Berbatasan dengan Laut, Konsumsi Ikan Masyarakat DIY Masih Rendah

SANDAR - Perahu-perahu nelayan tampak berjejer di Pantai Depok Bantul. Pada waktu-waktu tertentu, pantai ini penuh transaksi jual beli ikan laut. (Foto: Arif Giyanto)
SANDAR – Perahu-perahu nelayan tampak berjejer di Pantai Depok Bantul. Pada waktu-waktu tertentu, pantai ini penuh transaksi jual beli ikan laut. (Foto: Arif Giyanto)

Gedongtengen, JOGJADAILY ** Meski berbatasan dengan Samudera Hindia, atau biasa disebut Laut Pantai Selatan, konsumsi ikan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta hingga 2015, masih menunjukkan presentase paling rendah di Indonesia.

“Selama ini, Yogyakarta punya produksi ikan tuna tinggi di wilayah Pantai Selatan Jawa, akan tetapi kebanyakan malah diekspor ke luar negeri, yakni Jepang dan didistribusikan ke Bali,” ujar Plt Direktur Sistem Logistik Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Muhammad Zaini, saat Festival Perikanan 2015 di sepanjang Jalan Margo Utomo sisi timur, Minggu (27/9/2015).

Namun, sambungnya, saat ini, peraturan daerah telah memastikan bahwa produksi ikan di Yogyakarta harus diprioritaskan untuk masyarakat Yogyakarta sendiri.

Ia menjelaskan, tahun ini, tingkat konsumsi ikan masyarakat Indonesia masih rendah, yakni hanya 35 kilogram per kapita. Sebagai perbandingan, saat ini, konsumsi ikan warga Malaysia sebesar 55 kilogram per kapita.

“Kondisi inilah yang menyebabkan rendahnya IQ masyarakat Indonesia dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya. IQ rata-rata warga Indonesia masih di bawah rata-rata negara ASEAN. IQ rata-rata Indonesia hanya sama dengan Laos dan Kamboja,” ungkap Zaini.

Menurutnya, ketersediaan ikan bukan menjadi faktor rendahnya konsumsi ikan. Karena, produksi ikan nasional cukup bagus, mengingat 2/3 wilayah Indonesia adalah lautan.

“Konsumsi ikan masyarakat Yogyakarta ternyata juga masih menduduki peringkat terendah dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia,” tutur Zaini.

Tiada Hari Tanpa Makan Ikan

Dalam sambutannya, Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti menyampaikan bahwa konsumsi ikan masyarakat Kota Yogyakarta harus terus ditingkatkan.

“Saat ini, ikan dapat diolah menjadi bermacam-macam makanan. Ikan dapat dimanipulasi agar lebih nikmat dimakan. Harga ikan pun relatif terjangkau,” ucap Walikota.

Jadi, lanjutnya, tidak ada alasan untuk tidak mengkonsumsi ikan, karena ikan mempunyai banyak kandungan gizi. Tingkat konsumsi ikan perlu terus didorong, karena ikan tidak hanya sebagai sumber protein, tetapi juga mengandung lemak, vitamin, dan mineral yang sangat baik bagi tubuh.

“Kita ingin SDM Indonesia berkualitas. Dengan masyarakat yang tingkat konsumsi ikannya tinggi, kita bisa menjadi bangsa yang sehat dan tangguh. Untuk itulah, mari kita tanamkan di diri kita, semboyan Tiada Hari Tanpa Makan Ikan,” pungkasnya.

Dalam kesempatan ini, dilakukan pemecahan Rekor MURI untuk kategori makan gudeg lauk ikan tuna dengan peserta terbanyak. Lebih dari 2000 orang mengantre untuk mendapatkan paket gudeg tuna yang disiapkan panitia. Dicatat oleh MURI, 2115 porsi gudeg tuna tersebut ludes diserbu pengunjung, tidak sampai 15 menit.