Syawalan 1436 H Pemkot Yogyakarta, Hambangun Kerta Raharja Kutha Yogyakarta

SYAWALAN - Syawalan 1436 H antara Gubernur DIY dengan Pemerintah Kota Yogyakarta digelar di halaman Balaikota Yogyakarta, Jumat (24/7/2015). (Foto: Humas Pemkot Yogyakarta)
SYAWALAN – Syawalan 1436 H antara Gubernur DIY dengan Pemerintah Kota Yogyakarta digelar di halaman Balaikota Yogyakarta, Jumat (24/7/2015). (Foto: Humas Pemkot Yogyakarta)

Umbulharjo, JOGJADAILY ** Jumat (24/7/2015), Syawalan 1436 H antara Gubernur DIY dengan Pemerintah Kota Yogyakarta digelar di halaman Balaikota Yogyakarta. Acara tersebut rutin diadakan setiap bulan Syawal.

Tema yang diambil kali ini adalah ‘Hambangun Kerta Raharja Kutha Yogyakarta’ atau membangun Kota Yogyakarta yang sejahtera, adil, dan makmur.

“Kekhilafan dan kesalahan adalah konsekuensi dari sebuah interaksi sosial. Untuk itu, dari lubuk hati yang paling dalam, kami menghaturkan permohonan maaf yang setulus-tulusnya, dan dengan adanya pemberian maaf akan memperingan langkah kami selanjutnya dalam melaksanakan tugas pelayanan masyarakat,” ujar Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti saat Ikrar Syawalan.

Walikota mewakili segenap jajaran Pemkot Yogyakarta dan Masyarakat Kota Yogyakarta mengucapkan Selamat Idul Fitri dan memohonkan Maaf Lahir Batin kepada Gubernur dan jajaran Pemprov DIY.

Selain Walikota dan Gubernur, hadir pula dalam acara ini Wakil Gubernur DIY, Sri Paduka Paku Alam IX, jajaran Pejabat Pemprov DIY dan Pemkot Yogyakarta, Forkompinda Kota Jogja, DPRD Kota Jogja, Serta segenap Camat, Lurah, Ketua RW dan tokoh masyarakat se-Kota Jogja.

Lima Prinsip Pokok

Sementara itu, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, HB X, mengingatkan segenap jajaran Pemerintah Kota Yogyakarta agar memaknai momentum Idul Fitri untuk menegakkan Lima Prinsip Pokok demi menciptakan sebuah Masyarakat Peradaban yang menandai keistimewaan DIY.

“Kembali ke fitrah sejatinya baru langkah awal untuk menata sebuah konstruksi Masyarakat Peradaban, yang ditegakkan oleh Lima Pilar Perdais. Masyarakat Peradaban setidaknya memuat Lima Prinsip Pokok dalam dimensi kepemimpinan, sosial-budaya, politik, dan hukum,” terang Gubernur.

Dalam bidang kepemimpinan, Gubernur mengingatkan para pemimpin untuk selalu merakyat, sesuai ajaran Wedhatama di mana Senopati berjuang di tengah rakyat.

“Seorang pemimpin layaknya sosok Satriya yang rela melayani, amamangun karyenak tyasing sesama atau menyenangkan hati sesama. Dalam membangun kekuasaan, pemimpin jangan melakukan tapa brata atau menyepi, namun harus tapa ngrame dalam pergulatan di dunia nyata,” ungkap Gubernur.

Dalam bidang sosial-budaya, masyarakat Jogja diharapkan mampu membangun identitas kultural Yogyakarta yang Istimewa di tengah kemajemukan dan tantangan globalisasi.

Di bidang agama, Gubernur berpesan agar pemuka agama dapat mengartikulasikan dakwah dengan arif dan bijak. Sementara untuk bidang politik dan hukum, ditegaskan pentingnya partisipasi politik masyarakat serta penegakan hukum yang adil.

“Dengan tema sentral ukhuwwah basariyah dalam Masyarakat Peradaban seperti itu, saya mengapresasi Syawalan dan Silaturahmi ini,” ucap Gubernur.