Jogja Kembali 29 Juni 1949, Sebuah Peringatan tentang Pentingnya Persatuan dan Kesatuan

SENGIT - Diorama Monumen Yogya Kembali tentang pertempuran sengit antara tentara republik dan rakyat menghadapi serbuan tentara Belanda di Maguwo. (Foto: Marlina Giyanto)
SENGIT – Diorama Monumen Yogya Kembali tentang pertempuran sengit antara tentara republik dan rakyat menghadapi serbuan tentara Belanda di Maguwo. (Foto: Marlina Giyanto)

Danurejan, JOGJADAILY ** Semangat persatuan dan kesatuan semua lapisan masyarakat menjadi kunci sukses Serangan Umum 1 Maret 1949 dan Jogja Kembali 29 Juni 1949. Perjuangan berhasil karena kekompakan tentara angkatan bersenjata dan rakyat.

“Semangat pantang menyerah, ulet, gigih, rela berkorban, serta percaya kepada diri sendiri merupakan wujud nyata adanya persatuan dan kesatuan. Semangat dan jiwa dari nilai-nilai keteladanan tersebut patut untuk kita warisi dan diteladani hingga kini dalam tata-kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” ujar Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, dalam sambutan yang dibacakan Asisten Administrasi Umum Sekda DIY, GBPH Yudhaningrat.

Dirilis Humas DIY, GBPH Yudhaningrat bertindak sebagai pembina upacara pada upacara Peringatan Serangan Umum 1 Maret 1949 dan Jogja Kembali 29 Juni 1949 sebagai Tonggak Perjuangan Menuju NKRI yang Merdeka, Berdaulat, dan Merakyat, di halaman parkir Hotel Inna Garuda, Senin (29/6/2015).

Upacara dihadiri para pejabat militer dan sipil serta berbagai organisasi, seperti Paguyuban Werkreis, PEPABRI, PP Polri, PP AL, PP AU, PP AD, FKPPI, Pemuda Panca Marga, Dewan Harian Cabang 45, LVRI, serta Komunitas Jogjakarta 45.

Gubernur menjelaskan, Jogja Kembali adalah peristiwa penting bagi kemerdekaan Republik Indonesia. Kembalinya Jogja dari tangan penjajah Belanda menjadi awal dari kedaulatan Republik Indonesia yang ketika itu beribu kota di Yogyakarta.

“Pada hari tersebut pula, penjajah Belanda untuk pertama kalinya meninggalkan Jogja dan Indonesia untuk selamanya, dan tidak kembali lagi,” kata Gubernur.

Peran Sultan Hamengku Buwono IX

Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 dan Jogja Kembali 29 Juni 1949 tentu saja tidak dapat dilepaskan dari peran penting Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Dalam buku berjudul Tahta untuk Rakyat; Celah-celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX, termaktub banyak kisah menarik tentang kepribadian dan kepemimpinan beliau yang sangat nasionalis.

Setelah Proklamasi 1945 dikumandangkan, Belanda datang ke Indonedia membonceng NICA atau sekutu. Ketika Jakarta dikuasai Belanda, pada 1946, Sri Sultan Hamengku Buwono IX mengundang Soekarno-Hatta dan seluruh jajaran kabinet untuk memindahkan ibu kota ke Yogyakarta.

Ketika itu, Pemerintah Belanda menawari Sri Sultan Hamengku Buwono IX kekuasaan di seluruh Pulau Jawa dan Madura. Syaratnya, Belanda diperbolehkan menguasai wilayah-wilayah lain di Indonesia. Sri Sultan Hamengku Buwono IX menolak tawaran itu.

Sri Sultan Hamengku Buwono IX bahkan tidak segan menanggung seluruh biaya pemerintahan. Meski ia tidak pernah memberi tahu jumlah uang yang telah dikeluarkan, tapi Bung Hatta mengatakan, lebih dari 5 juta gulden dialokasikan untuk gaji Soekarno-Hatta dan kabinet, operasional TNI, serta pengiriman delegasi Indonesia ke konferensi internasional.

Ketika Soekarno-Hatta kembali ke Jakarta pada 1949, Sri Sultan Hamengku Buwono IX memberikan cek senilai 6 juta gulden sebagai modal membangun republik.