Gladhen Karya Sastra Jawa, Upaya Dinas Kebudayaan DIY Lahirkan Penulis Sastra Jawa

GLADHEN - Pemateri dari Balai Bahasa DIY, Sri Haryatmo (kiri), dan Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Bidang Nilai Budaya, Dinas Kebudayaan DIY, Dwiyanto Budi Utomo, saat Gladhen Karya Sastra Jawa di Hotel Museum Batik, Rabu (19/8/2015). (Foto: Arif Giyanto)
GLADHEN – Pemateri dari Balai Bahasa DIY, Sri Haryatmo (kiri), dan Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Bidang Nilai Budaya, Dinas Kebudayaan DIY, Dwiyanto Budi Utomo (kanan), saat Gladhen Karya Sastra Jawa di Hotel Museum Batik, Rabu (19/8/2015). (Foto: Arif Giyanto)

Danurejan, JOGJADAILY ** Untuk mempertahankan kebudayaan Jawa, sastra Jawa menjadi faktor penting. Sementara sastra Jawa ditentukan oleh kepenulisan sastra Jawa. Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta berkomitmen penuh melahirkan penulis sastra Jawa dengan program pelatihan khusus.

“Namanya Gladhen Karya Sastra Jawa. Untuk mengadakan Gladhen, sebelumnya kami mengundang partisipasi penulis sastra Jawa, kemudian menggelar pelatihan penulisan Sastra Jawa, lalu dilombakan,” ujar Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Bidang Nilai Budaya, Dinas Kebudayaan DIY, Dwiyanto Budi Utomo, kepada Jogja Daily, saat Gladhen Karya Sastra Jawa di Hotel Museum Batik, Rabu (19/8/2015).

Gladhen kali ini digelar dua hari, Rabu-Kamis (19-20/8/2015), menghadirkan narasumber kompeten, seperti Guru Besar Pendidikan Bahasa Jawa pada Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Prof Suwardi Endraswara dan Sri Haryatmo dari Balai Bahasa DIY.

Prof Suwardi menyampaikan materi ‘Nulis Cerpen, Geguritan, lan Macapat’, sementara Sri Haryatmo memaparkan materi ‘Guru Kudu Bisa Nulis Basa Jawa’.

“Dalam khazanah budaya Jawa, salah satu kekayaan yang hingga kini masih dapat kita nikmati adalah ragam seni suara dalam bentuk tembang atau lagu. Menurut sejarahnya, tembang dalam budaya Jawa terbagi menjadi beberapa bagian seturut dengan zaman kemunculannya,” jelas Prof Suwardi.

Macam-macam tembang Jawa tradisional tersebut adalah Sekar Kakawin, Sekar Ageng, Sekar Tengahan, Sekar Macapat, Tembang Dolanan Gagrag Lawas dan Enggal. Dalam perkembangnya, menurut Prof Suwardi, khazanah tembang semakin beragam dengan munculnya tembang-tembang baru sesuai masuknya aneka genre musik yang sedikit banyak turut memperkaya keberadaan tembang Jawa.

Keharusan Guru Bisa Menulis Bahasa Jawa

Sementara itu, Sri Haryatmo, mengemukakan persoalan krusial kekinian bahwa tidak semua guru, khususnya guru Bahasa Jawa dapat menulis Bahasa Jawa dengan baik. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan penulisan Sastra Jawa.

“Guru sebaiknya menggumuli teks kehidupan, nggegilut donyaning panguripan. Teks kehidupan dapat berwujud teks yang sudah ditulis dalam buku bacaan dan media massa. Bisa juga dalam wujud teks yang bisa dilihat dan didengarkan, seperti radio, televisi, film, drama, karya seni, dan lainnya,” ucap Sri Haryatmo.

Bahkan, sambungnya, teks kehidupan dapat dipahami melalui kejadian sehari-hari. Dari semua itu, ide menulis dapat ditemukan. Proses kreatif pun dapat dimulai selanjutnya.

“Hal yang tidak kalah pentingnya adalah memperbaiki bahasa. Memperhatikan kalimat, cara merakit kalimat, ejaan, dan lainnya, merupakan hal penting dalam penulisan sastra Jawa,” pungkasnya.