Harga Sembako Stabil Jelang Lebaran, Pemkot Yogyakarta Diharapkan Tetap Antisipatif

STABIL - TPID Kota Yogyakarta melakukan pantauan harga-harga di Pasar Beringharjo menjelang Lebaran 2015, Kamis (2/7/2015). (Foto: Hanang Widiandhika)
STABIL – TPID Kota Yogyakarta melakukan pantauan harga-harga di Pasar Beringharjo menjelang Lebaran 2015, Kamis (2/7/2015). (Foto: Hanang Widiandhika)

Gondomanan, JOGJADAILY ** Kamis (2/7/2015), Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Yogyakarta melakukan kunjungan ke kios-kios bahan kebutuhan pokok di Pasar Beringharjo, seperti kios penjual beras, telur, daging ayam, daging sapi, serta beberapa kios lain.

Kunjungan tersebut dimaksudkan guna memantau dan memastikan ketersediaan sembako, khususnya jelang Lebaran.

Dari pantauan tersebut, tidak ditemukan kenaikan harga sembako yang signifikan, masih relatif normal. Karena itu, Sekretaris TPID Kota Yogyakarta, Aman Yuriadijaya, berharap agar Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian (Disperindagkoptan) Kota Yogyakarta dan Dinas Pengelolaan Pasar (Dislopas) Kota Yogyakarta untuk terus melakukan pemantauan rutin perihal perkembangan harga dan stok komoditas kebutuhan pokok.

“Pemantauan akan dilakukan secara rutin hingga akhir Lebaran,” tuturnya.

Antisipasi Kenaikan Harga

Secara terpisah, Board of Researcher Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada (Pustral UGM), Hengki Purwoto, mengatakan, saat Lebaran, harga-harga kebutuhan pokok cenderung naik, dikarenakan belum adanya manajemen logistik secara khusus.

“Permintaan barang biasanya naik berkali lipat saat Lebaran, sementara kelogistikan masih seperti biasanya. Misalnya, kebutuhan akan bawang merah naik, tapi jumlah truk pengantar dari Brebes tidak bertambah. Biaya distribusi menggunakan truk kemudian naik. Harga bawang merah pun naik,” terangnya.

Lebih lanjut, dia menambahkan bahwa naiknya harga oleh pedagang dikarenakan beberapa sebab, antara lain pertimbangan biaya produksi, sistem transportasi (distribusi), juga rantai pasok (supply chain) komoditas itu sendiri.

“Oleh karena itu, pemerintah seyogianya mulai menginventarisasi kebutuhan-kebutuhan publik, khususnya mengenai kenaikan harga-harga bahan kebutuhan pokok,” ungkap Hengki.