Bank Jogja Sisihkan 20 Persen Kredit Dukung Pengembangan UMKM

PRO-UMKM - Kantor Pusat Bank Jogja. Untuk mendukung pengembangan UMKM, Bank Jogja menyediakan kredit untuk UMKM hingga 20 persen dari total kredit. (Foto: Bank Jogja)
PRO-UMKM – Kantor Pusat Bank Jogja. Untuk mendukung pengembangan UMKM, Bank Jogja menyediakan kredit untuk UMKM hingga 20 persen dari total kredit. (Foto: Bank Jogja)

Mergangsan, JOGJADAILY ** Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Pertanian (Disperindagkoptan) Kota Yogyakarta memfasilitasi bantuan permodalan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan mengganden Bank Jogja dan Bank BPD.

“Bank Jogja menyisihkan 20 persen kreditnya untuk pengembangan usaha UMKM. Dengan demikian, diharapkan pelaku usaha tidak resah dalam melakukan pinjaman terkait usahanya,” ujar Kepala Disperindagkoptan Kota Yogyakarta, Suyana, Focus Group Discussion (FGD) Pelaku Usaha UMKM, di Griya UMKM Jalan Tamansiswa 39, Selasa (25/8/2015).

Ia menjelaskan, UMKM merupakan usaha warga yang mampu menggerakkan sektor perekonomian. Berbagai fasilitas yang bertujuan mengembangkan UMKM di Kota Yogyakarta telah dibuat, baik dalam bentuk fisik maupun non-fisik.

“Fasilitas fisik salah satunya adalah dengan didirikannya XT-Square yang dikelola oleh Disperindagkoptan, di mana di tempat itu digunakan oleh pelaku-pelaku UMKM yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pelaku Usaha UMKM,” terangnya.

Sedangkan fasilitas non-fisik, sambung Suyana, dilaksanakan dengan mengadakan berbagai macam pelatihan, bimbingan teknis (bimtek), penyuluhan, workshop, sosialisasi, dan FGD.

“Terkait fasilitas fisik, dalam hal ini XT-Square, Disperindagkoptan Kota Yogyakarta memberlakukan persyaratan bagi pelaku usaha yang akan menyewa atau menggunakan tempat di XT-Square. Pelaku usaha mengajukan proposal agar terdapat kejelasan tujuan dan dapat dipertanggungjawabkan,” ucap Suyana.

Permasalahan UMKM

Kepala Bidang Pengembangan Sumberdaya UMKM Disperindagkoptan Kota Yogyakarta, Tri Karyadi, memaparkan permasalahan yang dihadapi UMKM.

“Saat ini, permasalahan utama yang dihadapi oleh pelaku usaha adalah permodalan dan pemasaran. Untuk memudahkan pelaku usaha dalam hal permodalan, Pemkot Yogyakarta memfasilitasi pemberian modal bagi pelaku usaha melalui Bank Jogja dan Bank BPD melalui pinjaman kredit lunak bagi UMKM,” ungkap Tri.

Namun, pada kenyataannya, berdasarkan database peminjam permodalan di kedua bank tersebut, justru lebih banyak pelaku usaha dari luar Kota Yogyakarta. Hal ini menguntungkan pelaku usaha di luar Kota Yogyakarta.

Terkait permodalan, beberapa pelaku usaha melakukan pinjaman ke bank dengan bunga lebih ringan. Sebagian pelaku usaha enggan melakukan pinjaman ke perbankan karena telah berkomitmen untuk tidak melakukan pinjaman dengan bank.

“Permasalahan yang kedua adalah mengenai pemasaran. Untuk memfasilitasi pemasaran, Disperindagkoptan Kota Yogyakarta menyediakan suatu tempat di XT-Square bagi pelaku usaha untuk memasarkan produknya. Namun, pada kenyataannya, banyak juga pelaku usaha yang tidak menggunakan fasilitas tersebut. Hal ini dikarenakan para pelaku usaha lebih memilih mencari fasilitas pemasaran yang lain,” kata Tri.

Kabid Pemanfaatan Lahan dan Pengelolaan Retribusi Dinas Pengelolaan Pasar, Wido Sunarko, menambahkan, selain XT-Square, Pemkot Yogyakarta juga memfasilitasi lahan bagi UMKM, yaitu Pasar Beringharjo.

FGD - Focus Group Discussion (FGD) Pelaku Usaha UMKM, di Griya UMKM Jalan Tamansiswa 39, Selasa (25/8/2015). (Foto: Raras Ayu Puspitasari)
FGD – Focus Group Discussion (FGD) Pelaku Usaha UMKM, di Griya UMKM Jalan Tamansiswa 39, Selasa (25/8/2015). (Foto: Raras Ayu Puspitasari)

“Fasilitas ini memang ditujukan untuk pelaku usaha, terutama pelaku usaha yang menjualbelikan produk tradisional. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan bagi UMKM lain juga dapat memanfaatkan fasilitas tersebut,” jelas Wido.

Salah satu pemateri, dosen Fakultas Sospol UGM dan Praktisi UMKM, Hempri Suyatno, mengatakan, selain melalui institusi perbankan perlu dilakukan penguatan dan pembinaan lembaga keuangan mikro lainnya dan juga lembaga koperasi.

“Hal ini diperlukan agar semakin banyak pilihan bagi pelaku usaha dalam usahanya mendanai UMKM. Dengan demikian, diharapkan masalah permodalan dapat teratasi,” katanya.

Motivasi Pengembangan UMKM

Sementara itu, pemateri lain, dosen FMIPA UGM dan pelaku usaha, Ani Setiyowati, mengatakan dalam menjalankan usaha, UMKM memerlukan keberanian dan mengawalinya dari hal-hal kecil.

“Dalam menjalankan usaha tidak terlepas dari persaingan usaha dengan pelaku usaha lain. Oleh sebab itu, dalam rangka tetap menjaga keberlansungannya diperlukan inovasi dari pelaku usaha. Inovasi diperlukan dalam rangka menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda dari yang lainnya. Untuk menciptakan suatu inovasi dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana yang kemudian dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang luar biasa,” tutur Ani.

Dalam menjalankan usaha, lanjutnya, pelaku usaha diharapkan mencermati quality, cost, delivery, safety,dan mental usahanya.

“Setiap pelaku usaha diharapkan memiliki mental yang kuat, terutama dalam menghadapi persaingan antar-pelaku usaha. Keberanian untuk berinovasi, dan juga komitmen untuk dapat bertahan dalam kondisi yang tidak menentu. Dengan mental yang kuat, pelaku usaha akan dapat menjalankan usahanya dengan baik,” pungkasnya.