Albicia Hamzah: Reunifikasi Mataram dapat Dimaknai sebagai Kolaborasi

KOLABORASI - Praktisi promosi daerah, Albicia Hamzah, menyambut baik usulan Reunifikasi Mataram. (Foto: Surakarta Daily)
KOLABORASI – Praktisi promosi daerah, Albicia Hamzah, menyambut baik usulan Reunifikasi Mataram. (Foto: Surakarta Daily)

Kota Solo, JOGJADAILY ** Merespons situasi Jogja kekinian, Reunifikasi Mataram menjadi salah satu isu menarik. Sebagian kalangan menilai, citra keistimewaan telah waktunya meluber ke Wangsa Mataram lain. Bukan hanya Jogja, Jawa Tengah dan Jawa Timur, merupakan basis besar Peradaban Jawa yang juga istimewa.

“Reunifikasi Mataram dapat dimaknai sebagai kolaborasi. Bahwa sentralisasi, apa pun itu, tidak lagi relevan. Jogja sebagai basis kebudayaan Jawa berhasil mengembangkan diri menjadi destinasi wisata favorit di dunia. Sementara basis Jawa tidak hanya di Jogja, tapi juga Jawa Tengah dan Jawa Timur,” ujar praktisi promosi daerah, Albicia Hamzah, Jumat (18/9/2015), di Griya Truntum, Purwosari, Kota Solo.

Ia menjelaskan, kolaborasi yang dimaksud dapat dipandang dari berbagai sudut. Seperti diketahui, sejarahnya, Jogja dan Kota Solo tidak dapat dipisahkan. Napak tilas tersebut dapat menjadi sumber kreasi wisata baru dan studi filosofi Jawa lebih komprehensif.

“Misalnya, ekspose tentang Kraton Kartasura hampir tidak lagi dilakukan. Padahal, setelah Mataram berpindah dari Kotagede ke Kartasura, ada banyak kejadian besar yang dapat menjadi pelajaran. Perlawanan Trunojoyo adalah mozaik sejarah yang luar biasa dan dapat menjadi konsumsi generasi sekarang, dalam dan luar negeri,” terang Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sondakan ini.

Selain sejarah, bangunan-bangunan bersejarah yang bertebaran di Jawa Tengah dan Jawa Timur dapat menjadi daya dukung kolaborasi yang strategis. Albi mencontohkan, berbagai petilasan dapat kembali dirawat untuk membangkitkan substansi kesejarahan Mataram.

“Pasujudan, tempat semedi, masjid, senjata, dan berbagai macam peninggalan Mataram, tentu saja tidak hanya ada di Jogja. Realitas kesejarahan ini kemudian dapat diramu ulang menjadi komoditas penguat citra kebudayaan Jawa yang istimewa,” papar laki-laki kelahiran Tirtomoyo Wonogiri itu.

Ada lagi yang menurut Albi sangat penting. Muasal Mataram menjadi daya tarik tersendiri. Bila dikelola dengan tepat, berkah kemataraman dapat menghidupkan kembali eksistensi beberapa daerah selain Jogja.

“Mataram kan dari Pajang. Pajang sebelumnya ada Demak. Belum lagi, mozaik sejarah Arya Penangsang di Blora. Dibandingkan Jogja dan Solo, Demak dan Blora tentu saja seperti tidak berbanding sama. Nah, Reunifikasi Mataram mampu mengangkat Demak dan Blora menjadi daerah bersejarah yang layak dikunjungi,” pungkas Albi.

Urgensi Reunifikasi Mataram

Reunifikasi Mataram diusulkan pemerhati masalah kejogjaan yang sehari-hari bekerja sebagai Kasubid Litbang Eksosbud Bappeda Kota Yogyakarta, Affrio Sunarno. Usulan ini dirasa mendesak, karena masifnya investasi dirasa dapat mengancam autentisitas Jogja, dalam hal ini budaya Jawa.

Reunifikasi yang dimaksud, dalam koridor kebudayaan yang berimplikasi pada sektor ekonomi dan sosial. Secara budaya, tidak perlu lagi ada sinisme antar-Trah Mataram, apalagi seperti ‘berebut’ Jawa dengan merasa lebih Jawa ketimbang lainnya.

Sementara itu, Direktur Pandiva Strategic, Danang Munandar, mengatakan, berkah keistimewaan saatnya dirasakan oleh Wangsa Mataram lain.

“Boleh dibilang, Jogja adalah ibu kota Jawa, terutama dalam hal budaya. Segala hal terkait Jawa ada di Jogja, sehingga Jogja terasa lebih istimewa. Ini juga merupakan hal positif bagi perkembangan budaya Jawa. Namun, alangkah lebih baiknya manakala hal itu juga dirasakan oleh daearah lain, sehingga kesatuan entitas Jawa nyata adanya tanpa mengesampingkan kebhinnekaan Indonesia,” tutur Danang.

Ia berpendapat, Mataram yang sarat dengan entitas Jawa akan ikut menjabarkan konsep memayu hayuning bawana sebagai filosofi atau nilai luhur kehidupan dari kebudayaan Jawa.

“Isu Reunifikasi Mataram akan berdampak pada menguatnya budaya Jawa di beberapa daerah yang dulunya bagian dari wilayah kerajaan Mataram yang itu mencakup wilayah DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Daerah tersebut secara kesukuan termasuk etnis Jawa,” ucapnya.