Penataan Alun-alun Utara, Tri ‘Kelik’ Hastono: Mari Jaga Kenyamanan Wisata Kota Yogyakarta

JAGA KENYAMANAN - Kepala Bagian Humas Pemerintah Kota Yogyakarta, Tri 'Kelik' Hastono, mengajak warga untuk terus menjaga kenyamanan wisata. (Foto: Arif Giyanto)
JAGA KENYAMANAN – Kepala Bagian Humas Pemerintah Kota Yogyakarta, Tri ‘Kelik’ Hastono, mengajak warga untuk terus menjaga kenyamanan wisata. (Foto: Arif Giyanto)

Umbulharjo, JOGJADAILY ** Penataan Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta oleh Pemerintah Kota Yogyakarta mendapatkan reaksi bermacam dari berbagai pihak. Kepala Bagian Humas Pemerintah Kota Yogyakarta, Tri ‘Kelik’ Hastono, mengajak warga untuk terus menjaga kenyamanan wisata.

“Alun-alun Utara adalah lokus kebudayaan yang berbuah lokus ekonomi. Prioritasnya tentu saja pada kebudayaannya terlebih dahulu, karena menjadi daya tarik wisatawan. Meski tidak mengabaikan lokus ekonomi yang terus berkembang di sekitarnya,” ujar Kelik di kantornya, kepada Jogja Daily, beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, penataan juga dimaksudkan untuk memberi kenyamanan warga sekitar. Mereka dapat kembali merasakan suasana kampung halaman yang tertata rapi.

“Selain itu, penataan Alun-alun Utara dilakukan untuk menjalankan perintah Gubernur DIY, HB X, menata kawasan heritage, yakni Kawasan Kraton, Pakualaman, Malioboro, Kotagede, dan Kotabaru,” terang Kelik.

Menurut Kelik, penataan akan terus berlanjut. Titik strategis yang membutuhkan penanganan menyeluruh adalah Kawasan Jalan Malioboro. Karena, kawasan favorit wisatawan, baik domestik maupun luar negeri tersebut, bukan hanya jalan temu, tapi juga merupakan jalan utama.

“Menata Malioboro berkaitan erat dengan sistem transportasi perkotaan terintegrasi. Tidak dapat dilihat dari satu sudut saja. Misal, menanggapi usul tentang Malioboro bebas kendaraan bermotor, berkaitan erat dengan pengaturan transportasi wisata, saat masuk, saat berwisata, dan saat keluar wisata,” terang alumnus UGM tersebut.

Penataan Kawasan Malioboro, sambungnya, harus memperhatikan aspek sosial-ekonomi lebih dalam. Karena, bukan hal mudah memindah aktivitas ekonomi yang sekian lama telah dikenal dunia itu. Kelik bahkan mengusulkan, mulai dibahas intens tentang transportasi massal yang jauh lebih baik dari sekarang.

“Kalau kita lihat, bus kota di Jogja itu sepi penumpang bukan karena kompetisi, tapi karena semakin banyaknya warga yang memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi, baik mobil atau sepeda motor. Karena transportasi massal belum bisa memenuhi preferensi warga Jogja yang terus meningkat mobilitasnya,” ucapnya.

Heritage dan Komersialisasi

Dalam kesempatan berbeda, peneliti dari Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada (Pustral UGM), Joewono Soemardjito, berpendapat tentang pentingnya mempertahankan citra heritage, di tengah kesan komersialisasi kota.

“Menurut angle urban physical, lingkungan fisik kota semestinya perlu dilindungi dari aktivitas yang dapat mereduksi wajah kota itu sendiri, meskipun pada titik yang sama, dia adalah sumber ekonomi, atau sebut saja, PAD bagi daerah,” terangnya.

Ia menyayangkan, bila wajah Jogja yang memiliki nilai heritage menjadi kabur, dan malahan tidak kelihatan lagi, berubah menjadi kota yang penuh dengan komersialisasi.