Candi-candi, Situs Bersejarah Cerminan Kemuliaan dan Peneguhan Jatidiri

JATIDIRI - Kompleks Candi Prambanan saat hari libur. Candi dapat menjadi sarana penting mengeksplorasi peradaban lalu. (Foto: Arif Giyanto)
JATIDIRI – Kompleks Candi Prambanan saat hari libur. Candi dapat menjadi sarana penting mengeksplorasi peradaban lalu. (Foto: Arif Giyanto)

Depok, JOGJADAILY ** Sejak lama, bertebaran candi di Nusantara, termasuk di Pulau Jawa, khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Candi-candi tersebut mencerminkan kemuliaan dan peneguhan jatidiri generasi terdahulu.

“Ada pemahaman mendalam tentang kenyataan sosio-budaya para pelaku ruang dalam kawasan pusat Situs Majapahit, Trowulan,” ujar Dosen Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang, Wara Indira Rukmi, saat memperoleh derajat doktor dalam bidang ilmu teknik Program Studi Teknik Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Rabu (26/8/2015), seperti dirilis Humas UGM.

Ia menjelaskan, konsep-konsep substantif mengenai ruang membangun kemuliaan dan ruang peneguhan jati diri dirumuskan dari pemaknaan terhadap fenomena-fenomena, seperti ruang palinggihan, ruang sumber kekuatan supranatural, ruang mendapat pawisik, ruang golek urip, ruang penyucian, ruang pakilingan, ruang nyawiji, ruang perjumpaan keragaman spiritual, dan ruang peneguhan jati diri.

Dalam disertasi berjudul ‘Ruang Kemuliaan: Konstruksi Gerak Meruang dalam Kawasan Pusat Situs Majapahit Trowulan’, Wara Indira Rukmi mengatakan bahwa keyakinan religius, kepercayaan, dan orientasi nilai di masyarakat kawasan Pusat Situs Majapahit Trowulan telah menjadi ruh sekaligus energi dalam menciptakan, tak hanya ruang baru, namun juga kemuliaan ‘diri’ pelaku ruang di kawasan bersejarah tersebut.

Dosen Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang, Wara Indira Rukmi. (Foto: Humas UGM)
Dosen Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang, Wara Indira Rukmi. (Foto: Humas UGM)

“Kawasan pusat Situs Majapahit secara historis telah mengalami pluralisme sekaligus relativisme. Keunikan karakter setiap ruang sesuai dengan pluralitas yang terjadi seperti spiritual, sosial-budaya, dan ekonomi,” terangnya.

Pemanfaatan sekaligus penataan ruang di pusat situs Majapahit, sambungnya, menunjukkan pergeseran pandangan dan gaya hidup penghuni dan penggunanya. Bisa dikatakan, ruang kawasan pusat situs Majapahit Trowulan dipahami sebagai rajutan simbol artefak dan interaksi sosial yang maknanya dihasilkan oleh proses yang melibatkan pandangan dan kepentingan banyak pihak.

Pemugaran Candi

Studi Dosen Fakultas Teknik Arsitektur Al-Baa’th University Suriah, Abdul Rahman Hamdoun, melengkapi penelitian Indira. Ia mengatakan, apabila terjadi proses pemugaran candi, perlu dilakukan dialog arsitektur dan arkeologi, dimulai dengan mengembangkan informasi ilmiah mengenai pengaruh yang ditimbulkan akibat proses pemugaran terhadap nilai masing-masing.

“Sejauh manakah proses pelaksanaan pemugaran bangunan candi mempengaruhi nilai arsitektur dan arkeologi? Nilai-nilai arsitektur dan arkeologi manakah yang paling terpengaruh dari proses pelaksanaan pemugaran bengunan candi? Tahapan pemugaran apakah yang mempunyai pengaruh besar terhadap nilai arsitektur dan nilai arkeologi?” tutur Abdul Rahman saat mempertahanakan disertasi ‘Pengaruh Pemugaran terhadap Nilai-Nilai Arsitektur dan Arkeologi Bangunan Candi Berbahan Batu’, di KPTU FT UGM, Kamis (27/8/2015).

Dosen Fakultas Teknik Arsitektur Al-Baa'th University Suriah, Abdul Rahman Hamdoun. (Foto: Humas UGM)
Dosen Fakultas Teknik Arsitektur Al-Baa’th University Suriah, Abdul Rahman Hamdoun. (Foto: Humas UGM)

Menurutnya, pemugaran peninggalan budaya dalam bentuk candi menunjukkan bahwa ilmu yang erat hubungannya dengan bangunan candi selain arkeologi adalah arsitektur. Seiring perkembangan proses pembangunan dan persoalan-persoalannya, arsitektur dan arkeologi serta bidang studi lain yang berkaitan perlu mendialogkan pengalaman teoretis dan praktis untuk menjamin keberlanjutan candi.

“Dengan menggunakan paradigma penelitian yang rasionalistis, metode penelitian kuantitatif dan deskriptif, hasil penelitian memperlihatkan bila proses pemugaran bangunan candi lebih banyak berpengaruh terhadap nilai arsitektur dari pada nilai arkeologi. Nilai arsitektur yang paling berpengaruh oleh proses pemugaran adalah nilai estetika, sedangkan nilai arkeologi yang paling berpengaruh yaitu nilai perkuatan struktur,” simpulnya.

Ia menambahkan, nilai arsitektur yang paling terpengaruh oleh proses pemugaran adalah nilai estetika, khususnya terkait bentuk dan susunan. Nilai arsitektur lain yang ikut terpengaruh dan menduduki peringkat dua adalah nilai struktur, stabilitas, dan kekuatan. Sementara nilai arsitektur yang paling sedikit terpengaruh adalah nilai fungsi.