Danang Munandar: Saatnya Keistimewaan Jogja Terdistribusi ke Wangsa Mataram Lain

MATARAM BERSATU - Konsultan kebijakan publik, Danang Munandar, mendukung isu Reunifikasi Mataram. (Foto: Pandiva Strategic)
MATARAM BERSATU – Konsultan kebijakan publik, Danang Munandar, mendukung isu Reunifikasi Mataram. (Foto: Pandiva Strategic)

Godean, JOGJADAILY ** Keistimewaan Jogja tak diragukan lagi, karena konsistensi pelestarian budaya Jawa. Kini, berkah keistimewaan saatnya dirasakan oleh Wangsa Mataram lain di luar Jogja, seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur.

“Boleh dibilang, Jogja adalah ibu kota Jawa, terutama dalam hal budaya. Segala hal terkait Jawa ada di Jogja, sehingga Jogja terasa lebih istimewa. Ini juga merupakan hal positif bagi perkembangan budaya Jawa. Namun, alangkah lebih baiknya manakala hal itu juga dirasakan oleh daearah lain, sehingga kesatuan entitas Jawa nyata adanya tanpa mengesampingkan kebhinnekaan Indonesia,” ujar Direktur Pandiva Strategic, Danang Munandar, Selasa (1/9/2015), di kantornya.

Jogja sebagai pusat budaya Jawa, sambungnya, mengingat Jogja merupakan kotapraja atau ibu kota kerajaan Jawa bernama Mataram, tepatnya di Kotagede.

“Kalau kita berbicara Mataram maka kita juga berbicara tentang Jogja. Sebagai pusat pemerintahan kerajaan waktu itu, Kotagede dan sekitarnya yang mencakup kota Jogja, peradabannya lebih tinggi, mengingat segala aspek, baik itu politik, angkatan perang, pendidikan, hukum, dan budaya terpusat di sini. Terlebih sebagai pemerintahan yang bersifat monarki,” kata konsultan kebijakan publik tersebut.

Danang menjelaskan, akhirnya Jogja menjadi pilar peradaban Jawa yang lebih maju dibandingkan daerah lain, bawahan Mataram. Potret Jawa lantas menjadi lebih kentara di Jogja dibandingkan daerah lain.

Merespons isu Reunifikasi Mataram, Danang berpendapat, Mataram yang sarat dengan entitas Jawa akan ikut menjabarkan konsep memayu hayuning bawana sebagai filosofi atau nilai luhur kehidupan dari kebudayaan Jawa.

“Isu Reunifikasi Mataram akan berdampak pada menguatnya budaya Jawa di beberapa daerah yang dulunya bagian dari wilayah kerajaan Mataram yang itu mencakup wilayah DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Daerah tersebut secara kesukuan termasuk etnis Jawa,” pungkasnya.

Urgen

Reunifikasi Mataram diusulkan pemerhati masalah kejogjaan, Affrio Sunarno. Usulan ini dirasa mendesak, karena masifnya investasi dirasa dapat mengancam autentisitas Jogja, dalam hal ini budaya Jawa.

“Ekspresi kejawaan beberapa daerah seperti Surakarta, sebagian besar wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta terutama Jogja, sangat bervariasi. Setelah sekian lama, telah saatnya dilakukan Reunifikasi Mataram dengan Jogja sebagai inisiatornya,” ucap Affrio.

Reunifikasi yang dimaksud, sambungnya, tentu saja dalam koridor kebudayaan yang berimplikasi pada sektor ekonomi dan sosial. Secara budaya, tidak perlu lagi ada sinisme antar-Trah Mataram, apalagi seperti ‘berebut’ Jawa dengan merasa lebih Jawa ketimbang lainnya.

“Jogja telah berhasil menciptakan sumber-sumber ekonomi dari praktik kebudayaan yang dipegangteguhi. Apabila Reunifikasi Mataram dilakukan, berkah ekonomi tersebut dapat lumeber dan meluas hingga ke Surakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur,” tutur Kasubid Litbang Eksosbud Bappeda Kota Yogyakarta tersebut.

Lebih dari itu, Affrio menegaskan, membawa Mataram kembali eksis akan memperkuat semua basis budaya Jawa dengan tetap menjadikan Jogja sebagai pusat kebudayaan. Alasannya, eksplorasi dan promosi budaya Jawa di Jogja telah dikenal di seluruh dunia.

“Reunifikasi Mataram adalah sebuah keharusan sejarah. Masifnya investasi yang masuk sangat mengkhawatirkan dapat merusak kejawaan Jogja. Investasi memiliki polanya sendiri, sementara budaya Jawa pun demikian. Sulit dipertemukan,” jelas alumnus Fisipol UGM ini.

Menjawab persoalan itu, sambungnya, Reunifikasi Mataram akan solutif, karena ‘sumur-sumur’ ekonomi dapat didistribusikan lebih luas disesuaikan situasi dan kondisi. Investasi yang masuk ke Jogja dapat dibagi atau bahkan dialihkan ke Trah Mataram lain.