26 Negara Bakal Kunjungi Sleman, Pelajari Langsung Ugadi dan Mina Padi

PANEN - Suasana Panen Ugadi di Kumendang, Candibinangun, Pakem, Sabtu (8/8/2015). (Foto: Pemkab Sleman)
PANEN – Suasana Panen Ugadi di Kumendang, Candibinangun, Pakem, Sabtu (8/8/2015). (Foto: Pemkab Sleman)

Pakem, JOGJADAILY ** Udang Galah Padi (Ugadi) dan Ikan Padi (Mina Padi) berhasil menarik perhatian dunia. Belakangan, sejumlah 26 negara berencana datang ke Sleman, untuk belajar langsung Ugadi dan Mina Padi. Sistem Ugadi terbukti meningkatkan kesejahteraan petani.

“Ugadi Sleman telah menjadi percontohan nasional. Bahkan Food and Agriculture Organization (FAO), Lembaga Pangan Dunia pun akan membawa 26 negara di dunia untuk melihat langsung dan belajar tentang budidaya Ugadi serta Mina Padi di Sleman,” ujar Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan DIY, Andung Prihadi Santosa, di Kumendang, Candibinangun, Pakem, Sabtu (8/8/2015).

Dirilis Pemkab Sleman, Andung menyampaikannya di hadapan Irjen Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Justam Siahaan, saat panen Ugadi.

Bergantian, Justam lantas menyampaikan bahwa keberhasilan ketahanan pangan sesungguhnya menjadi faktor utama kuatnya ketahanan negara. Menurutnya, Pemerintah terus memberikan stimulus pendorong kemajuan para petani.

Kendala

Ketua Kelompok Mina Ulam Sari, Slamet Haryanto, mengungkapkan kendala yang dialami, yakni adanya jamur dan belum sinkronnya waktu tanam padi dengan ketersediaan bibit.

“Budidaya udang galah dengan sistim Ugadi telah dilakukan di Kelompok Mina Ulam Asri yang penebaran perdananya telah dilakukan Sabtu, (23/5/2015) oleh beberapa pejabat, baik pusat maupun daerah,” terang Slamet.

Pejabat-pejabat tersebut, yaitu Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman, Widi Sutikno; Kepala Litbang Perikanan Republik Indonesia, Achmad Poernomo; Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan DIY, Andung Prihadi Santosa; serta Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto.

“Keuntungan tanaman padi dengan tanam Sistem Jajar Legowo akan lebih meningkat di samping ongkos produksi bisa ditekan, karena tidak memerlukan pupuk kimia atau urea. Karena, sisa dari makanan udang atau ikan tersebut merupakan pupuk yang sangat baik,” tutur Slamet.

Kelompoknya terdiri dari 36 Pokdakan (Kelompok Pembudidaya Ikan) dan 2 di antaranya Kelompok Pengolah dan Pemasaran dengan luas budidaya Ugadi-Mina Padi 7 ha, terdiri dari 5,23 ha untuk lahan Mina Padi yang dilakukan oleh 12 Pokdakan di 4 desa, dan Ugadi 1,77 ha dilakukan 5 pokdakan di 3 desa.

“Menurut uji coba yang telah dilakukan, kenaikan produksi padi dengan sistem Ugadi tersebut untuk padi tertinggi mencapai 12 ton/ha GKP dan terendah 8,8 ton/ha GKP, sehingga kenaikan produksi mencapai 20 persen dibanding dengan sistem biasa,” ungkapnya.

Di samping kenaikan produksi padi yang meningkat 20 persen, kata Slamet, pendapatan lain berupa udang dengan produksi tertinggi 173 kg dan terendah 152 kg untuk jumlah tebaran 10 ribu ekor udang.