Solar Water Pumping System, Manfaatkan Tenaga Surya Atasi Krisis Air Gunungkidul

TENAGA SURYA - Kamis (4/6/2015), Peresmian SWPS oleh Wakil Gubernur DIY, Paku Alam IX, di Balai Padukuhan Banyumeneng I, Desa Giriharjo, Kecamatan Panggang, Gunungkidul. (Foto: Humas DIY)
TENAGA SURYA – Kamis (4/6/2015), Peresmian SWPS oleh Wakil Gubernur DIY, Paku Alam IX, di Balai Padukuhan Banyumeneng I, Desa Giriharjo, Kecamatan Panggang, Gunungkidul. (Foto: Humas DIY)

Panggang, JOGJADAILY ** Pengangkatan Air Tenaga Surya (Solar Water Pumping System) menjadi salah satu solusi kekeringan Gunungkidul. Berlokasi di Padukuhan Banyumeneng I, Desa Giriharjo, Kecamatan Panggang, Gunungkidul, daya panel surya sebesar 8.000 wp dan mampu mengalirkan air ke 90 KK dengan debit 20 kL/hari.

“Proyek SWPS ini berawal dari sebuah mimpi untuk membantu masyarakat yang kekurangan air. Kini, ketika proyek telah berhasil, saya menitipkan proyek ini kepada masyarakat Banyumeneng I untuk dijaga keberlangsungannya,” ujar Presiden Direktur Energi Bersih Indonesia (EnerBI), Dinar Ari Prastyo, Kamis (4/6/2015), saat Peresmian SWPS oleh Wakil Gubernur DIY, Paku Alam IX, di Balai Padukuhan Banyumeneng I.

Awalnya, proyek yang digagas Komunitas Mahasiswa Sentra Energi (Kamase) jurusan Teknik Fisika UGM pada 2007 tersebut hanya membuat panel surya bertenaga 1.200 wp yang mampu mengaliri 30 KK di Dusun Banyumeneng I dengan debit rataan 5 kL/hari.

Pada 2014, alumni Kamase yang tergabung dalam organisasi Energi Bersih Indonesia (EnerBI), berhasil menggandeng Alstom Foundation untuk mengembangkan SWPS di Banyumeneng I.

General Manager Alston, Bernard Anthony, menyampaikan kerja keras yang dilakukan selama ini telah terbalas dengan mengalirnya air ke rumah-rumah warga Banyumeneng I. Kini, Alston tengah melakukan penjajakan untuk mengimplementasikan SWPS di Banyumeneng II dan III.

Sedangkan untuk menjaga keberlangsungan SWPS, telah dilakukan kerja sama dengan Satker IKK Kementerian PU, OPAKg, dan Pammaskarta.

Dirilis Humas DIY, atas keberhasilan implementasi SWPS di Dusun Banyumeneng I, Wakil Gubernur DIY mengucapkan terima kasihnya kepada semua pihak yang telah berperan, apalagi persediaan air bersih di Indonesia pada umumnya dan khususnya di daerah terpencil mulai berkurang.

Sementara Bupati Gunungkidul, Badingah, melalui sambutan tertulis yang dibacakan Wakil Bupati Gunungkidul Imawan Wahyudi, melaporkan, 70 persen kebutuhan air di Gunungkidul bisa dicukupi PDAM. Sisanya, difasilitasi Satker PAM DIY menggunakan SPAMDes, baik itu kegiatan mandiri masyarakat maupun kerja sama dengan Kementerian PU.

Dropping Air Bersih

Sebelumnya, pemerhati sosial, Simpul Oktavianto, mengatakan bahwa sejak lama, Gunungkidul dikenal sebagai wilayah kering air bersih, terutama saat masuk musim kemarau, sehingga harus dilakukan dropping air bersih kepada masyarakat, khususnya di wilayah pesisir pantai Selatan Gunungkidul.

“Padahal, di sisi lain, kandungan air bawah tanah yang ada di perut Bumi Handayani ternyata sangat banyak, bahkan melimpah,” ujar Simpul kepada Jogja Daily, Selasa (26/5/2015).

Ia menjelaskan, baru sedikit potensi air bersih yang dimanfaatkan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), baik sumber bendungan air sungai bawah tanah, sumur bor, maupun mata air telaga.

“Perlu ada terobosan dari Pemerintah Kabupaten Gunungkidul untuk mewujudkan wilayah mandiri air bersih, karena sesungguhnya untuk bebas dari kekeringan dan kekurangan air bersih bukanlah ‘mimpi di siang bolong’,” terangnya.

Simpul mengungkapkan, potensi air bersih terkandung yang ada di Gunungkidul diperkirakan sebesar 3.047 liter per detik atau 263 juta liter per hari. Sementara untuk mencukupi kebutuhan air seluruh rakyat Gunungkidul hanya membutuhkan air bersih sebanyak 61 juta liter per hari dengan standar UNESCO 80 liter per orang per hari.

“Tentunya pada Pilkada Gunungkidul tahun 2015, salah satu kriteria pemimpin ke depan adalah yang sanggup dan mampu membawa Gunungkidul terbebas dari krisis air bersih,” tegasnya.