Apel Jogja Jogo Lebaran 2015, Kesiagaan Pemkot Yogyakarta agar Warga Nyaman Berlebaran

SIAGA - Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, memimpin Apel Jogja Jogo Lebaran 2015 di Jalan Malioboro, Jumat (10/7/2015). (Foto: Coki Anwar)
SIAGA – Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, memimpin Apel Jogja Jogo Lebaran 2015 di Jalan Malioboro, Jumat (10/7/2015). (Foto: Coki Anwar)

Gedong Tengen, JOGJADAILY ** Jumat (10/7/2015) pukul 04.00 sore, tiba-tiba ruas Jalan Malioboro ditutup. Ada apa gerangan? Rupanya, Pemerintah Kota Yogyakarta menggelar Apel Jogja Jogo Lebaran 2015.

Apel yang bertema ‘Menciptakan Keamanan, Ketertiban, dan Kebersihan di Kota Yogyakarta’ ini diikuti oleh sekitar 500 personel, yang terdiri dari beberapa unsur, yakni TNI Kodim 0734, Polresta, Paksi Katon, Parianom, Dinas Ketertiban, Dinas Perhubungan, Satpol PP, Linmas, PMI dan komunitas-komunitas Malioboro. Apel ini dipimpin langsung oleh Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti.

Walikota menyematkan pita kepada perwakilan instansi yang mengikuti apel. Mereka adalah petugas dari Dinas Perhubungan, Dinas Ketertiban, Paksi Katon, Jogoboro, dan Taman Pintar.

Dalam sambutannya, walikota menyampaikan bahwa digelarnya apel di kawasan Malioboro adalah karena di sinilah nanti akan terjadi kepadatan yang luar biasa dalam masa Idul Fitri.

“Untuk itu satuan tugas akan disiagakan agar dapat menciptakan Kota Yogyakarta, terutama kawasan Malioboro yang bersih, aman, dan tertib selama lebaran,” ujarnya.

Ia menambahkan, Satgas akan disiagakan selama 24 jam, mulai H-7 sampai H+7.

Terakhir, Haryadi secara tegas berpesan kepada para pelaku usaha dan juru parkir di Malioboro untuk menerapkan harga dan tarif sebagaimana mestinya, tidak menaikkannya secara semena-mena.

Antisipasi

Sementara itu, salah satu Board of Researcher Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada (Pustral UGM), Hengki Purwoto, mengatakan, menjelang masa mudik Lebaran tahun ini, beberapa antisipasi persoalan musiman perlu dipersiapkan. Pemerintah daerah di lingkup DIY diharapkan concern pada pengawasan transportasi dan logistik untuk menjaga stabilitas kondisi.

“Kalau stakeholders Jakarta berpikir bagaimana mengirimkan orang untuk berlebaran dan mudik ke luar Jakarta, sementara Jogja justru kebanjiran pemudik. Pada saat Lebaran, biasanya Jogja mulai macet di titik-titik tertentu,” tuturnya kepada Jogja Daily, beberapa waktu lalu, di kantornya.

Ia menjelaskan, saat Lebaran, harga-harga kebutuhan juga cenderung naik, dikarenakan belum adanya manajemen logistik yang khusus. Secara sederhana, logistik dapat dipahami sebagai proses mendapatkan barang yang tepat, pada waktu tepat, dengan jumlah tepat, kondisi tepat, serta dengan biaya terjangkau.

“Permintaan barang biasanya naik berkali lipat saat Lebaran, sementara kelogistikan masih seperti biasanya. Misalnya, kebutuhan akan bawang merah naik, tapi jumlah truk pengantar dari Brebes tidak bertambah. Biaya pengiriman menggunakan truk kemudian naik. Harga bawang merah pun naik,” terang Hengki.

Pedagang menaikkan harga barang, sambungnya, karena beberapa sebab. Selain mempertimbangkan biaya produksi, pedagang juga dipengaruhi sistem transportasi dan logistik, juga rantai pasok (supply chain) komoditas.

“Oleh karena itu, pemerintah sebaiknya mulai menginventarisasi kebutuhan publik yang paling dicari saat Lebaran, bukan hanya sembako. Hal tersebut untuk mengantisipasi persoalan musiman yang selama ini belum terurai, seperti kemacetan dan naiknya harga-harga,” pungkas dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM itu.