Komunitas Bule Mengajar, Ketika Kulon Progo Menarik Perhatian Warga Negara Asing

HISTERIA - Sesi foto bersama Komunitas Bule Mengajar. (Foto: Komunitas Bule Mengajar)
HISTERIA – Sesi foto bersama Komunitas Bule Mengajar. (Foto: Komunitas Bule Mengajar)

Wates, JOGJADAILY ** Berawal dari keinginan memperkenalkan potensi daerah, muncullah ide membuat komunitas berisi kaum muda, dengan tujuan mengajak warga negara asing datang ke Kabupaten Kulon Progo.

“Komunitas Bule Mengajar mempunyai ide untuk membuat program mengajak warga negara asing atau yang selanjutnya disebut partisipan program untuk datang ke sekolah dan berinteraksi dengan warga lokal kabupaten Kulon Progo,” ujar Pendiri dan Ketua Komunitas Bule Mengajar, Lia Andarina Grasia, kepada Jogja Daily, Sabtu (6/6/2015).

Ia menjelaskan, ide mengenai program tersebut terus dikembangkan dan dibuat semenarik mungkin, sehingga warga negara asing yang berpartisipasi tidak merasa bosan dan mendapat nilai lebih bagi pengalaman hidup mereka.

“Kata ‘bule’ mengandung artian orang asing atau warga negara asing, sedangkan kata ‘mengajar’ diartikan sebagai suatu langkah untuk berbagi pengetahuan akan budaya yang dimiliki warga negara asing tersebut dengan budaya yang dimiliki masyarakat lokal Kabupaten Kulon Progo,” terang Mahasiswa S2 Magister Kajian Pariwisata UGM tersebut.

Komunitas ini memulai kegiatannya, Februari 2014, dengan partisipan warga negara asing dari Madagaskar Afrika. Pelaksanaan kegiatan sama sekali tidak memungut bayaran, baik dari pihak sekolah maupun partisipan. Pendanaan komunitas didapat dari iuran bulanan anggota komunitas.

Pada 28 Oktober 2014, anggota komunitas berjumlah 19 anggota, meningkat menjadi 28 anggota pada Mei 2015. SMP dan SMA dipilih sebagai tempat diadakannya program Bule Mengajar karena dianggap mampu menerima dan berbagi pengetahuan tentang budaya lokal dengan budaya yang dimiliki partisipan program. Kegiatan partisipan di sekolah diadakan pada Sabtu selama 2 jam.

Tinggal Bersama Warga

Partisipan program tinggal selama 3 hari 2 malam di rumah warga sehingga memungkinkan terjadinya interaksi, baik dari segi sosial dan budaya antara warga lokal dengan partisipan. Desa Bendungan dan Desa Ngestiharjo di Kecamatan Wates merupakan desa yang sering dijadikan lokasi tinggal partisipan.

Pendiri dan Ketua Komunitas Bule Mengajar, Lia Andarina Grasia. (Foto: Dokumen Pribadi)
Pendiri dan Ketua Komunitas Bule Mengajar, Lia Andarina Grasia. (Foto: Dokumen Pribadi)

Partisipan juga akan diajak ke beberapa daya tarik wisata Kulon Progo, antara lain Pantai Glagah dan lagunanya, Kebun Buah Naga, Waduk Sermo, Desa Wisata Kalibiru, Kebun Teh Nglinggo, Goa Maria Sendangsono, dan Curug Sidoharjo.

Komunitas Bule Mengajar mengajak partisipan untuk menikmati suasana Kota Wates pada malam hari, menonton pertunjukan kesenian, mengunjungi industri pembuatan gula semut di Kecamatan Pengasih, berjalan-jalan di Pasar Wates, berkeliling desa, melihat pemandangan sawah dan sungai Serang, serta mengunjungi Pasar Tani setiap Minggu pagi.

Hingga Sabtu (6/6/2015), program ini telah diikuti 59 partisipan dari 18 negara seperti Thailand, Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, Jerman, Prancis, Belanda, Swedia, Slovenia, Amerika Serikat, Hungaria, Portugal, Uganda, Kepulauan Fiji, Yaman, Lesotho, Madagaskar, dan Maroko.

Pengembangan

Kini, Komunitas Bule Mengajar mempunyai beberapa rencana pengembangan, baik dalam jangka pendek maupun panjang. Beberapa rencana program tersebut antara lain turut membantu pengembangan konservasi penyu di Pantai Trisik, program pelepasan tukik atau anak penyu di Pantai Trisik, membersihkan area Pantai Trisik saat musim penyu bertelur yaitu pada Juni hingga Agustus.

Selain itu, program penanaman bakau di sebelah barat Pantai Congot, Pelatihan Bahasa Inggris gratis untuk warga Kabupaten Kulon Progo usia 11 tahun hingga 17 tahun, pelatihan pemandu wisata berbahasa Inggris untuk warga Kabupaten Kulon Progo berusia 18 tahun hingga 30 tahun.