Balai Benih DIY Berhasil Kembangkan 18 Jenis Bibit Unggul Sayuran

KAMPUNG SAYUR - Warga tengah berkebun sayur di RW 05 Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta. (Foto: Kampung Sayur Patehan RW 05)
KAMPUNG SAYUR – Warga tengah berkebun sayur di RW 05 Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta. (Foto: Kampung Sayur Patehan RW 05)

Pakem, JOGJADAILY ** Meningkatnya permintaan pasar akan sayuran mengharuskan kuantitas dan kualitas produk yang juga tinggi. Balai Benih Daerah Istimewa Yogyakarta berhasil mengembangkan 18 jenis bibit unggul jenis sayur-sayuran seperti tomat, sawi, bayam, serta buah-buahan semusim.

“Sampai saat ini, Balai Benih DIY telah mampu menghasilkan 18 jenis bibit unggul baru dan sudah dikembangkan oleh para pengembang atau petani,” ujar Kepala Dinas Pertanian DIY, Sasongko, saat Ekspose Perbenihan DIY tahun 2015 di Balai Benih UPTD Dinas Pertanian di Ngipiksari, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Kamis (20/8/2015), dirilis Humas DIY.

Upaya tersebut, sambungnya, dalam rangka meningkatkan produksi pangan untuk memperkuat Ketahanan Pangan di DIY. Pihaknya telah melakukan berbagai inovasi di bidang perbenihan, baik untuk holtikultura, perikanan, peternakan, serta kehutanan dan perkebunan.

“Ekspose perbenihan ini dilaksanakan bertujuan untuk menyebarluaskan informasi tentang ketersediaan benih unggul bagi masyarakat luas, sehingga warga masyarakat dapat mengembangkannya dengan baik untuk meningkatkan produksi pangan di DIY khususnya, dan di Indonesia, mengingat Balai Benih di Pakem ini, satu-satunya di Indonesia,” terang Sasongko.

Sementara itu, dalam kunjungannya, Wakil Gubernur DIY, Paku Alam IX, menegaskan bahwa ketercukupan bahan pangan yang berkualitas, khususnya sayuran, sangat ditentukan oleh kualitas benihnya.

“Oleh karena itu, ketersediaan benih yang berkualitas juga harus disebarluaskan kepada masyarakat agar warga masyarakat bisa menanamnya,” kata Wakil Gubernur.

Ia berharap, Balai benih DIY meningkatkan inovasi dan kreativitas dalam menemukan benih-benih unggul guna meningkatkan bahan pangan, khususnya hortikultura. Menurutnya, permintaan dan konsumsi hortikultura selalu meningkat setiap tahun.

Perbenihan Mandiri

Kasubdit Benih Hortikultura Ditjen Perbenihan dan Hortikultura Kementerian Pertanian RI, Nur Eva Hayati, menambahkan, regulasi saat ini memberikan angin segar bagi pembenih dan penangkar benih hortikultura.

“Dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2010 tentang Perbenihan Hortikultura yang membatasi Investasi Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar 30 persen di Indonesia, produsen benih Indonesia akan semakin luluasa berinovasi untuk meningkatkan produksinya serta mendukung Perbenihan Mandiri,” ucap Nur Eva.

Di samping itu, lanjut Eva, tersedianya benih dalam negeri akan meningkatkan tingkat konsumsi sayur masyarakat di Indonesia yang selama ini masih pada angka 12 kg per kapita per orang, sementara idealnya 35 kg per kapita per orang.

Tanaman Sayur Hidroponik

Belakangan, marak dikembangkan tanaman sayur hidroponik. Hal tersebut memberi ruang besar bagi pengembangan benih dan sayuran DIY.

Kelompok Wanita Tani Sakinah di Kampung Kauman, Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, misalnya, berhasil mengembangkan tanaman sayur dengan metode hidroponik atau budidaya tanaman tanpa menggunakan tanah, hanya membuat sirkulasi air yang dibantu dengan pupuk.

“Metode ini kami kembangkan dengan menanam sayuran hanya menggunakan air tanpa tanah, dan ternyata cukup berhasil. Kami mencoba membudidayakan tanaman sayuran jenis tomat, cabai, sawi, terong, selada air,” tutur salah satu pemilik lahan, Sutrisno, dirilis Humas Pemkot Yogyakarta.

Ia menjelaskan, pada prinsipnya, tanaman yang menggunakan metode hidroponik berbentuk daun, namun cara instalasi penanamannya sedikit berbeda. Pembudidayaannya cukup mudah dan tidak perlu mengeluarkan modal besar serta lahan yang luas, tergantung keuletan dan ketekunan.