Lomba Tebu DIY 2015, Kelompok Tani Ngudi Rejeki Ngaglik Wakili Kabupaten Sleman

LOMBA TEBU - Penilaian Lomba Tebu DIY 2015 di Kelompok Tani Ngudi Rejeki, Yapah, Sukoharjo, Ngaglik. (Foto: Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Sleman)
LOMBA TEBU – Penilaian Lomba Tebu DIY 2015 di Kelompok Tani Ngudi Rejeki, Yapah, Sukoharjo, Ngaglik. (Foto: Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Sleman)

Ngaglik, JOGJADAILY ** Kelompok Tani Ngudi Rejeki, Yapah, Sukoharjo, Ngaglik, mewakili Pemerintah Kabupaten Sleman dalam Lomba Tebu Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2015.

Dirilis Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Sleman, penilaian lomba dilaksanakan Rabu (17/6/2015) di areal kebun tebu milik Sarwiji dan rumah Ketua Kelompok Tani Ngudi Rejeki, Sugiyanto.

Beberapa kriteria telah dipenuhi Kelompok Tani Ngudi Rejeki sebagai peserta lomba, yakni usaha tani tebu minimal tiga tahun berturut-turut, anggota Koperasi Petani Tebu Rakyat (KPTR), belum pernah mendapatkan penghargaan tingkat nasional dalam waktu lima tahun terakhir untuk kegiatan yang sama.

Selain itu, mempunyai kepengurusan kelompok aktif dan memiliki aktivitas, serta diutamakan kelompok yang melakukan integrasi dengan usaha lain untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan anggota kelompoknya.

Aspek penilaian lomba meliputi gatra teknis, gatra sosial, gatra ekonomi, dan gatra pendukung. Gatra teknis berkaitan dengan varietas tebu yang ditanam, asal usul benih, teknik penggunaan pupuk, teknik pemeliharaan, upaya pengendalian OPT, hasil produksi, rendemen, rata-rata jumlah batang per rumpun, jumlah tanaman per lubang, berat per batang, ukuran batang tebu, brix rata-rata.

Gatra Sosial berkaitan dengan rencana kerja kelompok, teknik usaha tani dari aspek waktu, tenaga kerja, pengembangan kelompok tani, kerja sama dengan PT Madu Baru, peran dalam KPTR, peningkatan kemampuan kelembagaan dan dokumentasi pembukuan kelompok tani.

Gatra Ekonomi berkaitan dengan penerapan analisis usaha tani, keuntungan agribisnis tebu, pemasaran, teknik pasca-panen.

Sementara gatra pendukung berkaitan dengan upaya peningkatan kemampuan petani dengan petugas dinas maupun PT Madubaru, penerapan inovasi baru, dokumentasi/pembukuan yang disiapkan secara akurat, upaya perluasan areal, upaya kerja sama dengan pihak pemerintah.

Lomba Tahunan

Lomba Tebu diselenggarakan tahunan oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY melalui anggaran APBN Tugas Pembantuan. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, penilaian lomba kali ini tidak hanya pada kebun tebu, tapi juga penilaian kelompok tani tebu.

Menurut Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY, lomba terhadap kelompok tani tebu merupakan salah satu metode pembinaan-penyuluhan cukup strategis, guna mendampingi, memonitor, dan mengevaluasi perkembangan kelompok tani, serta memberikan motivasi bagi kelompok tani dalam mengelola tebu, untuk mewujudkan kelompok tani yang tangguh, dinamis, dan mandiri.

Lomba kelompok tani tebu diselenggarakan dalam rangka peningkatan produksi, produktivitas, dan mutu tanaman semusim. Diharapkan lomba mampu meningkatkan semangat, motivasi, serta prestasi bagi para kelompok tani dan petani tebu untuk melaksanakan budidaya yang lebih baik, sehingga dapat meningkatkan produksi dan produktivitas, mendukung tercapainya swasembada gula nasional.

Tim penilai lomba terdiri dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY, PG Madukismo, dan akademis dari INSTIPER Yogyakarta.

Tebu, Komoditas Andalan Sleman

Tebu merupakan salah satu komoditas andalan Kabupaten Sleman dengan luas areal pada musim tanam tahun 2014/2015 mencapai 1.246,22 ha dengan produktivitas rata-rata 439,64 Kw/ha.

Kementerian Pertanian sub-sektor perkebunan telah mencanangkan program swasembada gula nasional pada 2015. Upaya pemerintah dalam mewujudkan swasembada gula dilakukan melalui perbaikan bahan tanam, penataan varietas tebu, intensifikasi/rawat ratoon, bongkar ratoon, dan perluasan areal.

Permasalahan yang dihadapi dalam rangka mewujudkan swasembada gula antara lain produktivitas dan rendemen yang masih rendah, lahan yang relatif sempit dengan ketersediaan lahan yang sangat terbatas, penggunaan bibit belum sesuai anjuran teknis, serta dalam hal sumberdaya manusia belum mengaplikasikan teknologi budidaya tebu sesuai baku teknis.

Kendala tersebut mampu diatasi apabila petani maupun petugas bekerja secara profesional.