Benteng Tradisi, UII Seminarkan Manajemen Mutu Total untuk Madrasah

BENTENG MORAL - Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Yogyakarta III. (Foto: Panoramio)
BENTENG MORAL – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Yogyakarta III. (Foto: Panoramio)

Ngemplak, JOGJADAILY ** Dalam pengembangan madrasah, saatnya pengelola mempertimbangkan standar pelayanan mutu dan sistem penjaminan mutu yang menjadi bagian dari kegiatan pendidikan. Hal ini penting untuk menjamin mutu pendidikan yang diberikan madrasah kepada peserta didik agar tetap konsisten.

“Dengan memiliki standar mutu pendidikan yang baik maka madrasah akan secara efektif dapat memerangi fenomena dekadensi moral bangsa,” ujar Kasubdit Kelembagaan, Direktorat Pendidikan Madrasah Kemenag RI, Syafiuddin, dalam Seminar Nasional bertajuk ‘Pengembangan Madrasah Berbasis Manajemen Mutu Total’ di auditorium Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) UII, Sabtu (6/6/2015).

Ia menjelaskan, dalam khazanah pendidikan Islam, keberadaan madrasah memegang peranan penting sebagai institusi yang eksis mengajarkan nilai-nilai Islam dan pendidikan akhlak kepada generasi muda Muslim. Pengajaran nilai-nilai Islam lewat madrasah menjadi benteng bagi umat Muslim untuk mempertahankan tradisi dan budaya Islam dari gempuran budaya global yang cenderung serba-permisif.

“Semakin maraknya kemerosotan moral dan akhlak generasi penerus dinilai sebagai imbas melemahnya peran madrasah dalam pendidikan akhlak tersebut. Hal ini disebabkan, kebanyakan madrasah masih dikelola secara tradisional dan belum adaptif dengan perubahan zaman,” ungkap Syafiuddin, seperti dirilis Humas UII.

Oleh karena itu, sambungnya, pengenalan konsep pengelolaan madrasah yang modern dinilai sebagai solusi untuk kembali menguatkan peran madrasah. Salah satunya, lewat pengenalan konsep Manajemen Mutu Total dalam pengembangan madrasah.

“Konsep Manajemen Mutu Total pada awalnya memang lebih dikenal di dunia bisnis, namun juga mulai merambah di dunia pendidikan. Kesuksesan penerapan prinsip itu di berbagai perusahaan multinasional telah memantik ketertarikan para pakar pendidikan untuk mengadaptasikannya dalam pengembangan lembaga pendidikan,” tuturnya.

Meski demikian, menurut Syafiuddin, tidak semua nilai dalam prinsip itu dapat serta merta diadopsi, karena dunia pendidikan dan bisnis memiliki karakteristik berbeda.

Perbaikan Akhlak

Rektor UII, Harsoyo, menyambut baik penyelenggaraan seminar nasional ini.

“Rasulullah diutus ke umat manusia salah satu tujuan utamanya adalah untuk memperbaiki akhlak. Sekarang tugas ini menjadi tanggung jawab kita bersama, khususnya kaum terdidik dan para pendidik yang ada di perguruan tinggi,” tegas Harsoyo.

Sementara Dekan FIAI UII, Tamyiz Mukharrom, menambahkan, pihaknya akan terus berupaya mengaktualisasikan nilai-nilai Islam kontemporer dalam konteks kekinian, seperti pendidikan dan sosial budaya.

Seminar bertema pendidikan tersebut merupakan inisiatif Prodi Pendidikan Islam FIAI UII guna merespons isu sosial dekadensi moral bangsa yang semakin memprihatinkan.

Beberapa pembicara lain yang turut mengisi seminar ini, antara lain Ahmad Darmadji dan Sri Haningsih; keduanya adalah dosen FIAI UII.