Affrio Sunarno: Reunifikasi Mataram Sebuah Keharusan Sejarah

REUNIFIKASI - Pmerhati masalah kejogjaan, Affrio Sunarno, mengusulkan Reunifikasi Mataram. (Foto: Arif Giyanto)
REUNIFIKASI – Pemerhati masalah kejogjaan, Affrio Sunarno, mengusulkan Reunifikasi Mataram. (Foto: Arif Giyanto)

Umbulharjo, JOGJADAILY ** Merespons dinamika kekinian, Reunifikasi Mataram diusulkan pemerhati masalah kejogjaan, Affrio Sunarno, kepada Jogja Daily, kemarin, Kamis (30/7/2015). Usulan ini dirasa mendesak, karena masifnya investasi dapat mengancam autentisitas Jogja, dalam hal ini budaya Jawa.

“Ekspresi kejawaan beberapa daerah seperti Surakarta, sebagian besar wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta terutama Jogja, sangat bervariasi. Setelah sekian lama, telah saatnya dilakukan Reunifikasi Mataram dengan Jogja sebagai inisiatornya,” ujar Affrio di kantornya.

Ia menjelaskan, reunifikasi yang dimaksud tentu saja dalam koridor kebudayaan yang berimplikasi pada sektor ekonomi dan sosial. Secara budaya, tidak perlu lagi ada sinisme antar-Trah Mataram, apalagi seperti ‘berebut’ Jawa dengan merasa lebih Jawa ketimbang lainnya.

“Jogja telah berhasil menciptakan sumber-sumber ekonomi dari praktik kebudayaan yang dipegangteguhi. Apabila Reunifikasi Mataram dilakukan, berkah ekonomi tersebut dapat lumeber dan meluas hingga ke Surakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur,” terang Kasubid Litbang Eksosbud Bappeda Kota Yogyakarta tersebut.

Lebih dari itu, Affrio menegaskan, membawa Mataram kembali eksis akan memperkuat semua basis budaya Jawa dengan tetap menjadikan Jogja sebagai pusat kebudayaan. Alasannya, eksplorasi dan promosi budaya Jawa di Jogja telah dikenal di seluruh dunia.

“Reunifikasi Mataram adalah sebuah keharusan sejarah. Masifnya investasi yang masuk sangat mengkhawatirkan dapat merusak kejawaan Jogja. Investasi memiliki polanya sendiri, sementara budaya Jawa pun demikian. Sulit dipertemukan,” ucap alumnus Fisipol UGM ini.

Menjawab persoalan itu, sambungnya, Reunifikasi Mataram akan solutif, karena ‘sumur-sumur’ ekonomi dapat didistribusikan lebih luas disesuaikan situasi dan kondisi. Investasi yang masuk ke Jogja dapat dibagi atau bahkan dialihkan ke Trah Mataram lain.

Infrastruktur Utama

Implikasi ekonomis paling urgen dari Reunifikasi Mataram saat ini, lanjut Affrio, adalah membatalkan rencana pembangunan Bandara Internasional Kulon Progo dan mengoptimalkan Bandara Adi Sumarmo di Surakarta.

“Bandara tidak perlu dibangun di Kulon Progo dan Pemerintah Pusat dapat mengoptimalkannya di Solo. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi tidak terkonsentrasi pada Jogja dengan risiko besar, rusaknya peradaban Jawa. Biarkan Jogja tetap setradisional mungkin. Sementara Solo dapat berkembang menjadi kota bisnis yang lebih maju lagi,” ungkapnya.

Ia menambahkan, karena bandara internasional ada di Solo, perlu dibangun jalan khusus yang menghubungkan Jogja dan Solo. Secara simbolis, jalan ini juga mencerminkan reunifikasi, tentang pentingnya eksis bersama sesama Trah Mataram.

“Dapat dibuat jalan khusus Jogja-Solo dengan durasi sekira 45 menit. Jadi, dengan mudah, warga Solo ke Jogja, pun sebaliknya. Termasuk para pengunjung Jogja yang kemudian ke Solo, atau sebaliknya. Bila demikian, pertumbuhan ekonomi dapat terjadi di sepanjang Jogja-Solo,” tutur Affrio.