Ramadhan 1436 H, Bulan Ampunan Bulan Istimewa

KHIDMAT - Suasana Shalat Tarawih Malam Kedua Ramadhan 1436 H di Masjid Al-Huda Harnas Jageran. (Foto: Arif Giyanto)
KHIDMAT – Suasana Shalat Tarawih Malam Kedua Ramadhan 1436 H di Masjid Al-Huda Harnas Jageran. (Foto: Arif Giyanto)

Tentu kita paham bahwa kewajiban Puasa Ramadhan jatuh pada tiap awal Bulan Ramadhan. Namun ada yang menarik di Indonesia. Penentuan awal Bulan Ramadhan sering kali berbeda antara satu komunitas Muslim dengan komunitas Muslim lain, sehingga pemerintah merasa perlu untuk menggelar Sidang Isbat agar secara resmi ditentukan awal Bulan Ramadhan dan awal Bulan Syawal.

Kita juga paham, hal ini disebabkan perbedaan metode dalam menentukan awal Bulan Ramadhan. Berbeda antara metode ru’yatul hilal dengan metode hisab. Hal ini telah menjadi perkara lumrah di Indonesia, sehingga perlu disikapi sewajarnya saja.

Kewajaran lain adalah mengenai aturan yang memperbolehkan bagi Muslim tertentu untuk meninggalkan kewajiban puasa, seperti bagi orang yang sedang melakukan perjalanan jauh yang benar (sofar tho’at), wanita haid, anak-anak yang belum balig, orang tua, dan orang yang menderita sakit yang sekira sakitnya akan bertambah parah manakala dia berpuasa.

Karena ada ketentuan ini maka menjadi wajar jika ada warung makan dan restoran yang tetap buka pada tengah hari. Sebaliknya, tidak wajar jika ada sekelompok orang, karena alasan menghormati Bulan Ramadhan, memaksa warung-warung makan tutup pada siang hari. Barangkali mereka lupa ada ‘kelonggaran’ di atas bagi Muslim dalam keadaan tertentu.

Ramadhan Bulan Istimewa

Bulan Ramadhan memiliki beberapa keistimewaan dibanding bulan lain. Pada bulan ini, Kitab Suci Al-Quran diturunkan pertama kali, yaitu pada Malam Qadar atau sering kita sebut dengan Lailatul Qadar. Malam inilah yang paling dinanti dan dicari oleh umat Muslim.

Salah seorang alim mengatakan bahwa orang yang mendapatkan Lailatul Qadar itu seperti orang yang memakai minyak wangi. Hanya satu orang yang memakai minyak wangi, tetapi banyak orang yang keenakan mencium wanginya. Saking ampuhnya, seorang yang ahli (sering) maksiat, apabila mendapat Lailatul Qadar maka pada malam itu juga akan ‘digiring’ bertobat, dan diterimalah tobatnya.

Bulan Ramadhan menjadi bulan istimewa, juga karena pada bulan inilah perintah puasa turun, sebagai pertanda turunnya rahmat ilahi. Sebagian dari rahmat ilahi adalah dikabulkannya setiap doa hambanya.

Dalam Musnad-nya, Imam Abu Daud ath-Thayalisi meriwayatkan dengan isnad dari Abdullah bin ‘Umar yang mengatakan bahwa dirinya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Waktu berbuka adalah saat yang mustajab bagi doa orang yang berpuasa.”

Hadits ini selalu dipraktikkan oleh Abdullah bin ‘Umar. Bila waktu berbuka tiba, ia memanggil keluarga, istri, dan anak-anaknya, untuk berdoa.

Imam Ibu Majah, dalam kitab Sunan-nya, juga meriwayatkan hadits serupa dengan isnad dari Ibnu ‘Umar yang berkata, Nabi Muhammad bersabda, “Sesungguhnya pada saat berbuka, orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak akan ditolak.”

Puasa dalam ketentuan syariat adalah menahan diri dari makan, minum, dan bersetubuh, sejak masuk subuh hingga masuk waktu magrib. Sedangkan puasa dari segi rohani bermakna membersihkan semua panca indra dan pikiran dari hal-hal yang haram, selain menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkannya yang telah ditetapkan dalam puasa syariat. Dalam puasa harus diusahakan keduanya berpadu secara harmonis. Faedah atau manfaat terbesar yang akan diraih oleh orang-orang berpuasa adalah agar jiwanya menjadi bertakwa dengan cara mengekang hawa nafsunya dan keinginan-keinginan yang menyebabkan batalnya puasa.

Pada saat menyinggung Puasa Ramadhan, seorang penceramah atau mubalig biasanya tidak lupa menyitir surat Al-Baqarah ayat 183-187.

Pada ayat pertama seputar ayat shiyam itu, sebelum mewajibkan puasa, Allah memanggil kita dengan panggilan yang sangat mengesankan, “Yaa ayyuhal ladzina aamanuu…” yang artinya “Wahai, orang-orang yang beriman….”

Panggilan ini menunjukkan bahwa perintah puasa baru disyariatkan setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, di mana masyarakat Muslim sudah cukup kuat dan mapan. Sebab, ayat ini masuk dalam kategori ayat madaniah, yang ditandai dengan panggilan, wahai orang-orang beriman.

Setelah Allah memanggil kita dengan status keimanan maka Allah menetapkan kewajiban berpuasa kepada kita sebagai hamba-hamba-Nya yang mukmin.

