Negarakertagama, Acuan Keistimewaan Tata Ruang Kota Yogyakarta

POROS - Masjid Pathok Negara. Penanda keistimewaan Yogyakarta dalam tataran konsep adalah struktur poros monumental Tugu-Kraton-Panggung Krapyak dan Struktur Mandala Masjid Pathok Negara, kemudian pola ruang kampung-kampung prajurit Kraton. (Foto: Wikimapia)
POROS – Masjid Pathok Negara. Penanda keistimewaan Yogyakarta dalam tataran konsep adalah struktur poros monumental Tugu-Kraton-Panggung Krapyak dan Struktur Mandala Masjid Pathok Negara, kemudian pola ruang kampung-kampung prajurit Kraton. (Foto: Wikimapia)

Depok, JOGJADAILY ** Keistimewaan Yogyakarta berdasarkan akar sejarah dan budaya, termasuk tata kota. Induk tata ruang keistimewaan Yogyakarta adalah teks dalam Negarakertagama.

“Dalam pupuh-pupuh di buku Negarakertagama tersebut diuraikan tata ruang Majapahit sebagai kota tertua,” ujar Dosen Teknik Arsitektur dan Perencanaan Universitas Gadjah Mada, Suryanto, dalam ujian terbuka promosi doktor di Fakultas Teknik, Jumat (28/8/2015), dirilis Humas UGM.

Ia menjelaskan, penanda keistimewaan Yogyakarta dalam tataran konsep adalah struktur poros monumental Tugu-Kraton-Panggung Krapyak dan Struktur Mandala Masjid Pathok Negara, kemudian pola ruang kampung-kampung prajurit Kraton. Sementara keistimewaan tata ruang dalam praktik, diwujudkan dalam Kawasan Jeron Beteng.

“Keistimewaan tata ruang kota Yogyakarta adalah warisan berharga dari Pangeran Mangkubumi. Bahkan semua prnsip pembangunan kota yang berkonsep budaya Jawa telah diwujudkan di Kota Yogyakarta,” tuturnya.

Menurut Suryanto, cara pembangunan Kota Yogyakarta adalah kota berbasis budaya. Ia berkesimpulan, tata ruang kota Yogyakarta adalah mahakarya Hamengku Buwono I.

“Tidak ada raja Jawa yang mempunyai kemampuan sebanding dengan beliau dalam membangun kota,” terang Suryanto.

Landasan Sejarah dan Budaya

Penelitian yang ia lakukan terkait keistimewaan tata ruang Yogyakarta menemukan bahwa ketentuan mengenai penataan ruang dalam Undang-Undang No. 13/2012 tidak cukup sebagai acuan dalam pengaturan keistimewaan tata ruang kota Yogyakarta.

“Konsep keistimewaan tata ruang kota Yogyakarta saat ini tidak jelas,” tegasnya.

Dalam dasa warsa terakhir, sambungnya, Kota Yogyakarta menghadapi permasalahan dilematis dengan maraknya pembangunan hotel berbintang dan pusat perbelanjaan di penjuru kota. Pada satu sisi, fenomena tersebut mendorong pertumbuhan investasi daerah. Namun, di sisi lain, dinilai telah menggerus indeks kenyamanan hidup Kota Yogyakarta.

“Konflik tersebut bahkan berujung pada kekhawatiran hilangnya keistimewaan Yogyakarta. Pasalnya, pembangunan kota tidak lagi berlandaskan pada acuan sejarah dan budaya, namun dari sisi ekonomi semata,” kata Suryanto.

Konsep pembangunan Kota Yogyakarta saat ini, tambahnya, justru dikembangkan melalui pengetahuan modern berbasis Negara Barat. Ia berpendapat, apabila sejarah dan budaya menjadi haluan pembangunan maka keistimewaan Yogyakarta akan tetap lestari.

“Tapi jika ekonomi menjadi haluan, selamat tinggal keistimewaan. Semua itu kembali ke rakyat Mataram sendiri; mau atau tidak,” pungkasnya.