Purwo Santoso: Paradoksi Sebabkan Jogja Tetap Eksis Sepanjang Masa

AUTENTISITAS JOGJA - Prof Purwo Santoso saat ditemui di kantornya, Fisipol UGM, membahas autentisitas Jogja. (Foto: Arif Giyanto)
AUTENTISITAS JOGJA – Prof Purwo Santoso saat ditemui di kantornya, Fisipol UGM, membahas autentisitas Jogja. (Foto: Arif Giyanto)

Bulaksumur, JOGJADAILY ** Sepanjang masa, Jogja tumbuh berkembang bersama paradoks-paradoks. Autentisitas Jogja dapat berarti sebagai paradoks-paradoks tersebut. Bukti bahwa kontekstualisasi peran menjadi jauh lebih penting daripada cara berpikir linier di Jogja.

“Paradoks bukan berarti konotatif. Paradoks itu lawan dari ironi. Paradoks yang terjadi di Jogja memberi sumbangsih penting bagi tetap eksisnya Jogja dalam zaman apa pun,” ujar Guru Besar Politik dan Ilmu Pemerintahan UGM kepada Jogja Daily, Selasa (30/6/2015), di Fisipol UGM Bulaksumur.

Ia menjelaskan, salah satu paradoks menonjol adalah realitas tentang Jogja yang tidak memiliki sumberdaya alam cukup dibandingkan daerah-daerah di luar Jawa, ternyata mampu membuat warga Jogja semakin kreatif dan eksis sebagai salah satu barometer ekonomi kreatif di Indonesia.

“Kekenyalan terhadap realitas diperankan warga Jogja sebagai bentuk kontekstualisasi yang tidak selalu linier. Penerjemahan tersebut menjadi cara jitu untuk terus langgeng dalam gerak zaman yang semakin dinamis,” terang Purwo.

Kelenturan perkembangan masyarakat, sambungnya, sangat dipengaruhi oleh keberadaan Kraton yang pada kenyataannya merupakan cerminan strategi dakwah Walisongo dengan sentuhan keilmuan dan kebudayaan.

“Jangan pernah lupa, Kraton sejarahnya adalah kerajaan Islam. Walisongo telah berhasil menerjemahkan Islam dalam sudut pandang lokal yang relevan, tanpa mengurangi kaidah dasar keislaman. Kraton dan dakwah Islam Walisongo adalah sebuah kesatuan,” papar Wakil Ketua Pengurus Wilayah NU DIY tersebut.

Menurutnya, Islam, serta lebih khusus, Kraton, dapat diterima dengan mudah sebagai pegangan hidup warga Jogja karena jasa Walisongo dalam mengajarkan cara berpikir kenyal dan lentur, yang kemudian dapat disebut sebagai paradoks.

Ushul (kaidah dasar) itu yang penting. Selama keilmuan ushul dimiliki dan dipahami sebagai alat menjawab realitas maka ekspresi apa pun dapat kontekstual. Seperti orang Jawa bilang, ngono yo ngono ning yo ojo ngono atau kui bener ning durung pener, dan seterusnya,” ucap Purwo.

Menuju Jogja Megapolitan

Kini, Jogja tidak lagi kosmopolitan. Dengan semakin banyaknya pendatang dan membanjirnya investasi, baik asing maupun domestik, Jogja telah tumbuh menjadi kota besar dengan segala persoalan perkotaan yang perlu disegerakan antisipasinya.

“Mengkaji fungsi adalah prioritas. Berdasarkan pengalaman, banyak proyek dijalankan hanya mempertimbangkan faktor supply tanpa penghitungan demand yang cukup. Hasilnya, proyek-proyek tersebut mangkrak tak terurus,” kata Purwo.

Salah satu faktor penting keistimewaan Jogja adalah banyaknya tanah Kraton yang difungsikan sebagai fasilitas publik. Dengan begitu, rakyat merasakan kehadiran Kraton sebagai pengayom dan pemersatu. Feodalitas, lanjut Purwo, dapat diadaptasikan dalam masa demokrasi dan diterima sebagai pengikat, bahkan manunggalnya rakyat dan Kraton.

“Struktur peran seperti ini sebaiknya tidak bergeser. Karena, melepaskan peran Kraton dari rakyat Jogja dengan mengubah pranata yang telah mendarah-daging, akan berakibat serius. Warga Jogja bisa jadi tidak lagi merasakan peran Kraton secara langsung, bila kemanunggalan tersebut rusak atau dirusak,” pungkasnya.