Kita tidak sendiri. Kewajiban puasa ini bukan hanya ditujukan kepada kita saja, umat Nabi Muhammad SAW, melainkan juga diperuntukkan bagi umat-umat terdahulu yang beriman.

Imam Ath-Thabari dalam karyanya, Jami’ al-Bayan, menerangkan bahwa Puasa Ramadhan juga disyariatkan atas Kaum Nasrani. Mereka diwajibkan untuk tidak makan dan minum setelah bangun tidur, dan mereka tidak diperbolehkan menikah dalam Bulan Ramadhan.

Mereka merasa berat melakukan puasa itu, karena bulannya jatuh secara bergantian pada musim dingin dan musim panas. Akhirnya, mereka mengambil kesepakatan untuk mengganti bulan puasa itu pada musim semi dan mereka menambah lamanya puasa dengan 20 hari sebagai kafarat, sehingga puasa mereka menjadi 50 hari.

Puasa Hakiki

Puasa merupakan tindakan ruhani untuk mereduksi watak-watak kezaliman, ketidakadilan, egoisme, dan keinginan yang hanya untuk dirinya sendiri. Inilah yang pernah ditekankan oleh Syekh Siti Jenar kepada murid-muridnya. Buahnya adalah kejujuran terhadap diri sendiri, orang lain, dan kejujuran di hadapan Tuhan tentang kenyataan dan eksistensi dirinya.

Syekh Siti Jenar mengajarkan kepada muridnya mengenai puasa hakiki, selain puasa syariat yang tata-caranya sudah lazim kita ketahui. Puasa hakiki disebut sebagai puasa yang sebenarnya, atau yang hakiki.

Puasa ini adalah puasa dengan menahan hati dari menyembah, memuji, mencari yang ghairullah (yang selain Allah). Puasa yang dilakukan dengan cara menahan mata hati dari memandang ghairullah, baik yang lahir maupun yang batin.

Kanjeng Syekh Siti Jenar hendak menggiring murid-muridnya agar tidak menjadi hamba dunia, dan perkara melalaikan lain yang memosisikan manusia pada posisi ‘memunggungi’ Tuhan Semesta Alam. Karena terlampau susah, tidak banyak orang yang dapat mencapai tahapan puasa hakiki ini. Namun bagaimanapun kita harus bersyukur bahwa syariat mensyaratkan batal dan tidaknya puasa seseorang hanya pada perkara lahir saja, bukan perkara batin.

Pentingnya puasa hakiki sebenarnya sudah kita pahami dalam perintah Rasulullah SAW pada saat beliau memerintahkan untuk menjaga kebersihan hati dalam menjalankan puasa. Karena kebersihan hati inilah yang menjadi ukuran diterimanya puasa seseorang.

Tradisi Ramadhan

Dalam menjaga kebersihan batin dan niat, leluhur Bangsa Indonesia mengupayakan beberapa tradisi menyambut Bulan Ramadhan yang akhir-akhir ini sering disalahpahami oleh beberapa kalangan. Menjelang Ramadhan, orang-orang di kampung selalu sibuk. Sebulan sebelum berpuasa, orang-orang sudah mulai membersihkan rumah masing-masing, selain membersihkan surau, mushola, dan masjid-masjid.

Setiap akhir Bulan Sya’ban, menjelang Bulan Ramadhan, saudara Muslim di Pulau Jawa masih menjaga dan melakukan tradisi ‘nyadran’. Mereka berbondong-bondong mendatangi pemakaman-pemakaman untuk membersihkan makam, dan berziarah, mendoakan orangtua atau sanak keluarganya yang telah mendahului.

Selain rumah, masjid, dan makam, kebersihan lahir batin juga mendapat perhatian. Selain menjaga kebersihan batin, seorang Muslim yang baik juga harus memperhatikan kebersihan badannya. Karena itu, selain nyadran sebagai usaha untuk membersihkan batin, kita juga mengenal istilah padusan, atau mandi keramas yang dilakukan sehari sebelum tanggal 1 Ramadhan.

Tradisi mandi keramas atau padusan ini rupanya juga berlaku di beberapa daerah di Indonesia, seperti masyarakat Muslim Padang dengan tradisi marpangir menjelang bulan suci Ramadhan. Asal kata marpangir dari kata pangir, yaitu ramuan bahan alamiah yang digunakan untuk membersihkan rambut dan sekujur tubuh. Ramuan itu terdiri atas limau alias jeruk nipis (Citrus aurantifolia), jeruk purut (Citrus hystrix), kemudian daun pandan, ampas kelapa, dan dilengkapi dengan pengharum seperti bunga mawar, bunga kenanga, atau akar wangi.

Sejatinya, mereka bergembira atas sabda Nabi SAW, “Apabila telah datang bulan Ramadhan, pintu-pintu langit dibuka, sedangkan pintu-pintu neraka akan ditutup, dan setan dibelenggu .” (HR Bukhari dan Muslim)

Kegembiraan itu mereka wujudkan dalam kegiatan tersebut di atas, seperti bersih-bersih desa, ziarah kubur, mandi keramas, atau padusan bagi Muslim Jawa atau marpangir bagi Muslim di daerah Padang, serta membersihkan surau, menata mushala dan masjid, berbuat kebaikan, dan menebar pesona yang menenteramkan. Karena Ramadhan adalah bulan ampunan.