Serat Alam Rami, Solusi Material Komposit Galangan Kapal Pengganti Serat Sintetis

GALANGAN - Sebuah galangan kapal di kawasan industri Batam. Inovasi maritim terus dibutuhkan untuk memperkuat industri maritim nasional. (Foto: Kementerian BUMN)
GALANGAN – Sebuah galangan kapal di kawasan industri Batam. Inovasi maritim terus dibutuhkan untuk memperkuat industri maritim nasional. (Foto: Kementerian BUMN)

Mlati, JOGJADAILY ** Ada informasi menarik seputar inovasi maritim. Kali ini diluncurkan Dosen Fakultas Teknik Jurusan Teknik Mesin Universitas Hasanuddin, Zulkifli Djafar, dalam ujian terbuka promosi doktor di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Kamis (20/8/2015).

Menurutnya, solusi alternatif untuk menggantikan impor serat sintetis sebagai bahan komposit industri galangan kapal adalah memanfaatkan serat alam rami (Boehmeria Nivea). Tanaman ini memiliki kandungan serat tinggi.

Penggunaan material komposit serat rami di lingkungan air laut, khususnya untuk industri kapal bisa dimanfaatkan di masa mendatang, sehingga bisa memberdayakan potensi alam dan tenaga kerja lokal dengan mengembangkan tenunan serat rami sebagai material galangan kapal.

“Saat ini, pemanfaatan serat alam rami hanya sebatas sebagai material dasar pembuatan pakaian dan kertas. Serat rami potensial sebagai bahan komposit untuk lambung kapal dengan memanfaatkan material komposit tenunan serat rami yang memilili kemampuan terhadap sifat mekanis dan degradasi akibat lingkungan air laut,” ujar Zulkifli.

Serat rami, menurutnya, memiliki sifat hidrofilik, sehingga mudah mengalami pembesaran pada ukuran serta jika terendam dalam waktu lama. Air akan mengisi celah-celah serat akibat ikatan kimia dalam molekul selulosa serat.

Dosen Fakultas Teknik Jurusan Teknik Mesin Universitas Hasanuddin, Zulkifli Djafar. (Foto: Humas UGM)
Dosen Fakultas Teknik Jurusan Teknik Mesin Universitas Hasanuddin, Zulkifli Djafar. (Foto: Humas UGM)

“Ikatan yang kuat antara serat dan matrik merupakan faktor yang sangat penting bagi serat rami untuk bahan komposit,” pungkasnya, dirilis Humas UGM.

Telah Digunakan Sejak Lama

Ribuan tahun lalu, material komposit telah dipergunakan dengan memanfaatkan serat alam sebagai penguat. Dinding bangunan tua di Mesir yang telah berumur lebih dari 3000 tahun ternyata terbuat dari tanah liat yang diperkuat jerami.

Namun pada perkembangan selanjutnya, serat alam ditinggalkan oleh penggunanya karena dianggap tidak layak secara teknis, dan telah ditemukannya material baru yang lebih tangguh dan kuat, yaitu berbagai macam logam dan panduannya.

“Harus diakui bahwa logam dan panduannya mempunyai peran yang sangat besar terhadap perkembangan berbagai industri hingga saat ini. Namun kelemahannya, ia merupakan massa jenis yang tinggi, sehingga kekuatan dan kekakuan spesifiknya relatif rendah,” terang Prof Jamasri.

Seiring pesatnya perkembangan teknologi plastik, sejak 1990-an, teknologi komposit bermatrik polimer mengalami perkembangan cukup pesat dan pertumbuhan itu mencapai sekitar 3,8 persen pertahun. Bahkan pada dasawarsa terakhir, kecenderungan perkembangan material komposit bergeser pada penggunaan kembali serat alam (back to nature) sebagai pengganti serat sintetis.

“Hal ini didukung oleh beberapa keunggulan yang dimiliki oleh serat alam, di antaranya adalah massa jenisnya yang rendah, terbarukan, produksi memerlukan energi yang rendah, proses lebih ramah, serta mempunyai sifat insulasi panas dan akustik yang baik,” tutur Direktur Eksekutif PHK A3 Program studi Teknik Mesin FT UGM 2005-2006 tersebut.

Serat alam rami (Boehmeria Nivea). (Foto: hkflora.com)
Serat alam rami (Boehmeria Nivea). (Foto: hkflora.com)

Penggunaan kembali serat alam, lanjut Prof Jamasri, dipicu oleh regulasi tentang persyaratan habis pakai (end of life) produk komponen otomotif bagi negara-negara Uni Eropa dan sebagian Asia. Sejak 2006, negara-negara Uni Eropa telah mendaur ulang 80 persen komponen otomotif, dan akan meningkat menjadi 85 persen pada tahun 2015.

“Asia, khususnya di Jepang, sekitar 88 persen komponen otomotif telah di daur ulang pada 2005 dan akan meningkat menjadi 95 persen pada 2015,” ucapnya.

Ia mengungkapkan, PT INKA Madiun telah mengaplikasikan komposit, baik serat sintetis maupun serat alam sebagai komponen gerbang kereta api. Substitusi panel baja dengan panel komposit itu mencapai 60 persen.

“Komposit serat alam memiliki prospek yang sangat baik untuk dikembangkan di Indonesia. Karena mayoritas tanaman penghasil serat alam dapat dibudidayakan di negeri ini, misalnya serat kenaf, rami, rosella, dan nanas-nanasan,” harapnya.