Wujudkan Kesejahteraan dan Segoro Amarto, Kapasitas RT-RW Harus Kuat

RT-RW - Wakil Walikota Yogyakarta, Imam Priyono, saat acara Penguatan Kapasitas RT-RW se-Kecamatan Mergangsan. (Foto: Humas Pemkot Yogyakarta)
RT-RW – Wakil Walikota Yogyakarta, Imam Priyono, saat acara Penguatan Kapasitas RT-RW se-Kecamatan Mergangsan. (Foto: Humas Pemkot Yogyakarta)

Mergangsan, JOGJADAILY ** Penguatan kapasitas Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) menjadi faktor penting terwujudkan kesejahteraan Kota Yogyakarta. Selain itu, untuk mengaplikasikan Segoro Amarto (Semangat Gotong-Royong Agawe Majune Ngayogyakarta).

“Penguatan kelembagaan RT dan RW sangatlah diperlukan. RT dan RW sebagai garda terdepan pemerintahan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat mempunyai peran sangat penting dalam pembangunan, khususnya di wilayah,” ujar Wakil Walikota Yogyakarta, Imam Priyono, saat acara Penguatan Kapasitas RT-RW se-Kecamatan Mergangsan, beberapa waktu lalu.

Acara digelar guna menyinergikan Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), Organisasi Kemasyarakatan, dan Pemerintah Kota Yogyakarta.

Semakin kuatnya kelembagaan, sambung Imam, RT dan RW diharapkan mampu dan berani memperjuangkan aspirasi dan kepentingan masyarakatnya.

“Dengan semakin kuat dan kokohnya kelembagaan RT, RW, dan Organisasi kemasyarakatan diharapkan dapat lebih meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta dapat mengaplikasikan Segoro Amarto,” terang Imam, dirilis Humas Pemkot Yogyakarta.

Ia berharap, RT dan RW mampu menerjemahkan dan mendukung program Pemerintah Kota Yogyakarta serta mampu menerapkannya di wilayah.

“Untuk itu, saya mengajak RT, RW, dan Ormas dapat bersinergi dengan Pemerintah Kota Yogyakarta, di mana muaranya adalah untuk kesejahteraan masyarakat, tetap menjaga kerukunan antar-warga, sehingga Segoro Amarto dapat berjalan dengan baik,” pungkas Imam.

Pentingnya Pranata

Sebelumnya, pemerhati sosial Affrio Sunarno dan Ekonom Ahmad Ma’ruf menegaskan pentingnya pranata dalam dinamika kejogjaan yang semakin hari semakin mengkhawatirkan.

“Hal yang paling penting untuk dipertahankan adalah institusionalisasi atau pranata. Pelembagaan ini tidak selalu dalam bentuk fisik, tapi bisa sosial budaya. Jogja sejak lama memiliki khazanah kemasyarakatan seperti tepo seliro, unggah-ungguh, musyawarah, dan guyub yang harus terus dipertahankan,” terang Ma’ruf kepada Jogja Daily.

Ia mengatakan, human investment merupakan hal penting. Dengan berorientasi pada pembangunan manusianya, Jogja dapat berdiri dengan kakinya sendiri di tengah datangnya gelombang investasi yang ada.

Sementara Affrio menjelaskan, betapa penting tetap menjaga pranata adiluhung yang selama ini menjadi akar dan fondasi sosial budaya Jogja, seperti keguyuban, unggah-ungguh, tepo seliro, atau yang lain. Selanjutnya, dibutuhkan regulasi bersama upaya pelestarian pranata adiluhung tersebut.

“Regulasi dapat berarti vis a vis. Artinya, ia dapat berubah menjadi pihak yang berseberangan dengan investasi karena alasan kemanfaatan umum. Pada sisi lain, regulasi dapat berperan sebagai pengendali efektif yang mengontrol kerja modal agar tidak berbuah kesenjangan atau tata moralitas yang luntur,” jelas Kasubid Litbang Eksosbud Bappeda Kota Yogyakarta ini.