sumatera, 34 lokasi di Pulau Jawa, 49 lokasi di Sulawesi, sementara di Kalimantan 34 lokasi, dan di Indonesia Timur 34 lokasi,” kata Sudirman.

Program ini, lanjutnya, membuka peluang bagi pembangunan 75.000 set tower, pemanfaatan 300.000-an km konduktor aluminium, pembangunan 1.382 unit gardu induk, penggunaan 2.600 set trafo, serta kebutuhan akan 3,5 juta ton baja profil dan pipa luar pembangkit.

“Jika 1 tenaga kerja membawa manfaat bagi paling-tidak 4 orang lainnya maka sekitar 20 juta orang akan mendapat manfaat ekonomi dari program ini. Penyerapan Komponen Dalam Negeri diperkirakan akan mencapai hingga 40 persen, atau setara dengan Rp 440 triliun, dari total kebutuhan investasi. Sedangkan Total kebutuhan dana investasi yang diperlukan akan mencapai lebih dari Rp 1.100 triliun,” jelasnya

Ia menambahkan, Program 35.000 MW mengejar pertumbuhan listrik yang terus meningkat seiring meningkatnya pertumbuhan ekonomi. Program ini akan meningkatkan tambahan kapasitas pembangkit rata-rata 7.000MW per tahun dan tambahan jaringan transmisi rata-rata 9.300 kilometer sirkuit (kms) per tahun.

“Jika dijumlahkan untuk lima tahun ke depan maka tambahan pembangkit baru yang diperlukan adalah 35.000-an MW, dan tambahan jaringan transmisinya menjadi sekitar 46.500 kilometer sirkuit (kms),” pungkasnya.