Berdayakan Masyarakat Perbatasan, 29 Mahasiswa UMY Gelar KKN di Pulau Sebatik

PERDANA - Soft Launching KKN Perbatasan UMY, Senin (10/8/2015), di Lobi Rektorat Gedung AR Fachruddin A lantai 1 Kampus Terpadu UMY. (Foto: Humas UMY)
PERDANA – Soft Launching KKN Perbatasan UMY, Senin (10/8/2015), di Lobi Rektorat Gedung AR Fachruddin A lantai 1 Kampus Terpadu UMY. (Foto: Humas UMY)

Kasihan, JOGJADAILY ** Rabu (12/8/2015), sejumlah 29 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berangkat ke Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara. Mereka turut dalam Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama dua bulan.

“KKN tersebut dilaksanakan untuk membantu menyelesaikan permasalahan soaial yang ada di sana,” ujar Wakil Rektor I UMY, Gunawan Budiyanto, saat menjadi narasumber dalam Jumpa Pers dan Soft Launching KKN Perbatasan, Senin (10/8/2015) di Lobi Rektorat Gedung AR Fachruddin A lantai 1 Kampus Terpadu UMY, seperti dirilis Humas UMY.

Untuk pertama kalinya, UMY menerjunkan mahasiswa didikannya ke salah satu pulau perbatasan Indonesia-Malaysia, tepatnya di Desa Aji Kuning dan Maspul, Nunukan, Kalimantan Utara. KKN mengangkat tema, Pemberdayaan Masyarakat Perbatasan Indonesia-Malaysia (Pulau Sebatik Kalimantan Utara) melalui Program Sinergitas Pendidikan, Ekonomi Kreatif, dan Penguatan Karakter Pemuda Berbasis Moral dan Intelektual.

“Pulau Sebatik memiliki sekitar 360 Ha perkebunan kelapa sawit atau sekitar 60 persen dari lahan yang ada. Potensi lahan tambak di Kecamatan Sebatik adalah 17,41 Ha, sedangkan pada sektor perikanan 15,7 persen masyarakat berprofesi sebagai nelayan dengan produk unggulan ikan teri ambalat,” terang Gunawan.

Selain itu, sambungnya, potensi wisata di Pulau Sebatik cukup berkembang. Setidaknya, ada 6 obyek wisata yang dapat dijadikan sebagai lokasi wisata. Salah satunya, Sungai Taiwan yang memiliki pasir berwarna kuning.

“Namun, sangat disayangkan, sumberdaya alam yang ada begitu melimpah, sementara sumberdaya manusia yang mampu mengolah sangat terbatas, sehingga perekonomian tetap lemah,” katanya.

Menurut Gunawan, permasalahan yang timbul di Pulau Sebatik berkaitan dengan posisi wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Permasalahan yang terjadi seperti nasionalisme, ketergantungan Indonesia terhadap Malaysia, penyelundupan narkoba, penggunaan dua mata uang, dan tidak adanya fasilitas pendidikan bagi anak-anak TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang berada di perbatasan, menyebabkan kasus buta aksara bagi anak-anak TKI meningkat.

“Berdasarkan permasalahan-permasalahan itulah, UMY kemudian mencoba membantu masyarakat setempat untuk mengatasinya melalui program KKN Tematik UMY yang akan dilaksanakan sejak Agustus hingga Oktober 2015,” ucapnya.

Ia menyebutkan, program KKN Pulau Sebatik akan berlanjut hingga 2017, sementara roadmap kegiatan yang akan dijalankan sudah dicanangkan oleh mahasiswa yang menjadi peserta KKN tersebut.

“Tahun 2015 ini ditujukan pada bidang pendidikan nasionalisme dan ekonomi kreatif. Ke depan di tahun 2016 dilanjutkan dengan pendampingan kesehatan dan ekonomi pariwisata, dalam rangka menumbuhkan nasionalisme. Dan tahun 2017 rencananya akan menjadikan Pulau Sebatik tersebut kawasan wisata,” tutur Gunawan.

Ekonomi Kreatif

Koordinator Rombongan KKN Sebatik, Deni Febrian, menjelaskan, program yang akan mereka lakukan ialah pengembangan ekonomi kreatif melalui pelatihan pengolahan pangan basis lokal serta pembuatan aksesoris bertema nasionalisme. Mereka akan melakukan Gerakan Masyarakat Sebatik Melek Ekonomi Pariwisata, pelatihan akuntansi dasar, program giat menabung, dan pelatihan kewirausahaan bagi para TKI.

“Kami juga akan mengadakan pelatihan IT bagi penduduk setempat, karena menurut hasil survei yang sudah kami lakukan sebelumnya, penduduk di sana masih sangat kurang mengerti tentang IT. Selain itu, kami juga akan mengembangan pendidikan di bidang nasionalisme, seni dan budaya terutama bagi anak-anak TKI, serta sosialisasi tentang kesehatan,” kata mahasiswa Hubungan Internasional 2012 tersebut.

Semua kegiatan, lanjut Deni, dipusatkan di Rumah Bakti Negeri; sebuah bangunan fisik yang bisa berfungsi sebagai pusat produksi, koperasi, dan tempat belajar bagi anak-anak Sebatik.

Ketua Lembaga Pengembangan, Publikasi, dan Penerbitan, serta Pengabdian Masyarakat (LP3M), Hilman Latief, yang membawahi langsung program KKN UMY menyatakan, terselenggaranya KKN Sebatik tidak terlepas dari semangat mahasiswa yang ingin memecahkan permasalahan di daerah perbatasan.

“Kami sangat bersyukur karena Kementerian Sosial ikut mendukung kegiatan KKN ini. Mereka juga sudah menghubungkan dengan Dinas Sosial setempat, agar kegiatan KKN ini bisa didukung penuh juga oleh Dinas Sosial setempat,” kata Hilman.

Hilman menambahkan, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) merupakan dosen lapangan yang sangat kompeten, yakni Gunawan Budiyanto dan Ahmad Ma’ruf.