Menghadirkan Negara di Pelosok Indonesia, KKN-PPM UGM Kirim 6.559 Mahasiswa

SIAP MENGABDI - Pengarahan dan Pelepasan KKN-PPM UGM di Lapangan Grha Sabha Pramana, Selasa (1/7/2015). (Foto: Humas UGM)
SIAP MENGABDI – Pengarahan dan Pelepasan KKN-PPM UGM di Lapangan Grha Sabha Pramana, Selasa (1/7/2015). (Foto: Humas UGM)

Bulaksumur, JOGJADAILY ** Sejumlah 6.559 mahasiswa diterjunkan Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) tahun ini. Mereka disebar ke 27 provinsi dan 106 kabupaten/kota di seluruh pelosok Indonesia selama dua bulan.

“Ada beberapa tim mahasiswa juga ditempatkan di daerah perbatasan, seperti di Entikong Kalimantan Barat dan Atambua NTT. Di Atambua mereka melakukan kegiatan resolusi konflik. Demikian juga di Kalimantan utara serta daerah perbatasan dengan Singapura,” ujar Rektor UGM Prof Dwikorita Karnawati, saat Pengarahan dan Pelepasan di Lapangan Grha Sabha Pramana, Selasa (1/7/2015).

Dirilis Humas UGM, Rektor menjelaskan, KKN-PPM menjadi mata kuliah wajib yang harus diikuti seluruh mahasiswa sebelum lulus. Pemilihan tema program kegiatan tidak dilakukan sembarangan, namun berdasarkan hasil riset.

“Sejak 2006, UGM melakukan KKN-PPM berdasarkan tema, misalnya ada program khusus pemberantasan buta aksara atau mitigasi bencana. Tidak hanya itu, di lokasi KKN yang sama, tema kegiatan bisa dilaksanakan secara berkelanjutan setiap tahun. Semua dilakukan untuk pendalaman agar bisa mengatasi masalah sosial di sana. Tidak cukup hanya dua bulan,” terangnya.

Program Kuliah Kerja Nyata, sambungnya, telah berlangsung sejak 1971.

Para mahasiswa KKN-PPM UGM tahun ini diterjunkan ke Maluku, Maluku utara, Papua, Papua Barat, Sumatera, Kalimantan, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DIY, Sulawesi, Jawa Barat, NTB, NTT, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Banten, Bali, dan Jawa Timur.

Mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan ini tidak hanya berasal dari UGM, juga 24 mahasiswa asing UGM, dan 49 mahasiswa dari luar negeri.

Beberapa Universitas yang mengikutkan mahasiswanya dalam kegiatan ini, di antaranya Universitas Teknologi Malaysia, Hanseo University Korea, Shizuoka University, Aoyama Gakuin University, Ibaraki University, Queensland University, dan Lehig University.

Menghadirkan Negara di Perbatasan

Sementara itu, Dirjen Cipta Karya Kementerian PU dan Perumahan Rakyat, Andreas Suhono, mengatakan, pengiriman mahasiswa KKN- PPM UGM di daerah perbatasan diharapkan bisa memberikan manfaat bagi warga sekitar, karena diharapkan bisa melakukan pengenalan pengetahuan baru dan inovasi teknologi tepat guna.

“Dengan begitu, negara pun bisa hadir di perbatasan dalam keikutsretaan mahasiswa KKN ini,” paparnya.

Menteri Sosial RI Khofifah Indah Parawansa, mengatakan, ada berbagai macam persolan sosial di daerah perbatasan, di antaranya masih adanya kultur anak yang dinikahkan usia dini, bahkan ada yang dinikahkan tanpa dicatatkan resmi ke negara.

“Akhirnya, anak-anak tidak memilki akta kelahiran. Di Indonesia, ada 41 juta anak belum punya akta kelahiran. Salah satunya, akibat perkawinan tidak dicatatkan, sehingga anaknya sulit dapat akta kelahiran,”’ ungkap Khofifah.

Persoalan lain masyarakat perbatasan, kata Mensos, adalah kebingungan dalam hal urusan jual beli dengan wilayah negara tetangga.

“Di Entikong, mereka punya karet yang harga lebih murah, tidak bisa jual ke negara tetangga. Bahkan gula putih lebih mahal ketimbang dengan negeri tetangga. Mereka harus tahu ada regulasi (tata niaga),” tuturnya.

Perbedaan kultur masyarakat perbatasan, lanjutnya, bisa menjadi bahan pembelajaran bagi mahasiswa.

“Hal seperti ini pembelajaran yang luar biasa. Home sick kalian saat pertama datang akan sirna saat mengenali Indonesia yang sesungguhnya dan sungguh luar biasa,” pungkasnya.

Dalam kesempatan sama, Rektor dan Mensos menyaksikan peluncuran program Buku untuk Negeri. Sebanyak 25.520 buku dibagikan gratis ke berbagai lokasi kegiatan KKN-PPM UGM.