Gandeng Harvard Medical School, UGM Rintis Penguatan Sistem Layanan Kesehatan Jiwa

KURANGI SKIZOFRENIA - Koordinator Program Penguatan Sistem Layanan Kesehatan Jiwa DIY, Prof Subandi, Senin (10/8/2015). (Foto: Humas UGM)
KURANGI SKIZOFRENIA – Koordinator Program Penguatan Sistem Layanan Kesehatan Jiwa DIY, Prof Subandi, Senin (10/8/2015). (Foto: Humas UGM)

Depok, JOGJADAILY ** Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menduduki peringkat pertama di Indonesia sebagai daerah yang memiliki penyandang gangguan jiwa berat (skizofrenia). Menurut Data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, sekitar 16 ribu orang hidup dengan skizofrenia. Prevalensi skizofrenia-nya sebesar 4,6 per 1000 penduduk.

“Data tersebut mengindikasikan sistem pendataan kesehatan di DIY sudah berjalan dengan baik, sehingga mendeteksi jumlah penderita pasien gangguan jiwa,” ujar Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Subandi, dirilis Humas UGM.

Ia menjelaskan, beberapa faktor yang menyebabkan seseorang terkena gangguan jiwa, mereka tidak mampu menyikapi dan mengatasi persoalan hidup dengan baik. Banyak persoalan dan perubahan sosial dan ekonomi di tengah masyarakat apabila tidak disikapi dengan baik berisiko menimbulkan gangguan jiwa.

“Untuk mencegah gangguan jiwa, seseorang perlu memperkuat diri menghadapi setiap persoalan baik pribadi, keluarga, kantor, dan di masyarakat. Kehidupan kita akan selalu menghadapi semua itu. Namun, bagaimana menyikapi persoalan itu tidak membebani kita, tapi sebaliknya memperkuat pribadi kita,” terangnya.

UGM bekerja sama dengan Harvard Medical School tengah mengembangkan Program Penguatan Layanan Kesehatan Jiwa berbasis kearifan budaya, melibatkan ribuan kader kesehatan jiwa (Keswa) yang tersebar di lima lokasi Puskesmas se-DIY, yakni Puskesmas Kalasan Sleman, Puskesmas Kasihan 2 Bantul, Puskesmas Galur 2 Kulonprogo, Puskesmas Wonosari 2 Gunung Kidul, dan Puskesmas Kota Gede 1 Kota Yogyakarta.

“Penguatan Sistem Layanan Kesehatan Jiwa yang berbasis Puskesmas ini sebagai rintisan awal untuk menanggulangi para penyandang gangguan jiwa,” tutur Prof Subandi sebagai Koordinator Program.

Untuk menyelesaikan masalah kesehatan gangguan jiwa di DIY, pihaknya bekerja sama dengan berbagai profesi, di antaranya psikiater, psikolog, dokter, perawat, kader, dan keluarga. Untuk penguatan kader Keswa, ia melibatkan kader kesehatan di lima puskesmas yang dipilih.

“Setiap puskesmas ini memiliki puluhan kader di setiap dusun yang akan dilatih untuk mendeteksi dan menangangi pasien yang memiliki gejala gangguan jiwa. Para kader ini bisa membantu para psikiater, dokter, dan psikolog yang amat terbatas, sehingga penanganan kesehatan gangguan jiwa ini bisa terintegrasi dengan masyarakat,” ucap Subandi.

Selama satu bulan, sambungnya, para kader Keswa akan dilatih untuk memahami perilaku pasien gangguan jiwa, mengetahui gejala yang tampak, metode penanganan, dan pemberian pertolongan pertama pada pasien gangguan jiwa.

Kearifan Lokal Bantu Kesembuhan Gangguan Jiwa

Kepala Bagian Psikiatri Fakultas Psikologi UGM, Mahar Agusni, mengatakan, masyarakat harus ambil bagian dalam layanan kesehatan pasien gangguan jiwa dan tidak sepenuhnya menyerahkannya kepada pemerintah.

“Apalagi pasien setelah sembuh harusnya dikembalikan ke masyarakat; bukan ditinggal di Rumah Sakit Jiwa,” ungkapnya.

Berdasarkan hasil penelitian, lanjutnya, tingkat kesembuhan pasien gangguan jiwa di Negara Berkembang jauh lebih baik dibandingkan dengan Negara Maju, meski Negara Maju memiliki fasilitas dan sistem layanan kesehatan yang relatif lebih baik. Negara Berkembang memiliki karakteristik dan budaya kearifan lokal yang mendukung tingkat kesembuhan.

“Ada variabel karakteristik masyarakat kita dan budaya kearifan lokal. Terkadang, kita sering berpikir (pengananan kesehatan) dengan cara Barat, tapi yang dihadapi pasien dengan cara berpikir dan berperilaku orang Timur,” kata Mahar.

Ia mencontohkan, kebiasaan menjenguk pasien di rumah sakit atau berkunjung ke rumah tetangga yang sedang sakit bisa mendorong tingkat kesembuhan seseorang.

“Masyarakat kita memperhatikan kerabatnya yang sakit dengan membawa buah tangan atau pun bantuan berupa uang,” terangnya.

Meski begitu, tambahnya, ia menilai, pasien yang pernah mengalami gangguan jiwa justru sering mengalami stigmatisasi di tengah masyarakat.

“Kita mudah memberikan label sakit jiwa, padahal label itu susah dihapus di sepanjang hidup si pasien. Tidak heran banyak keluarga pasien lebih memilih datang ke dukun karena ada destigmatisasi. Dukun akan mengatakan hanya kena ‘guna-guna’,” pungkasnya.