Mudik Lebaran 2015, Hengki Purwoto: Perlu Kebijakan Transportasi dan Logistik untuk DIY

MUDIK LEBARAN 2015 - Salah satu Board of Researcher Pustral UGM, Hengki Purwoto, menyampaikan pentingnya antisipasi problem transportasi dan logistik Lebaran 2015. (Foto: Arif Giyanto)
MUDIK LEBARAN 2015 – Salah satu Board of Researcher Pustral UGM, Hengki Purwoto, menyampaikan pentingnya antisipasi problem transportasi dan logistik Lebaran 2015. (Foto: Arif Giyanto)

Mlati, JOGJADAILY ** Menjelang masa mudik Lebaran tahun ini, beberapa antisipasi persoalan musiman mulai dibicarakan beberapa kalangan. Pemerintah daerah di lingkup DIY diharapkan concern pada pengawasan transportasi dan logistik untuk menjaga stabilitas kondisi.

“Kalau stakeholders Jakarta berpikir bagaimana mengirimkan orang untuk berlebaran dan mudik ke luar Jakarta, sementara Jogja justru kebanjiran pemudik. Pada saat Lebaran, biasanya Jogja mulai macet di titik-titik tertentu,” ujar salah satu Board of Researcher Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada (Pustral UGM), Hengki Purwoto, kepada Jogja Daily, Selasa (23/6/2015), di kantornya.

Ia menjelaskan, saat Lebaran, harga-harga kebutuhan juga cenderung naik, dikarenakan belum adanya manajemen logistik yang khusus. Secara sederhana, logistik dapat dipahami sebagai proses mendapatkan barang yang tepat, pada waktu tepat, dengan jumlah tepat, kondisi tepat, serta dengan biaya terjangkau.

“Permintaan barang biasanya naik berkali lipat saat Lebaran, sementara kelogistikan masih seperti biasanya. Misalnya, kebutuhan akan bawang merah naik, tapi jumlah truk pengantar dari Brebes tidak bertambah. Biaya pengiriman menggunakan truk kemudian naik. Harga bawang merah pun naik,” terang Hengki.

Pedagang menaikkan harga barang, sambungnya, karena beberapa sebab. Selain mempertimbangkan biaya produksi, pedagang juga dipengaruhi sistem transportasi dan logistik, juga rantai pasok (supply chain) komoditas.

“Oleh karena itu, pemerintah sebaiknya mulai menginventarisasi kebutuhan publik yang paling dicari saat Lebaran, bukan hanya sembako. Hal tersebut untuk mengantisipasi persoalan musiman yang selama ini belum terurai, seperti kemacetan dan naiknya harga-harga,” ucap dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM itu.

Sistem Transportasi Perkotaan Terintegrasi

Sebelumnya, Kasubid Litbang Eksosbud Bappeda Kota Yogyakarta, Affrio Sunarno, mengatakan, untuk mempertahankan citra Kota Jogja sebagai tujuan wisata nasional, dibutuhkan manajemen transportasi lebih khusus, daripada yang telah dilakukan sekarang.

Menurutnya, kenyamanan wisatawan dengan pelayanan transportasi prima akan semakin memperkuat branding pariwisata yang berimpak pada terus membanjirnya wisatawan ke Jogja.

“Jogja sebagai Kota Budaya atau Jogja sebagai Kota Pendidikan telah berhasil dicapai. Kini saatnya menyelesaikan persoalan yang muncul setelah Jogja mulai padat dengan aktivitas pariwisata atau penunjangnya,” tuturnya.

Affrio mengungkapkan, manajemen transportasi kota adalah masalah yang dihadapi hampir semua kota metropolis di dunia. Menyusul Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandung, dan Malang, Kota Jogja telah waktunya concern pada tata-kelola transportasi kota, karena faktanya, wisatawan yang datang semakin banyak.

Hal yang selalu menjadi pertimbangan utama, lanjutnya, menyelesaikan problem metropolis Kota Jogja tidak melulu tentang perekonomian. Ia menegaskan, faktor sosial dan budaya sangat menentukan bagi keberlanjutan sebuah kebijakan publik.

“Keistimewaan Jogja dengan nilai-nilai luhur yang istimewa menjadi fondasi penting menyelesaikan masalah perkotaan, seperti kemacetan, sampah, hunian, kemiskinan, pengangguran, dan sebagainya. Dialog sangatlah penting untuk memverifikasi program,” pungkas alumnus Fisipol UGM tersebut.