Pemkab Bantul dan UAJY Tanda Tangani MoU Pengembangan Potensi Daerah

FAVORIT - Salah satu destinasi favorit Kabupaten Bantul, Pantai Parangtritis. (Foto: Arif Giyanto)
FAVORIT – Salah satu destinasi favorit Kabupaten Bantul, Pantai Parangtritis. (Foto: Arif Giyanto)

Bantul, JOGJADAILY ** Pemerintah Kabupaten Bantul dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta melakukan penandatanganan kesepakatan bersama dalam peningkatan dan pengembangan potensi sumberdaya daerah Kabupaten Bantul melalui bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Bupati Bantul, Sri Suryawidati, menerima Rektor Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), G. Sri Nur Hartanto, di Ruang Kerja Bupati, Kamis (28/5/2015).

“Tujuan kesepakatan bersama tersebut dapat memberikan manfaat bagi pemberdayaan masyarakat dan peningkatan sumberdaya daerah di Kabupaten Bantul secara terpadu, koordinatif, dan sinergis di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat,” ujar Sri Nur Hartanto, dirilis Pemkab Bantul.

Sementara Bupati Bantul menyampaikan terima kasih atas perhatian UAJY yang telah menunjuk Kabupaten Bantul sebagai obyek pengabdiannya.

“Diharapkan dari kerja sama ini ke depan dapat memberikan sumbangan dalam meningkatkan pemberdayaan masyarakat dan nilai sumberdaya daerah di Kabupaten Bantul ini,” kata Bupati.

Potensi Pesisir Bantul

Pusat Kewirausahaan (Puswira) UAJY pernah mengembangkan sebuah desa wisata di Pantai Depok, Bantul. Meski hanya berjalan tiga semester dari empat semester yang direncanakan, setidaknya ada banyak temuan yang dapat diceritakan ke publik.

“Hal terpenting membangun desa wisata pesisir adalah mindset. Sumberdaya manusia harus siap. Tidak berpikir bagaimana mendapatkan uang sebanyak mungkin dalam waktu sebentar, tapi juga mengkreasi program jangka panjang berkelanjutan,” ujar Pimpinan Puswira, Anna Purwaningsih, kepada Jogja Daily, beberapa waktu lalu.

Ia melanjutkan, lokasi yang ada memungkinkan masyarakat untuk mengkreasi aktivitas yang melibatkan semua kalangan. Fasilitas pemerintah, baik dalam bentuk pembiayaan, pendampingan, atau yang lain juga diperlukan.

Selain itu, promosi dengan memaksimalkan media umum dan komunitas, baik cetak, online, radio, maupun televisi mempercepat penyampaian informasi. Hal yang tak kalah penting adalah kebijakan pembayaran retribusi yang tidak memberatkan.

Anna menjelaskan konsep desa wisata ideal di kawasan pesisir. Menurutnya, desa wisata pesisir menjual kehidupan masyarakat pantai sehari-hari. Pantai merupakan anugerah yang sudah ada sejak mereka dilahirkan, berbeda dengan masyarakat di pedalaman yang harus bersusah payah mengkreasi tempat agar menarik.

“Desa wisata pesisir bukan hanya tempat beraktivitas tapi juga berekreasi. Modal alam yang luar biasa dapat ‘dijual’ apabila masyarakatnya terbuka dan mau berubah. Biasanya masyarakat pesisir, terutama tujuan obyek wisata sering berpikir, tanpa pendampingan saja sudah laku, buat apa didampingi,” papar Anna.

Untuk memaksimalkan desa wisata pesisir, sambungnya, dibutuhkan kewirausahaan pesisir. Mengkreasi aktivitas rekreasi menyenangkan bagi wisatawan.

“Kewirausahaan jangan dipandang hanya sebagai bertemunya penjual dan pembeli kemudian melahirkan transaksi. Kewirausahaan adalah kemampuan melihat hal yang biasa menjadi sesuatu bernilai tambah,” tutur Anna.

Masyarakat pesisir, sambungnya, tidak hanya memanfaatkan laut sebagai sumber matapencarian sehari-hari, tapi juga mampu melihat banyak peluang pengembangan bisnis sebagai sumber pendapatan baru agar lebih sejahtera.

“Misalkan membuat ajang voli pantai. Biayanya murah, dan wisatawan dapat menyewanya per jam. Asalkan dikelola berkelanjutan, hal-hal kecil tersebut dapat meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir,” pungkasnya.