Muhammad Jadul Maula: Pesantren adalah Pilar Identitas Yogyakarta

MANUNGGAL - Budayawan Yogyakarta, Muhammad Jadul Maula, saat ditemui di kediamannya, Ponpes Kaliopak. Menurutnya, Kraton dan Pesantren tidak dapat dipisahkan perannya, dalam membangun identitas Jogja. (Foto: Arif Giyanto)
MANUNGGAL – Budayawan Yogyakarta, Muhammad Jadul Maula, saat ditemui di kediamannya, Ponpes Kaliopak. Menurutnya, Kraton dan Pesantren tidak dapat dipisahkan perannya, dalam membangun identitas Jogja. (Foto: Arif Giyanto)

Piyungan, JOGJADAILY ** Selain Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, pesantren merupakan pilar identitas Yogyakarta. Sejak dahulu, Kraton dan Pondok-Pondok Pesantren berkolaborasi membangun generasi penerus yang berkualitas.

“Pesantren mulai jarang disebut sebagai pilar penting identitas kejogjaan. Padahal, sejarahnya, pesantren berkontribusi besar pada pendidikan keagamaan Islam di Yogyakarta, sejak dahulu. Tidak memasukkan pesantren sebagai ikon kejogjaan, berarti ahistoris,” ujar budayawan Jogja, Muhammad Jadul Maula kepada Jogja Daily, di kediamannya, beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, struktur kelembagaan Kraton dan Pesantren tidaklah jauh berbeda. Meski demikian, perbedaan tampak mencolok pada Kraton yang diorientasikan pada ketatanegaraan, sementara Pesantren yang concern pada pendidikan.

“Istilah Santri dan Cantrik dapat menjadi permisalan, tentang kedekatan Kraton dan Pesantren. Penekanannya, kalau Kraton juga mengajarkan keahlian memainkan senjata untuk pengembangan militer serta seni tari untuk seremonial acara resmi. Hal-hal tersebut tidak begitu diprioritaskan dalam Pondok Pesantren,” ungkap Jadul.

Menurutnya, Kraton Yogyakarta merupakan representasi dakwah Islam, terutama para Walisongo. Para ulama kala itu menjadikan kraton sebagai basis pengembangan kebudayaan, untuk menyebarluaskan ajaran Islam.

“Memisahkan Kraton dan Pesantren dapat berarti melupakan sejarah berdiri dan tumbuhnya Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Kedekatan keduanya tampak dari upaya mempertahankan kearifan lokal, hingga kini,” terang Pengasuh Pondok Pesantren Kaliopak, Klenggotan, Piyungan, tersebut.

Jadul menegaskan, Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan anak biologis dan ideologis raja-raja Islam terdahulu, yaitu Kerajaan Pajang dan Demak. Oleh karena itu, eksistensinya harus dipertahankan.

Reunifikasi Mataram

Pada waktu dan tempat berbeda, Reunifikasi Mataram diusulkan pemerhati masalah kejogjaan, Affrio Sunarno. Usulan ini dirasa mendesak, karena masifnya investasi dapat mengancam autentisitas Jogja, dalam hal ini budaya Jawa.

“Ekspresi kejawaan beberapa daerah seperti Surakarta, sebagian besar wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta terutama Jogja, sangat bervariasi. Setelah sekian lama, telah saatnya dilakukan Reunifikasi Mataram dengan Jogja sebagai inisiatornya,” ucap Affrio.

Reunifikasi yang dimaksud, sambungnya, tentu saja dalam koridor kebudayaan yang berimplikasi pada sektor ekonomi dan sosial. Secara budaya, tidak perlu lagi ada sinisme antar-Trah Mataram, apalagi seperti ‘berebut’ Jawa dengan merasa lebih Jawa ketimbang lainnya.

“Jogja telah berhasil menciptakan sumber-sumber ekonomi dari praktik kebudayaan yang dipegangteguhi. Apabila Reunifikasi Mataram dilakukan, berkah ekonomi tersebut dapat lumeber dan meluas hingga ke Surakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur,” tutur Kasubid Litbang Eksosbud Bappeda Kota Yogyakarta tersebut.

Lebih dari itu, Affrio menegaskan, membawa Mataram kembali eksis akan memperkuat semua basis budaya Jawa dengan tetap menjadikan Jogja sebagai pusat kebudayaan. Alasannya, eksplorasi dan promosi budaya Jawa di Jogja telah dikenal di seluruh dunia.

“Reunifikasi Mataram adalah sebuah keharusan sejarah. Masifnya investasi yang masuk sangat mengkhawatirkan dapat merusak kejawaan Jogja. Investasi memiliki polanya sendiri, sementara budaya Jawa pun demikian. Sulit dipertemukan,” jelas alumnus Fisipol UGM ini.

Menjawab persoalan itu, sambungnya, Reunifikasi Mataram akan solutif, karena ‘sumur-sumur’ ekonomi dapat didistribusikan lebih luas disesuaikan situasi dan kondisi. Investasi yang masuk ke Jogja dapat dibagi atau bahkan dialihkan ke Trah Mataram lain.