Syaiful Huda: Pengembangan Potensi Lokal adalah Peluang Bisnis Menjanjikan

LOKAL POTENSIAL - Konsultan bisnis, Syaiful Huda, dalam sebuah pelatihan. Ia concern pada pengembangan bisnis lokal Jogja. (Foto: Akun Facebook Syaiful Huda)
LOKAL POTENSIAL – Konsultan bisnis, Syaiful Huda, dalam sebuah pelatihan. Ia concern pada pengembangan bisnis lokal Jogja. (Foto: Akun Facebook Syaiful Huda)

Kotagede, JOGJADAILY ** Kompleksitas zaman informasi mengharuskan inovasi bisnis yang terus relevan. Pengembangan potensi lokal ternyata merupakan peluang bisnis menjanjikan. Terutama Jogja, daerah dengan segudang pelaku bisnis kreatif.

“Jogja ini menarik. Masyarakatnya kreatif. Tinggal bagaimana kita bisa mengolah potensi yang ada menjadi bisnis menjanjikan. Petani dapat sejahtera bila disertai inovasi dan perlindungan. Desa wisata dapat berkembang bila dikreasi sedemikian rupa mewakili autentisitas Jogja,” ujar praktisi bisnis, Syaiful Huda, kepada Jogja Daily, di kantornya beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, kebutuhan publik akan barang dan jasa akan terus bertumbuh. Asalkan masyarakat lokal dapat terus saling dukung, kebutuhan tersebut dapat dipenuhi sendiri. Meminimalisasi bahkan menghilangkan ketergantungan adalah strategi jitu bertahan, meski krisis global terjadi.

“Selama ini, barang produksi orang kita yang bagus, malah diekspor, sementara yang kualitas rendah menjadi konsumsi kita. Ya wajar kalau SDM kita kalah bersaing. Asupannya saja asal-asalan. Sekarang, harus kita bikin terbalik. Untuk kualitas barang bagus, anak-anak kita yang konsumsi,” terang alumnus Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta tersebut.

Huda bercerita tentang inovasinya bersama jaringan, mengembangkan pertanian organik. Menurutnya, kualitas beras yang berkualitas, selain dikonsumsi sendiri, akan dapat dijual karena mampu bersaing. Kini pasar beras organik bahkan mulai mendunia. Pasalnya, konsumen semakin menginginkan produk higienis dan bebas pestisida.

“Misal yang lain adalah mengembangkan desa wisata. Sekarang, sudah tidak zamannya lagi desain futuristik. Orang merindukan zaman dahulu. Zaman di mana kita bisa rileks tanpa suasana dinamis yang memusingkan. Jadi, konsep desa wisata yang prospek adalah desa wisata yang bisa menghadirkan keaslian Jogja,” tutur CEO PT Marva Global Indonesia ini.

Lebih dari itu, Huda juga menyoroti perlindungan usaha rakyat, mulai dari regulasi hingga pemasaran. Karena secara alamiah, kompetisi bisnis melahirkan dominasi modal besar dan meminggirkan pelaku bisnis kecil.

“Legalitas, perpajakan, pendampingan, perlindungan usaha, dukungan, hingga ke pemasaran, sebaiknya dikawal pemerintah dengan melibatkan pelaku usaha. Ditambah kebersatuan masyarakat, distribusi pendapatan akan dapat diupayakan lebih merata. Karena, kalau tidak dikawal, pebisnis besar akan dominan,” ucapnya.

Peran Koperasi

Pengorganisasian bisnis berbasis masyarakat yang selama ini diabaikan, sambung Huda, adalah koperasi. Meski ia mengakui terjadinya penyimpangan karena koperasi identik dengan penguasaan beberapa orang, tapi bukan berarti koperasi lantas ditinggalkan.

“Kita harus kembalikan peran koperasi sebagai fondasi perekonomian rakyat. Tidak seperti sekarang, koperasi hanya dikuasai beberapa orang pengurusnya. Inovasi perkoperasian sangat dibutuhkan saat ini. Misalnya, dengan mendorong kepemilikan saham semua warga atas koperasi. Jadi, kepemilikan warga atas koperasi sangatlah tinggi,” jelas Huda.

Ia menambahkan, berjamaah dalam berbisnis sangatlah penting. Dengan terus berbagi ilmu dan saling dukung, bukan mustahil, kesejahteraan bersama dapat diraih.