Parade 22 Andong Meriahkan AEC International Festival Andong 2015

PARADE ANDONG - AEC International Festival Andong 2015, Minggu (7/6/2015), di kawasan Alun-Alun Utara dan Jalan Malioboro. (Foto: Humas UMY)
PARADE ANDONG – AEC International Festival Andong 2015, Minggu (7/6/2015), di kawasan Alun-Alun Utara dan Jalan Malioboro. (Foto: Humas UMY)

Gondomanan, JOGJADAILY ** Sejumlah 22 andong memeriahkan ASEAN Economic Community (AEC) International Festival Andong 2015, Minggu (7/6/2015). Festival ini digelar The Andong English Club dalam rangka penutupan kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dengan berputar mengitari kawasan Alun-Alun Utara dan Jalan Malioboro.

“Selain untuk menutup kegiatan PKM Tim The Andong English Club, festival ini juga dimaksudkan untuk mengenalkan ASEAN Economic Community yang akan dimulai pada akhir tahun 2015 kepada para kusir andong dan masyarakat umum lainnya,” ujar Ketua Tim Andong English Club, M. Anif Afandi, dirilis Humas UMY.

Ia menjelaskan, hal ini dimaksudkan agar masyarakat luas, khususnya para kusir Andong, sadar bahwa MEA 2015 berdampak hingga kalangan kecil. Oleh karenanya, Tim The Andong English Club lebih menekankan pengajaran Bahasa Inggris kepada para kusir andong. Karena, para kusir andong adalah ujung tombak pengenalan budaya Jogja kepada turis asing.

Sebelumnya, The Andong English Club telah mengadakan program pengajaran Bahasa Inggris kepada 40 kusir andong di kawasan Malioboro sejak 21 Maret 2015 hingga 3 Juni 2015.

“Kita mengajari kusir andong, soalnya mereka sebelumnya tidak bisa berbahasa Inggris secara lancar dengan turis. Padahal, mereka yang mengantar turis berkeliling Jogja. Mereka juga tidak bisa tawar-menawar dengan turis dalam Bahasa Inggris,” ungkap Anif.

Dalam menjalankan program PKM dengan melakukan pengajaran Bahasa Inggris kepada para kusir Andong, tim ini merasa disambut baik oleh para kusir. Sebab, program pengajaran Bahasa Inggris kepada kusir Andong memang pernah ada pada 1982.

“Karena ada program seperti ini (pengajaran bahasa Inggris) lagi, jadi para kusir senang. Mereka merasakan manfaatnya. Kalau biasanya mereka hanya bisa tawar-menawar dengan turis asing ditulis dengan handphone, sekarang mereka bisa tawar-menawar dengan berbicara langsung ke turisnya,” terang anggota The Andong English Club yang lain, Indana Zulfa.

Jika dahulu para kusir hanya bisa terdiam ketika mengantarkan turis ke tempat tujuannya, menurut Indana, sekarang para kusir andong dapat menjelaskan daerah-daerah di sekitar Malioboro dengan Bahasa Inggris kepada para turis asing.

“Dan tentunya hal ini juga akan semakin menambah potensi ketertarikan wisatawan asing terhadap budaya Jogja dan Indonesia secara umum,” kata Indana.

Project Child

Dalam memeriahkan acara, hadir pula Komunitas Project Child, RBIB (Rumah Belajar Indonesia Bangkit), dan Dimas Diajeng kota Jogja dan Bantul.

“Project Child itu komunitas di Jogja yang biasa mengajar anak-anak yang kurang mampu. Mereka mengajari anak-anak itu dengan cuma-cuma. RBIB itu juga sama, ngajar anak-anak kecil. Biasanya di daerah Kali Code,” tutur Anif.

Tim Andong English Club beranggotakan lima mahasiswa Ilmu Ekonomi UMY, yakni Muhammad Anif Afandi, Indana Zulfa, Yuni Wahyuni, Gustiva Andri, dan Ravin Siddiq.

Pembukaan festival dilakukan secara simbolis di Alun-Alun Utara dengan pemotongan pita pada pagi hari pukul 08.00. Selain diisi parade 22 andong, festival dihadiri para mahasiswa internasional asal Australia, Jerman, Brasil, dan Mesir yang menempuh pendidikan di UMY dan UGM.