Pemberdayaan Purna TKI, BNP2TKI dan Pemkab Kulon Progo Jalin Kerja Sama

PURNA TKI - Melalui usaha gula semut Tiwi Manunggal, purna TKI asal Kokap, Sutriyana, terbilang sukes. (Foto: Tiwi Manunggal Blogspot)
PURNA TKI – Melalui usaha gula semut Tiwi Manunggal, purna TKI asal Kokap, Sutriyana, terbilang sukes. (Foto: Tiwi Manunggal Blogspot)

Wates, JOGJADAILY ** Tenaga Kerja Indonesia (TKI) berpotensi menjadi pengusaha baru, usai pulang bekerja di luar negeri. Beberapa upaya dilakukan pihak terkait untuk melakukan pemberdayaan purna TKI.

“Saya sudah banyak melakukan pembinaan terhadap purna TKI, tetapi saya sangat tertarik dengan Yogyakarta, seperti di Kulon Progo ini, karena menilai karakteristik purna TKI di DIY berbeda. Mereka sangat atraktif. Karakteristik di DIY, beda dengan daerah lain,” ujar Direktur Pemberdayaan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Arini Rahyuwati, saat berkunjung ke Kulon Progo, Kamis (2/7/2015).

Dirilis Pemkab Kulon Progo, bersama Bupati, Wakil Bupati, Kepala Dinsosnakertrans Kulon Progo, BNP2TKI membahas berbagai upaya pemberdayaan terhadap purna TKI.

“Beberapa purna TKI dengan semangat tinggi sukses berusaha. Ada paguyuban purna TKI. Untuk lebih memberdayakan purna TKI yang lain, BNP2TKI bersama DIY dan Pemkab Kulon Progo akan merencanakan workshop pada Selasa (11/8/2015),” tutur Arini.

Ia menjelaskan, sedikit inovasi yang diberikan pihaknya ternyata mampu membuat usaha purna TKI berkembang mandiri. Pembuatan wingko dan sabun detergen adalah contohnya. Meski ia mengakui, masih ada beberapa kesulitan, semisal pemasaran, tetapi ada beberapa yang berhasil.

“Di Jangkaran dilakukan pelatihan pembuatan sabun detergen. Dua bulan sudah mampu produksi 1,5 kuintal detergen ramah lingkungan, dengan pemasaran yang didukung Aisiyah. Di Kulon Progo juga akan dibentuk koperasi untuk mewadahi purna TKI,” ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Kulon Progo, Hasto Wardoyo, mengatakan, ketika berdialog dengan purna TKI, pemikiran dan cara pandang mereka sudah berbeda dengan sebelum bekerja di luar negeri.

“Ternyata learning by doing cukup efektif. Sebetulnya, purna TKI bisa jadi agen perubahan,” ucap Dokter Hasto.

Ia merasa sayang jika hal tersebut tidak diurus. Untuk itu, ia sangat mendukung dan setuju bergandeng tangan memberdayakan purna TKI. Workshop diharapkan dapat menjadi wahana transfer pengetahuan. Setelah workshop, dapat dilanjutkan dengan kegiatan riil pemberdayaan.

“Dalam workshop, masalah entrepreneur sangat perlu ditumbuhkan, dan bagaimana strategi menciptakan pasar atau membidik pasar terlebih dahulu,” pesan Bupati.

Paguyuban Purna TKI

Salah satu purna TKI asal Kokap, Sutriyana, menceritakan, sebelumnya, selama 6 tahun ia menjadi TKI di Malaysia. Melalui usaha Tiwi Manunggal yang bergerak di bidang gula semut, ia terbilang sukses.

“Saat ini sudah menampung 30 orang purna TKI dalam kepengurusan, dan mewadahi anggota petani sebanyak 768 petani,” tutur Sutriyana.

Saat ini, ada dua paguyuban purna TKI di Kulon Progo, yakni Jangkaran Temon dan Kokap.

“Salah satu peran paguyuban antara lain saling barter gula dan beras. Kokap memproduksi gula jawa, tetapi harga beras relatif mahal. Sedangkan di Janggaran, berproduksi beras, tetapi harga gula jawa relatif mahal. Dengan kerja sama ini, masing-masing paguyuban mendapatkan barang berharga relatif lebih murah,” terangnya.

Pardjo dari Disnakertrans DIY memilih Kulon Progo untuk penyelenggaraan workshop karena dirasa punya semangat bagus dan dapat menjadi contoh daerah lain. Paguyuban purna TKI di Kulon Progo dapat saling bersinergi.

Untuk DIY, berdasarkan tenaga resmi yang terdata, Kulon Progo merupakan kabupaen terbanyak kedua penempatan TKI-nya setelah Bantul. Ada 1.200-1.500 yang bekerja di luar negeri. Saat ini, Disnakertrans DIY telah melatih 200 lebih purna TKI. Sebagian besar, bergerak di bidang kuliner.